Kamis, 21 November 2013

Sayembara Menulis Novel

Just info, buat para pemburu lomba menulis :) Wish you a good luck, then!


SAYEMBARA MENULIS NOVEL THRILLER
TEMA:
Berdasarkan permasalahan hukum atau kasus hukum yang terjadi di Indonesia, dengan memasukkan para praktisi hukum (pengacara, polisi, jaksa, hakim, ahli forensik, penyelidik swasta) atau korban, terdakwa, tersangka, terpidana, sebagai bagian dari tokoh dalam cerita. Kisah yang disajikan bisa tentang investigasi kasus, proses peradilan, penyelidikan forensik, membongkar sindikat kejahatan, atau pola kerja pelaku kejahatan. Ide utama cerita haruslah berdasarkan fakta yang benar-benar terjadi, dengan argumentasi dan pemaparan bukti yang logis. Alur yang digunakan disesuaikan dengan tingkat ketegangan cerita.

KETENTUAN:
Tebal naskah 100-150 halaman A4, diketik dengan font Times New Roman 12, spasi satu.
Disertai sinopsis naskah dan identitas lengkap penulis (nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, alamat, email, nomor telepon, blog/website/akun social media)
Naskah adalah karya orisinal penulis, belum pernah diterbitkan oleh penerbit lain, belum pernah dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lainnya, belum pernah dipublikasikan di media apa pun.
File naskah diberi judul dengan format: sayembara-judul-nama penulis, contoh: Sayembara-Tangan Kelima-Christian Armantyo.
Naskah dikirim melalui email ke: redaksi@visimediapustaka.com dengan subject: Sayembara Novel Thriller.
Tiga karya terbaik akan diterbitkan dan mendapatkan paket buku.

INFORMASI: Website: www.visimediapustaka.com
Email: redaksi@visimediapustaka.com
Facebook: Visimedia Pustaka
Twitter: @buku_visimedia

Sayembara di mulai tanggal 11 November sampai 9 Desember 2013, pengumuman pemenang dua minggu setelah lomba berakhir di website visimediapustaka.com.

Kamis, 11 April 2013

Selamat Senja, Rumah Lama




Ah, rasanya sudah lama tak menyapa rumah maya ini, juga tak menjejalinya dengan postingan baru. Sibukkah saya? Atau barangkali tersilap jalan? Sebenarnya, tidak. Saya hanya berperilaku layaknya pengunjung asing, sekadar blogwalking dan kembali melanjutkan perjalanan. Saya belum menemukan nyali itu lagi, nyali untuk angkuh menulis apa saja di sini, nyali untuk abai dengan pendapat orang lain, layaknya blogger pada masa awal dahulu, ingatkah kita?

Membongkari arsip lama ternyata seru juga. Menerbitkan senyum dan gelak tawa. Delapan tahun lalu, saat terseret kawan-kawan blogger dan mulai membuka akun, euforia perempuan muda yang baru lulus dari perguruan tinggi penuh nilai filosofis, bergaya layaknya penantang dunia dan penebar teori-teori yang nyaris absurd. Anehnya, masa itu membahagiakan! Rata-rata kita tidak disibukkan dengan akun-akun yang bertebaran dan kerap salah kata kunci, kita cuma punya rumah ini saja. Kita bertaruh malam dengan mengukir sebanyak mungkin jejak perjalanan ke rumah-rumah maya lainnya. Kita membeli waktu untuk mempercantik rumah dengan segala perabot cuma-cuma. Kita seolah menjadi pemilik dunia kita sendiri. Barangkali, ada pula yang terpapar degup-degup dunia maya, bertemu pasangan hati yang berujung benang merah.

Saya aquarian yang sangat pisces, saya terlalu angkuh untuk menjadi kembar. Perlahan, rumah maya ini pun saya tinggalkan. Iming-iming traffic dan segala rupa pundi-pundi entah mengapa tak juga membuat saya tergerak pulang. Sampai pada suatu ketika, saya menyadari bahwa jemari saya berkali memintas jalan kembali.

Dan, di sinilah saya, menata kalimat demi kalimat, di ruang yang sama. Segala sesuatunya mungkin tak lagi sama seperti bertahun lalu. Saya merajah titik umur dengan angka tiga di hadapan. Saya tak lagi pandai mengobral teori, menghasut kata dengan segala akal konspirasi,merangkai fiksi yang penuh misteri entah apa. Kata-kata saya beroleh usia. Semoga saja rumah lama saya ini tetap bisa mengenali. Saya masih absurd, saya masih perenjana mimpi, saya masih penebar kata-kata. Saya hanya tak lagi sanggup mengepalkan tangan ke angkasa dengan orasi-orasi masa muda lampau. Saya memilih mengepalkan hati untuk diri saya sendiri.

Senja sudah turun, bintang tak sabar untuk mengerjapi kedua mata saya. Mari, menikmati malam.



~esfand

Kamis, 06 September 2012

woman self defense workshop




Anyone?

Rabu, 09 Mei 2012

My Latest Book

Sudah tersedia di Gramedia dan toko buku lain :)

Kamis, 22 Maret 2012

Persimpangan




“Seribu jalan memutar itu dibuat dengan satu tujuan, menghindari kenyataan.” ~Anonim



“Halo, kamu lewat mana, sih, kok lama banget nggak balik-balik?”
“Iya, Kak, bentar lagi sampai, kok.”
“Memang tadi lewat mana?”
“Udah ya, Kak, jalan lagi ramai.”
“Oke, hati-hati.”

Kalau dihitung-hitung, ini sudah kelima kalinya Ara menampakkan kebiasaan barunya. Biasanya, setiap kali aku menyuruhnya pergi berbelanja kebutuhan tak terduga untuk kafe kecil kami, tak lebih dari setengah jam kemudian Ara sudah menyorongkan tas belanja daur ulang berwarna biru itu, penuh dengan barang-barang pesananku. Itu dulu, lima hari belakangan ini entah mengapa jam tangan kami sepertinya tidak sinkron lagi, Ripcurl miliknya setengah jam lebih lama dibanding Elle merahku.

Pada mulanya, aku tidak terlalu memperhatikan perbedaan itu. Tapi, hari ini ketika barang yang kuminta untuk dibeli itu benar-benar mendesak untuk segera sampai di hadapanku, aku baru menyadari jika waktu belanja Ara menjadi setengah jam lebih lama dari biasanya. Apakah hal ini sebegitu penting untuk dicari tahu alasannya? Untuk sementara, kuanggap tidak.
***

Sore ini suasana kafe kecil kami cukup padat, hampir semua meja sudah terisi. Meskipun tidak terletak di jalan utama,kafe kami sudah cukup dikenal oleh kaum muda kota ini. Racikan teh dan kopi menjadi menu utama yang membuat jumlah pelanggan setia kami semakin bertambah. Selain aneka kue buatan sendiri dan makanan berat sederhana lainnya. Aku sengaja meletakkan van-kithcen, yang menjadi ikon utama kafe kami, tepat di pelataran depan. Aroma sosis kedelai buatan sendiri yang digoreng di atas lembaran plat besi panas mirip teppan, menguar harum bersama bawang bombai tumis yang berwarna cokelat karamel.

Pembeli boleh memilih sendiri, apakah sosis panas itu akan dimakan bersama roti gandum segar yang dipanaskan sekilas di atas teppan, atau dimakan bersama kombinasi telur ceplok setengah matang, nasi merah, wortel rebus, dan taburan lobak kering. Margarin yang terpapar panasnya wajan, membuat aroma setiap bahan yang ditumis merajalela hingga ke jalan besar dekat kafe. Konon, menurut pelanggan baru, wangi masakan dari van itulah yang membuat mereka ngotot mampir dan mencicipi.

Entah mengapa, ekspresi bahagia sekaligus terkesiap dari pelanggan yang memegangi bungkusan kertas berisi roti dan sosis panas, atau tampang lega seorang pelanggan setelah meneguk banyak-banyak segelas es teh mint segar racikan Ara.

Pesanan baru belum lagi datang, ekor mataku menelusur perlahan, mencari sosok adik perempuanku itu yang tiba-tiba saja lenyap dari van. Ah, rupanya ia sedang duduk sendiri di bangku taman yang ada di kebun bunga kecil di samping kafe. Aku semakin merasa keanehan Ara akhir-akhir ini. Raut wajahnya seperti langit yang berusaha mempertahankan berkas sinar mentari, meski mendung sisa hujan tetap tak mau pergi. Ia berusaha tetap teduh ceria, tapi nuansa sendu tetap bisa terbaca. Apa yang sebenarnya terjadi? Masalah temankah? Atau Kekasih? Setahuku, Ara belum punya seseorang yang dipanggilnya kekasih.

Sejak orangtua kami meninggal beberapa tahun silam, kami berdua akhirnya membuka kafe ini sebagai ladang nafkah utama. Berbekal resep-resep keluarga warisan nenek dan bunda, yang untungnya dulu ditulis bunda dengan rajin dalam buku catatan tebalnya, dengan nekat tanpa pengalaman kami menjalankan kafe ini. Imajinasi kami berdualah yang membuat resep-resep tua itu menjadi bernuansa retro.

“VINARA”, nama kafe kami. Akronim dari dua kata panggilanku dan Ara. Awalnya, banyak yang sangsi, apa bisa sepasang kakak-adik yang dua-duanya sama-sama perempuan bisa bangkit dan menghidupi dirinya dari kafe semacam ini? Nyatanya? Kami bisa menyelesaikan kuliah dan menghidupi diri dari kafe.

Celaka! Aku hampir lupa kalau persediaan susu segar sudah menipis, padahal ini Sabtu sore, yang berarti kafe akan semakin padat hingga jam tutup nanti. Seperti biasa, ini tugas Ara.

“Ra, Ara. Ara!”
Olala, apa sebenarnya yang anak ini lamunkan, sampai-sampai aku harus menaikkan nada satu oktaf begini.
“Iya, iya, kak. Kenapa?”
“Ck..ck..ck, ngelamuunn..,terus. Ada apa, sih?”
“Ah, ga ada apa-apa, kok. Ada yang abis?”
“Susu segar, kamu beli yah, untuk stok hari ini aja, 10 botol.”
“Oke.”
***

Hemm, kemana Ara? Ini bukan lagi telat namanya. Sudah lebih dari tiga jam pergi. Jarak toko susu segar langganan kami bisa dijangkau dalam waktu 30 menit. Oke, 1 jam jika melihat kebiasaan Ara akhir-akhir ini. Tapi ini sudah lebih dari tiga jam! Aku tidak bisa meneleponnya karena ia tadi membiarkan HP-nya tergeletak begitu saja di meja dalam van. Untung saja Dira, tetangga sebelah rumah kami, bisa aku “berdayakan” dadakan untuk membantu melayani pengunjung kafe.

Menjelang Maghrib, Ara belum datang juga. Kuputuskan untuk mencarinya. Mumpung kafe belum lagi masuk ke masa padat terakhirnya. Aku bisa pergi dengan cepat dan memasrahkan kafe pada Dira. Ia sudah sering ikut bekerja bersamaku.

“Dir, aku nyusul Ara dulu ya. Titip kafe sebentar. Paling lepas jam tujuh baru ramai lagi.”
“Oke, Kak Vin. Beres.”

Segera kustarter Vixion hitam-merahku, tanpa repot-repot mengenakan helm. Rumah tukang susu itu masih di seputaran tempat tinggalku, tidak perlu keluar ke jalan besar. Sekilas kulihat helm merah Ara masih teronggok di rak dekat dalam garasi. Pertanda tadi ia tidak berniat untuk sekalian mampir ke tempat lain.

Kususuri jalan yang biasa kami lalui setiap pergi membeli susu. Sengaja kupacu motorku dengan perlahan, kalau-kalau Ara mengalami musibah di tengah jalan. Lampu-lampu jalan sudah sepenuhnya menyala, seperti menancapkan dominasinya atas malam, menyingkirkan sisa senja di langit yang mulai sepenuhnya kelam. Sayup suara adzan terlambat masih menggema di sana-sini. Di mana Ara?

Setengah perjalanan sudah kulewati, yang ditandai dengan persimpangan jalan di tengah perkampungan warga. Agar sampai ke toko penjual susu, aku harus mengambil belokan ke kanan. Tanpa berpikir apa-pa, kulewati persimpangan itu. Setelah hampir melewatinya penuh-penuh, aku tercekat. Sekilas sepertinya aku melihat motor matic putih Ara tak jauh dari persimpangan tadi. Kuputar motorku untuk memastikan.

Dan, di situlah Ara. Duduk memeluk lutut di samping motor kesayangannya. Ara…apa? Apa yang luput dari pandanganku selama ini? Tiba-tiba aku merasa menjadi kakak yang tidak bisa dibanggakan.

Kudekati ia perlahan. Aku tak mau mengagetkannya, meski bisa jadi ia sudah mendengar suara motorku berhenti tadi. Aku duduk saja di sampingnya. Gemetar oleh debar yang tertahan.

“Mengapa ada rindu yang tak boleh tersampaikan, Kak?”
Sejenak aku tak tahu harus menjawab apa.
“Karena ada bilik dalam hati yang tak semuanya punya nama, Ra.”
“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk meyakini sebuah rasa, Kak?”
“Tidak ada yang pernah menghitungnya, Ra. Niten sang Musashi butuh kehidupan abadi untuk tahu bahwa Aofie-lah tempatnya ingin pulang. Romeo dan Juliet tidak butuh sampai seperempat episode untuk tahu apa yang mereka rasa. Okumichi no Kami Genji bahkan butuh samsara antara dirinya dan Shizuka. Mungkin sekejaban, mungkin setahunan, mungkin sedekade.”
“Ayo pulang, Kak.”
“Yuk.”
***

Tidak ada yang tahu, setengah jam lebih lama waktu yang kubutuhkan untuk sampai ke toko tukang susu itu bukan karena aku malas, atau lupa jalan, alih-alih mangkir mampir ke tempat teman. Aku, hanya tidak bisa. Tidak sanggup. Melewati tempat itu. Persimpangan itu.

Persimpangan itu sudah berkali-kali kulewati, rumah hijau tosca tepat di dekatnya pun entah sudah berapa kali kulalui. Rumah yang cantik dan asri. Dengan warna-warni dari tetumbuhan dan bebungaan di halamannya. Dengan kibar kerai motif bunga pink-ungu-merah di jendela depannya. Rumah yang anggun, seolah memancarkan sinar dan senyum yang mampu meluruhkan gunung es Antartika.

Kekagumanku semakin menjadi beberapa minggu lalu. Membuatku tak pernah lupa lekat-lekat menatapnya. Membuat sesi perjalanan melintasi ke toko langganan menjadi lebih menyenangkan. Ada sesuatu yang terasa..setengah magis setengah gravitasis dari rumah itu.
***

Sejak menemukan Ara yang terpuruk di persimpangan itu, aku belum lagi menanyainya. Aku tahu ia butuh waktu sampai bisa mencerna semua yang dirasainya, yang merajainya. Untuk sementara, tugas berbelanja kuserahkan pada Dira, yang sudah resmi kutarik jadi karyawan baru Vinara.

Ada rahasia kecil yang kusimpan, sebenarnya. Tepatnya kejutan kecil, yang menurutku akan semakin membuat hidup kami mapan dan berkecukupan kelak.
***

Tiba-tiba kudapati papan bertuliskan “Sold Out” di depan rumah itu. Aku tak ingat lagi apa yang kurasa ketika membaca tulisan itu. Seperti Paranelle Flamel yang memaksa diri membagi auranya untuk sang Alchemist, pijar kelabu mulai menyelubungi tubuhnya, mengganti aura biru miliknya.

Keesokan harinya, sudah tidak ada lagi petak bunga belasan warna itu, tidak ada lagi sosok utuh rumah itu. Puing-puingnya sudah sepenuhnya lenyap, menyisakan serpih-serpih puing tembok rumah yang masih terlihat bekas cat hijau toscanya.

Sejak itu, selalu kucari jalan memutar setiap kali Kak Vin memintaku berbelanja. Aku tak sanggup melewati persimpangan itu lagi. Entah sampai kapan. Mungkin seminggu, sebulan, setahun, atau tak berbilang masa.

Aku perlu ritual, seperti saat melarung nama-nama dalam botol kaca di Laut Andaman beberapa tahun silam. Kutuliskan mantra di secarik kertas tipis berwarna hijau. Agar rindu mengarung bersama ombak yang berkelana ke lima samudera, tanpa perlu berlabuh kembali di dermaga bertuliskan namaku, tanpa perlu lagi berpulang ke pulau bertajukkan rasaku.

Melepasnya, seperti dandelion putih yang berkibaran bersama angin, setelah dilepas pohon induknya yang tak hendak mengharapnya kembali, hanya mengharapnya kelak menjadi sosok yang lebih kuat dari pohon asalnya.
***

“Ra, sini deh, ada yang mau kuobrolin.”

Senin sore, kafe tutup, seperti bersenin-senin sebelumnya. Saatnya menikmati hobi dan kegemaran kami masing-masing. Sementara aku sibuk me-make over motorku, Ara tampak sibuk denan McBook Air krumnya. Kuperhatikan, sudah tiga gelas teh tarik dingin ia tandaskan.


“Kenapa, Kak?”
“Hemm, sebenarnya udah agak lama mau kasih tau hal ini, cuma kayaknya pingin kasih kamu little surprise aja.”
“Tentang?”
“Kamu ingat, kan, kita pernah bahas ingin mencari tempat yang lebih luas dari sekadar ruang depan rumah kita plus pelataran depan ini untuk mengembangkan kafe? Tapi, tempat baru itu harus tidak jauh dari sini, agar tidak membingungkan pelanggan. Nah, bulan lalu aku ketemu orang dekat sini yang mau jual rumahnya, sangat murah, pemiliknya cuma kepingin pindah cepat dari sini.”
“Oke, then?”
“Maaf karena aku ga cerita, pingin jadi kejutan saja. Lagian harganya murah banget, tanahnya luas. Satu-satunya masalah hanyalah rumah itu harus dirobohkan dulu agar kita bisa membangun sesuai dengan imajinasi kita. Intinya, kita sekarang punya tempat baru yang lebih luas! Kita bisa rancan sesuai apa yang kita mau.”
“Wah, kalau kulihat dari antusiasme Kakak, sepertinya tempatnya oke dan sesuai standar kita. Aku ga masalah, Kak, toh aku jua ga terlalu tahu tentang jual-beli tanah dan semacamnya. Lokasinya di mana?”
“Dekat sini, kok, kamu malah sering melewatinya menurutku. Mau lihat sekarang?”
“Boleh, yuk.”

Berhubung Vixion milikku belum beres benar, kami berboncengan denan motor Ara. Aku tak sabar ingin menunjukkan lokasi kafe baru kami. Aku yakin Ara akan suka sepenuhnya.

“Nah, ini dia, Ra. Luas, kan? Lokasinya strategis, kita bisa buat space parkir yang lumayan juga. Itu, di bagian yang masih teronggok sisa puing itu, akan kuletakkan van kita. Gimana? Kamu suka? Ra? Kamu kenapa? Ara! Kamu mau ke mana?! Ara!!!”
***

Aku selalu cinta dunia memasak. Menikmati setiap masakan dan minuman yang kuracik di dapur beroda kafe kami. Merasa bahagia melihat senyum puas pelanggan yang mengembang cerah setelah menandaskan semua hidangan kreasi kami. Tidak pernah terlintas jika kelak aku akan berubah seperti ini. Tidak lagi sanggup memasak.

Rumah persimpangan itu. Mengapa harus rumah itu yang Vin beli? Mengapa harus tempat itu yang ia pilih?

Akhirnya, kusadari, apa nama rumah itu dalam hatiku.


*Menjelang Nyepi 2012

Rabu, 14 Maret 2012

Seinovatif Jobs!




Judul : Rahasia Inovasi Steve Jobs
Penulis : Carmine Gallo
Kategori : Nonfiksi terjemahan
Penerbit : Esensi, Erlangga Group
Cetakan : 2011
Tebal : 242
Harga : Rp95.000

Saat pelesir ke Hongkong akhir tahun lalu, saya kebetulan harus transit di Kuala Lumpur terlebih dahulu. Jeda waktu untuk menunggu penerbangan ke Hongkong saya manfaatkan dengan mampir ke sebuah toko buku impor yang ada dalam ruang tunggu bandara LCCT, Kuala Lumpur. Ketika itu dunia masih berkabung setelah kehilangan salah satu ikon inovasi paling populer, Steve Jobs. Di boks buku laris, saya dapati berbagai tema buku yang mengupas tentang Jobs. Di Hongkong, saya juga menyempatkan diri untuk mampir ke beberapa toko buku, baik yang indie maupun yang mainstream. Di semua toko buku mainstream yang saya kunjungi, buku bertema Jobs selalu ada di bagian buku laris.

Dalam hati saya bertanya-tanya, seperti apa sebenarnya pola kerja Steve Jobs, hingga ia menjadi sosok yang menginspirasi jutaan orang di dunia.
Inovasi adalah keyword yang menjadikan Apple perusahaan gadget yang dianggap paling stylish dan berkelas seantero dunia. Alih-alih mengikuti pola “perumusan inovasi” yang tradisional, Jobs tidak percaya pada “sistem” untuk menciptakan inovasi. Ia tidak menyuruh karyawan Apple untuk ikut kursus dan pelatihan konvensional. Jobs memulai semuanya dari satu hal sederhana, pola pikir.

“Think different” adalah slogan perusahaan Apple yang dibuat bukan sekadar untuk strategi pemasaran semata. Bagi Jobs, berpikir dengan pendekatan yang berbeda adalah gaya hidup dan pendekatan inovasi yang positif dan efektif. Cara berpikir diluar pakem inilah yang Apple mampu menghasilkan produk-produk yang tidak sekadar membantu, tetapi juga mempermudah manusia dalam menjalankan aktivitasnya.

Carmine Gallo, seorang kolumnis businessweek.com, mempelajari dan menyimpulkan bahwa ada tujuh prinsip dasar yang dilakukan Jobs selama dalam membangun dan mengembangkan kariernya. Prinsip yang bisa dicontoh oleh siapa saja, dengan latar belakang apa pun. Prinsip tersebut bahkan bisa diaplikasikan juga dalam sisi kehidupan kita yang lain. Gallo juga menyarikan berbagai potongan sejarah hidup Steve Jobs yang berpengaruh dalam perkembangan kariernya selanjutnya.

Tujuh prinsip tersebut meliputi cara pikir tentang karier, visi, ide, konsumen, desain, brand experience, dan cara Anda bercerita. Anda akan diajak menelusuri ketujuh prinsip tersebut satu demi satu sampai Anda paham dan bisa memroyeksikannya pada diri Anda. Seolah-olah Anda sedang berada di sebuah kedai kopi nyaman, dengan Steve Jobs yang duduk di depan Anda sambil bercerita semua rahasia dan pengalamannya dalam berinovasi.

Kadang kala, kita sendiri yang membuat aktivitas dan karier kita terasa complicated dan stuck. Kita mungkin lupa bahwa hal pertama yang harus kita lakukan dalam mengurai semua keruwetan tersebut dalah dengan mengecek otak kita, cara pandang kita terhadap setiap hal yang ada dalam keseharian kita. Seperti yang Steve pernah katakan, “Miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda. Entah bagaimana mereka sudah tahu Anda sebenarnya akan menjadi Apa.”



Judul : Rahasia Kembar Cermin
Penulis : Audrey Niffenegger
Kategori : Novel terjemahan
Penerbit : Esensi, Erlangga Group
Cetakan : 2012
Tebal : 522
Harga : Rp70.000

Elspeth dan Edwina adalah sepasang anak kembar dengan kemiripan yang mencengangkan. Meskipun mereka sebnarnya memiliki karakter yang agak bertolak belakang, tetap saja mereka sulit untuk dibedakan. Keidentikan ini mulai menjadi petaka ketika mereka jatuh cinta pada laki-laki yang sama. Bahkan, petaka itu berlanjut hingga salah satu di antaranya melahirkan, sepasang anak perempuan, kembar cermin.

Bertahun-tahun setelahnya, datanglah sepucuk surat yang mengabarkan bahwa Elspeth telah meninggal dunia, dan mewariskan apartemennya yang ada di London kepada keponakan kembarnya, Juliana dan Valentina. Kabar yang mengejutkan mereka karena selama ini mereka tidak pernah bertemu dengan bibinya itu. Hal yang lebih mengherankan, bibi mereka juga mencantumkan sekian persyaratan sehingga mereka benar-benar bisa menerima warisan itu. Salah satu syarat yang tercantum membuat Edwina dan Jack, ayah dan ibu mereka, geram dan panik karena Elspeth dengan tegas mencantumkan bahwa ia tidak ingin saudara kembarnya dan suaminya menginjakkan kaki di dalam apartemennya, yang berarti mereka sama sekali tidak boleh mengunjungi anak-anak perempuannya.

Juliana dan Valentina bukan sekadar kembar biasa, mereka adalah kembar cermin. Bagian-bagian dari tubuh mereka saling berkebalikan, persis seperti seseorang yang sedang menatap dirinya di dalam cermin. Dalam sebuah pemeriksaan organ dalam, terlihat bahwa bagian dalam tubuh Juliana tersusun sebagaimana lazimnya manusia, sedangkan bagian dalam tubuh Valentina justru kebalikannya. Jantung Valentina terletak di sebelah kanan, begitu pula sususan organ dalam lainnya. Bahkan, sidik jari keduanya pun saling berkebalikan. Benar-benar layaknya cermin.

Meskipun orangtua mereka pada awalnya bersikap keras terhadap isi surat wasiat Elspeth, tidak ada yang bisa menghalangi keputusan mereka untuk pergi ke London dan menjalani hidup baru yang membuat mereka tidak sabar menunggu. Sebenarnya, Julianalah yang paling berkeras untuk pergi ke London, dan seperti biasanya, ia akhirnya bisa meyakinkan Valentina untuk tidak perlu khawatir berlebihan dan mulai mengajak kembarannya untuk membayangkan apa saja yang akan mereka lakukan sesampainya di London nanti.

Di antara keduanya, Valentina adalah yang paling rapuh dan tidak percaya diri. Ia sering kali hanya pasrah dan mengikuti kemauan Julia. Di sisi lain, Valentina selalu menjadi gadis yang digila-gilai teman-teman laki-laki mereka. Hal yang membuat Julia terkadang cemburu.

Cerita mulai menjalin konfliknya ketika si kembar datang ke London. Sang bibi ternyata belum benar-benar meninggal, arwahnya yang ada di apartemen tidak sabar menunggu kedatangan si kembar cermin. Dalam surat wasiatnya, Elspeth juga menjelaskan bahwa Robert Fanshaw yang menjadi tetangga apartemen mereka akan mengurus beberapa hal yang mereka butuhkan di apartemen itu. Robert adalah kekasih Elspeth, yang menemani Elspeth hingga nyawanya meregang.

Juliana dan Valentina mulai sering berselisih ketika tinggal di apartemen itu. Valentina lebih suka bergaul dengan Robert, yang dianggapnya tipe laki-laki menarik. Sementara Juliana mulai sering mengunjungi Martin, seorang laki-laki maniak kebersihan dan jarang berani meninggalkan apartemennya karena takut terkontaminasi hal-hal buruk yang ada di jalanan.

Ternyata, diam-diam hantu Elspeth merasa cemburu dengan kedekatan Robert dan Valentina. Ia menganggap yang ada dalam hati Robert adalah dirinya seorang. Ia mulai berupanya untuk bisa berkomunikasi secara visual dengan Robert dan kedua kembar cermin. Masalah semakin rumit ketika Valentina mulai merasa jengah dengan saudara kembarnya, dan tak jarang ia kepingin pergi jauh meninggalkan saudaranya itu. Entah bagaimana, Elspeth menafsirkan keinginan terpendam Valentina dengan cara benar-benar akan mengubah kehidupan mereka semua di kemudian hari. Satu per satu rahasia terdalam keluarga kembar ini mulai terkuak.

Audrey Niffenger sekali lagi mengambil tema tentang relasi antara dua kehidupan yang berbeda, seperti yang pernah diangkatnya dalam novel larisnya yang terdahulu, The Time Traveler’s Wife, yang kemungkinan besar dikarenakan aktivitas sehari-harinya sebagai pemandu Highgate Cemetery, sebuah komplek pemakaman kuno bersejarah yang ada di London, Inggris.

Caranya bercerita tentang relasi antara dua kehidupan yang berbeda ini terbilang tidak akan meremangkan bulu kuduk pembaca, tetapi malah semakin menguatkan latar sendu yang dominan dalam konflik keluarga ini. Jika biasanya pembaca disuguhi oleh konflik antara sepasang anak kembar, kali ini pembaca akan dibuat bertanya-tanya dengan pertikaian yang terjadi di antara dua pasang anak kembar. Dengan teka-teki yang bertebaran di dalamnya, novel ini sulit sekali untuk diletakkan di atas meja sebelum selesai dibaca.

Kamis, 23 Februari 2012

(Almost) 30 Somethings Note

“No more drama, please.” (Anonim)

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengevolusi sebuah roda? Last time I cheked, more than decade. Dulu, ketika saya masih gemar mengoleksi tutup botol (kira-kira kelas empat SD), fase usia yang saya nanti-nanti dengan penuh tanda tanya adalah momen ketika saya berseragam abu-abu, kuliah, bekerja, menikah. Seingat saya, tidak pernah terpikir sekali pun, akan seperti saya kelak ketika berusia (ehm) 29 tahun. Seperti apa rasanya? Setengah cemas setengah mantap, ternyata.

Setahun kemarin, saya begitu tergila-gila dengan angka 29, tanpa ingat bahwa setahun kemudian saya benar-benar akan berstempel angka itu. Angka 29 saya tahun kemarin adalah angka keberuntungan, angka yang membuat saya bertahan di tengah gulungan ombak empat samudra. Angka yang diperkenalkan oleh sebuah buku terjemahan yang nyaris diretur di toko buku karena tidak laris, tapi cetak ulang berkali-kali di hati saya. Buku tentang seorang perempuan yang menerapkan program 29 hari memberi dan menjadi seseorang yang “baru” setelah melakukannya.

Angka yang datang kepada saya pada saat yang tepat. Melakukan 29 gifts itu yang sederhana itu ternyata seperti memiliki malaikat seribu sayap yang selalu menyorongkan kepaknya ketika saya terpeleset, menyodorkan rengkuhnya ketika saya sesak oleh kelu, mengibaskan sayapnya ketika saya butuh hawa dingin penawar panas hati.

Tanpa terasa, 29 chalenge itu menjadi semacam turnamen pramusim bagi saya. Untuk menghadapi ke-29-an yang sebenarnya tahun ini.

Saya nyaris cemas nyaris deg-degan, seperti traveler yang sebelah kakinya sudah menapak di tangga pesawat, tapi pikirannya mengingat-ingat apakah semua perlengkapan sudah dibawa? Apakah persiapannya sudah oke? Apakah uangnya cukup?

Detik-detik menjelang 29 sepenuhnya drama. Dari setumpuk tanda tanya tentang seberapa siap saya menjadi that-hot-damn-single-woman. Kenyataan bahwa keluguan saya dalam berteman ternyata berujung kepada satu demi satu nama terhapus dalam daftar panjang orang-orang yang saya sebut dengan satu nama: teman. Membuat saya meluangkan waktu khusus untuk duduk terpekur dan mencoba mencerna ulang apa yang sebenarnya terjadi. Sampai bendera setengah tiang yang harus saya kibarkan tepat di pergantian 29 ini karena saya kehilangan lagi. Rasanya seperti jantung, ginjal, dan hati saya adalah tiket masuk fase baru ini.

Namun, saya tahu, saya masih harus bernapas panjang dengan organ yang tersisa. Untuk Tuhan dan sesama yang juga adalah bagian diri saya.

Happy birthday, myself, fly away..

Rabu, 22 Februari 2012

Tealing




Merindukan secangkir teh cardamom, yang harum mengepulkan uap beraroma Hindustan. Pedas, legit, nyaris magis. Menyesapnya seperti membiarkan diri hilang di tengah padang antah berantah, dengan bunga semak berwarna-warni, yang terlihat hanya indah yang setengah sederhana setengah aristokrat. Persis mata pengembara purba. Tak pernah bisa berlepas dari mantranya, yang dirapal dalam bahasa negeri ujung Camatara.


image from

Kamis, 16 Februari 2012

Salanderian


image from


Misteri waktu itu bernama kejutan tak disangka, sedetik sebelumnya kamu mungkin merasa punya sekumpulan teman baik yang saking karibnya akan memasang badan untukmu tanpa pikir panjang, tetapi sedetik berikutnya kamu sadar jika itu semua cuma keyakinanmu seorang diri.

Dan, detik berikutnya akan kamu habiskan untuk terpekur lama, memegangi daftar panjang nama-nama yang selama ini kamu panggil teman, sahabat, kawan, karib. Daftar yang barang kali semakin menyusut dengan cepatnya.
It happened.

Saya jadi teringat Lisbeth Salander, perempuan bertato naga yang beberapa minggu ini menemani malam-malam saya, dengan sikap dinginnya yang kadang kala serasa menyusup ke luar dari lembar-lembar triloginya, mengepulkan asap beku tanah baltik. Salander sering bersikap apatis pada segala yang mengatasnamakan hubungan pertemanan, skeptik malah, yang tentunya beralasan jika melihat lembar-lembar sejarah hidupnya yang melulu hasil intervensi pihak luar.

Baru kali ini, saya merasa butuh waktu, untuk menatap daftar panjang nama-nama, yang sebelumnya saya panggil dengan satu nama yang sama: teman.

Rabu, 23 November 2011

The Paradise Journeys





My newest book, ditulis bareng beberapa traveler lain. Siap meluncur ke pelukan pembaca bulan depan :)Dont miss it ya guys..

Kamis, 21 Juli 2011

Kumpulan Cerpen yang Tak Berujung

Tak sengaja menemukan beberapa file cerpen yang sebagian besar hanya berupa pembuka cerita. Entah ide apa yang terlintas saat mulai menulisnya dulu.
***

AIR

Ada sebuah balada di negeri seberang, tentang kisah selukis langit kelam yang berharap seleret warna jingga mencerahinya setiap dini. Ini kisah yang hampir serupa, tentang seekor ikan lumpur yang termangu di tepian sungai. Takjub bersalut cinta, hingga enggan untuk mencampuri.

Sungai itu berkelok indah di tengah padang. Dari jauh pun airnya berkecipak santun lagi gemerlapan berbias matari. Bagai aroma mahluk abadi Transylvania yang konon membuat manusia tertegun terpesona tanpa daya. Dan, ikan lumpur itu pun merasainya.

Suatu ketika, seorang kanak-kanak yang girang menangkapnya di sebuah rawa hutan, tak sengaja menjatuhkannya dari wadah bambu berlubang tampias. Ia pun terpisah seabadinya dari kawanan rawanya, yang entah akan berujung apa dalam wadah sang kanak-kanak itu.

Maka, mengadalah ia disana. Di tepian sebuah sungai yang melulu disarati air berkilau. Itulah saat ketika ia akhirnya merasakan sesuatuyang tak pernah ada dalam otak kecil dan megap insang yang dimilikinya.

Selama hidupnya, yang mengakrabinya hanya warna coklat kehitaman air bercampur lumpur,dan hijau lumut yang melapis permukaan rawa. Tak pernah ia tahu jika ada jenis air lain yang bisa berkilau rupawan seperti yang tersaji di hadapannya kini.

13/6/2009



Jingga Selepas Hujan

Adakalanya hidup serasa berbeda, hari yang satu dengan hari lainnya. Meski tak jarang pula, hidup seolah tak memberikan pilihan untuk sekadar menikmati pelangi yang bercorak lain di setiap hujan usai melepaskan kasihnya. Jadi bagaimana bisa hidup ini dinikmati selezat coklat hangat?

24/6/2009



Di bawah Kilat dan Hujan Ku Mengingatimu


Musim apa kali ini? Berkali-kali kubalik lembar-lembar penanggalan bergambar entah siapa di dinding ruang kerjaku, dengan harap akan kutemukan jawab. Tak jua ada.Musim apa kali ini? Telah berulang kali kutelusuri ruang-ruang maya entah bertuan siapa di layar notebook hitamku, dengan harap akan kutemukan jawab. Tak juga ada. Masih hitungan pekan, harusnya memang belum berganti musim. Mestinya masih semi sajadan tak usah berseling apa-apa.

16/11/2009


Bintang Belantara

Tersesat. Adalah cita-cita dan impian yang tak kunjung berhasil kucapai. Aneh? Tidak, bah. Biasa saja. Sepertinya ada eksotisme yang penuh tantangan jika suatu saataku berhasil mengalaminya. Entah tersesat dalam rimba raya yang dipenuhi beragam penghuni aslinya, entah tersesat dalam keriuhan metropolis yang tak juga enggan menjejali diri dengan artefak-artefak yang artifisial totok, entah tersesat di simpang-simpang penuh cabang di sebuah daerah antah-berantah, atau tersesat di kerumitan jejaring sel-sel cintamu.

1/20/2010



Luc danKemeja Putih


"Apa impianmu,Sa?"

"Keliling dunia,Bu Guru."

"Apa mimpimu,Ric?

"Jadi pengusahakaya, Bu!"

"Kalau kamu,Luc?"

"Punya satulemari kemeja putih, Bu."

"Apa, Luc??"

"Kemeja putih,Ibu Guru..."

Saat teman-temankecilnya bermain gasing dan orang-orangan kertas, ia bermain dengan teriakan dan lemparan sapu ijuk. Saat teman-teman kecilnya sibuk mengerjakan pekerjaan rumah untuk esok hari, ia sibuk menggelandang dari satu mal ke mal lain. Saat teman-teman kecilnya tertawa-tawa sambil menguyah Anak Mas atau coklat Jago, ia membiarkan dirinya sibuk dikunyah habis oleh tangan-tangan sang bayangan.

20/1/2010


Merah Hijau

"Menurutku,merah akan semakin membuat rumah cinta kita ini semarak dan memancar penuh gairah."

"Tidak, hijau lebih elegan dan menyejukkan."

"Menurut pengalamanku, hijau cepat memudar. Kita harus mempertimbangkan pula faktor udara di sekitar serta energi yang kita harap mampu diterjemahkan oleh sang warna itu."

"Menurutku tidak perlu seperti itu. Cukup kita yakin saja warna ini baik."

"Hmm..."

12/3/2010


Carnival


Musim tak lagi punya nama. Hujan bisa datang kapan saja. Kemarau bisa menyapa sesukanya. Masing-masing tak lagi eksis periodis, alih-alih berjaya segenap bala.

Pagi kali ini dibuka dengan kawanan kabut tipis yang samar dan dingin menusuk. Permulaan hari yang tak biasa. Namun, penduduk Kota Imu telah terbiasa dengan segala keganjilan alam yang terjadi akhir-akhir ini.

Kota ini tak terlalu besar. Hanya sebuah kota kecil di tepian sebuah danau. Tak banyak yang merantau, kebanyakan memilih untuk sepenuhnya hidup dan mengakhiri hidup di tempat ini. Sepertinya, tak ada yang sanggup tinggal jauh dari udara sejuk bercampur aroma segar buah jeruk; segala kicau burung yang tak selalu berdiam nyaman di pucuk pepohonan; atau dari danau dengan airnya yang hijau-biru kemilauan. Tak ada yang ingin jauh dari rumah.

Pagi yang biasa saja, tak jauh beda dari sebelumnya. Kedai-kedai dipenuhi aroma harum teh jeruk dan roti baru. Toko kelontong dipenuhi pembeli yang sibuk memilih pakis hijau dan aneka jenis jeruk yang memang tumbuh subur di kota ini. Toko penjual ikan pun tampak ramai menjajakan lais, bilih, haruan,dan aneka ikan air tawar lainnya.

6/8/2010





Sabana. Kata itu terus saja diketikkannya pada layar browser notebook hitam penuh gores itu. Sesekali kata itu ia kombinasikan dengan kata kunci lainnya. Hingga larut mulai menguap meradu, ia masih sibuk berselancar dan membuat catatan kecil.

“Siang, Mbak, ada yang bisa saya bantu?”

“Travel ini menyediakan paket tour ke mana saja?”

“Kami bisa mengusahakan ke mana saja yang Mbak mau, sebut saja.”

“Sabana.”

“Apa, Mbak? Itu di mana ya?”

“Terserah saja mau di daerah mana.”

“Ehm, Mbak, Maaf sebelumnya, tapi Sabana itu apa ya? Nama tempat di Indonesia? Atau di luar negeri ya , Mbak?”

“Makasih, Mas, permisi..”

“Lho, Mbak..”

Satu demi satu pintu biro perjalanan yang di kotanya ia ketuk dan masuki, dengan satu tujuan yang sama: mencari paket perjalanan ke sabana. Namun, hingga siang telah berjumpa senja tak juga ada yang memberinya anggukan dan senyum pertanda baik. Mengapa tak ada yang tahu tempat yang ia ingin datangi itu, serapahnya kesal.

Sampailah ia ke sebuah sudut jalan yang tak terlalu ramai. Toko-toko di wilayah itu terlihat lengang, hanya ada beberapa beberapa orang yang melongok sekilas ke etalase-etalase kusam di balik jajaran toko bergaya bangunan lama itu. Bukan, bukan sekadar karena malam mulai menjelang tempat itu terlihat lengang, sepertinya tempat itu memang selalu lengang sepanjang hari. Bukan lengang yang mencekam, apalagi lengang yang bernuansa mistis, tapi ada sesuatu yang terasa berbeda di tempat itu. Lengang yang anehnya terasa damai sekaligus menenangkan. Bagai berjalan di ruas-ruas jalan negeri antah berantah dalam dongeng pengantar tidur.

Hampir semua toko di sudut jalan itu bercat kelabu, hanya satu yang tidak. Toko itu berada di ujung terjauh ruas pertokoan di daerah itu. Dindingnya bercat kelabu nyaris hitam, tak beda jauh dengan toko-toko lain di sudut jalan itu. Hanya satu yang membedakan: pintu yang bercat merah.

Ke arah pintu merah itulah sedari tadi Diandra terdiam menatap. Seperti ada magnet kuat yang menyeret pandangan dan langkahnya ke toko berpintu merah itu. Ia memang pecinta warna merah, kebetulan pertama. Perlahan ia mulai berjalan mendekat.

“Pintu Merah Travel&Tour: Segala Pintu ke Segala Tujuan Impian” begitu bunyi tulisan yang ada di jendela toko berpintu merah itu. Kebetulan kedua. Meski telah lelah karena sedari pagi berjalan keluar masuk berbagai biro travel yang ada di pusat kota itu, ditambah lapar yang mulai merajalela karena diabaikan, keinginan untuk pergi ke Sabana membuatnya berharap peruntungan ke biro travel yang satu ini. Dan melangkahlah ia ke balik pintu merah.

Wangi sitrus bercampur aroma udara yang asing menyambutnya pertama kali. Takjub. Bagian dalam toko itu ternyata sungguh tak terduga. Alih-alih meja-kursi-komputer standar biro travel lainnya, yang ia temukan adalah taman bunga lengkap dengan kolam ikan dan air terjun mini yang bergemericik syahdu. Sejenak ia urung melangkah semakin dalam. Pemandangan di depan matanya bukan suatu hal yang biasa ia lihat di kantor biro perjalanan pada umumnya. Hamparan rumput hijau empuk, dengan semak-semak bunga liar lengkap dengan buah buni kuning kemerahan serta kolam-kolam ikan yang nampak bagai oase-oase mungil di tengah hamparan rerumputan. Langit-langit toko itu telah dimodifikasi layaknya atap mobil mewah yang bisa dibuka-geser. Langit malam yang berhiaskan tebaran pendar bintang tampak jelas ketika ia menengadah sekilas. Aroma sitrus masih menguar, namun perlahan aroma lain mulai mendominasi. Aroma yang sulit untuk ia terjemahkan. Campuran antara udara yang begitu segar, dengan bau daun kering bercampur aroma matahari pagi serta kumpulan aroma-aroma lain yang berpadu liar namun sangat eksotis dan mistis. Tempat apa ini.. .


“Halo, silakan masuk, ada yang bisa saya bantu?”


Diandra terkesiap dengan kemunculan tiba-tiba dari sosok yang barusan menyapanya. Perempuan. Paro baya. Meski hanya memakai rok tenun dan blus putih polos, sosok itu terlihat anggun dan bersahaja. Ada sesuatu dalam caranya menatap yang membuat Diandra merasa nyaman dan percaya.

“Ini biro perjalanan?”

“Yah, seperti yang tertulis di jendela depan.”

“Saya ingin memesan paket perjalanan ke sabana.”

“Tentu, mari silakan duduk di sini.”

Entah kebetulan ke berapa kali ini. Tempat itu ternyata menyediakan jawaban yang dicarinya sejak pagi. Perempuan itu membentangkan permadani kecil ke atas rumput, dengan dua buah ottoman yang empuk sebagai pelengkapnya.

“Mari, duduk di sini.. .”

Dengan kikuk Diandra mengikuti sang nyonya rumah untuk ikut duduk di atas permadani itu yang ternyata lebih empuk dan nyaman disbanding dugaannya semula.

“Nah, coba ceritakan, ke sabana mana kamu ingin pergi?”

“Sabana yang mana saja.. .”

“Sabana yang sebenar-benarnya sabana ataukah tempat berhakikat serupa sabana yang ingin kamu kunjungi?”

“Maksudnya? Memangnya ada tempat yang hakikatnya sama seperti sabana?”

“Biasanya, ada sekian alasan mengapa ada orang yang ingin berlibur ke padang sabana, atau tempat-tempat luas membentang lainnya yang serupa dengan sabana. Percaya atau tidak, suatu kali ada seorang anak muda seusiamu yang datang kemari dan ingin memesan perjalanan ke sabana beku alias padang es di kutub sana. Ketika kutanya apa yang membuatnya tertarik untuk berlibur ke tempat seperti itu sendirian? Ia menjawab ia ingin tahu rasanya menjadi dingin yang sejati. Ia ingin tahu apakah dirinya memang benar-benar sedingin yang ia kira tentang dirinya sendiri. Ketika kutanya dingin apa yang sebenarnya ia maksudkan? Ia menjawab selama ini ia selalu menyakini bahwa ia adalah sosok yang begitu dingin, hingga setiap serat perasaannya dengan cepatnya membeku tanpa sempat ia pahami dan ungkapkan. Ia tak sempurna, padahal ia ingin menjadi sempurna.

“Lalu, pemuda itu jadi pergi ke kutub?”

Perempuan itu hanya tersenyum menjawab pertanyaan Diandra.

“Nah, sabana apa yang ingin kamu kunjungi?”

“Saya ingin ke sabana yang luas. Versi berkali lipat lebih luas dari hamparan rumput di Pintu Merah ini. Sabana yang diapit pegunungan empat penjuru. Sabana yang dipenuhi bunga rumput dan semak-semak buni di kitarannya. Sabana yang udara segarnya bisa dihirup dalam-dalam, hingga mengalir penuh ke setiap sudut jaringan tubuh dan aliran darah. Sabana yang kesunyiannya bisa menjadi tempat untuk kontemplasi dan merenungi kelemahan diri yang tak juga bisa sempurna.. .”

Perempuan itu tiba-tiba bangkit dan beranjak ke bagian dalam toko yang terhalang sekat anyaman bersulur rambat. Hening. Sesaat terlitas sebuah nama dalam pikiran Diandra. Sebuah nama yang berpendaran di kedalaman hatinya setahun terakhir ini. Sebuah nama yang menghadirkan warna berbeda dalam hidupnya. Sebuah nama yang untuknya ia rela menjalani misi pencarian kesejatian bak Kaisar Terakota.

Diresapinya suara gemericik air yang mengalun merdu tanpa peduli balok anda. Dihirupnya dalam-dalam aroma sitrus yang entah dari mana sumbernya. Dirasakannya nyeri yang sejenak menyentakkannya. Nyeri yang timbul oleh kesadaran akan kelemahan yang tak jua berlalu pergi. Padahal ia ingin menjadi sosok yang lain. Sosok yang lebih mengerti, memahami, dan menguasai diri. Ia ingin. Sungguh.

“Kamu pasti lapar, ayo dimakan dulu.”

Dan tiba-tiba saja perempuan itu telah kembali dengan sepiring penuh penganan kecil berwarna hijau, segelas minuman berwarna merah, dan senyum tipis aristokrat yang sejak tadi tak pernah lenyap menghiasi wajah ovalnya.

Kebetulan, lagi, batin Diandra. Perutnya memang sudah mulai perih mengamuk karena tak jga mendapat perhatian darinya. Langsung saja ia ambil sebuah. Kue hijau itu berkulit transparan mirip dimsum udang. Isiannya adalah campuran fla dengan beraneka ragam buah tropis. Ia pikir rasanya akan sedingin es krim, ternyata ia salah, kue itu hangat! Entah bagaimana caranya hingga kombinasi fla dan buah-buahan itu bisa terasa hangat dan sangat enak.


“Mengejutkan sekali.. Bagaimana bisa fla dan buah-buahan bisa menjadi kue hangat yang sangat lezat. Apa nama kue ini, Bu?”

“Mengejutkan? Bukankah itu hal yang biasa saja? Ada banyak hal di semesta kita ini, yang bila dikombinasikan akan berpadu menjadi sajian yang berkali lipat pesonanya dibanding ketika hal-hal pembentuknya berdiri sendiri. Kepaduan itu tak harus satu kutub. Kepaduan juga tak harus satu arah. Coba tengok purnama di atas sana, betapa setianya sang rembulan itu pada kekasih alamnya, matari. Energi yang selalu diresapinya dari matari tak pernah henti ia pendarkan. Mereka mungkin sekilas terlihat tak pernah bersua jalan, tapi kita tahu mereka tak pernah terpisahkan. Masing-masing berjalan sesuai garisnya.

“Yah, mereka sosok yang sempurna, Bu..”


Perempuan itu terdiam dan menatap Diandra, tepat pada mataya. Membuat Diandra sejenak rikuh dan membuang pandangan.

“Cinta itu sempurna. Ketidaksempurnaan itu bukan pada benih cinta yang bertumbuh musim demi musim, melainkan pada proses dalam mengekspresikannya. Sebenarnya, bukan tidak sempurna, hanya prosesnya yang akan selalu berjalan sesuai proses kedewasaan yang sedang dijalani masing-masing pihak. Setiap peluh yang menetes dari setiap usaha yang dilakukan untuk menjadi lebih baik, itulah kesempurnaan. Jadi tak perlu jauh-jauh berlibur ke sabana, untuk menjadi sempurna, bukan? Ngomong-ngomong, tahukan kamu apa yang terjadi anak muda yang ingin mengembara ke kutub tadi?”

“Ia jadi pergi ke kutub?”

“Tidak. Ia memahami, pada akhirnya, bahwa saat ia menganggap dirinya tak sempurna, sebenarnya ia telah menjadi sempurna. Dan akhirnya ia memilih untuk tetap tinggal dan menjalani musim demi musim, bersamamu..”

“Oh, maksudnya? Saya tidak mengerti, maksud Ibu?”

Perempuan itu tetap dengan senyum tipisnya yang semakin lama semakin menyimpan misteri. Sekilas ia menepuk lembut tangan Diandra, dan beranjak kembali ke bagian dalam toko. Lewat tatapan matanya Diandra mengikuti langkah-langkah perempuan itu. Dan, tepat di samping sekat bambu bersulur itu didapatinya sang pemilik nama yang sejak tadi memenuhi pikirannya. Mata bulan separuh dan senyum manis yang selalu dirindunya.


“Hai”

“Luc, sejak kapan ada di situ?”

“Sejak kamu ada di sini.”

Perlahan Luc menghampiri Diandra, dan tiba-tiba saja ia sudah berbaring di atas permadani tempat Diandra bersimpuh sejak tadi.

“Lihat, purnamanya begitu indah.”

Diandra menengadah. Dari langit-langit toko yang terbuka dilihatnya purnama yang berpijar menawan. Perlahan ia pun ikut berbaring di samping Luc. Lama sekali mereka berbaring terdiam sambil saling menggenggam tangan, menatap rembulan penuh itu. Masing-masing berkelana dalam dunia pikirannya sendiri-sendiri. Hanya satu yang sama, cinta dan harapan agar purnama yang sama selepas malam ini, bisa terus mereka nikmati bersama.

Selasa, 14 Juni 2011

CARDAMON



:esfand

Apa rasanya? Seperti teh susu yang salah takaran. Seperti teh herbal yang terlalu banyak cardamon. Nikmat, tapi kurang. Sangat.

***

“Kacamata baru, Lu?”

“Ga, cuma ganti lensa saja.”

“Sengaja pilih yang gelap begitu, ya? Jadi kelihatan aneh, kayak pakai sunglass di dalam ruangan.”

“Iya, sengaja. Lagi kepingin saja.”

“Tapi, keren kok, Lu. Semoga pelanggan ga salah kira kamu tukang pijit ya haha.. .”

“Hehe.. .”

Aku sudah lupa, kapan pertama kali mengenalnya. Sepertinya jauh sebelum kami akhirnya bekerja di tempat yang sama. Aku penyeduh, Al penyaji. Aku pembaca, Al perekam. Setiap hari ia sibuk melayani para pengunjung dan pelanggan tetap kafe ini. Dengan senyumnya yang anggun dan tarikan wajah khas negeri timur. Ia tak pernah terlihat terburu-buru. Tenang saja menyaji satu demi satu, hingga entah porsi ke berapa.Barangkali, banyaknya pengunjung yang datang bukan sekadar ingin menikmati aneka kopi dan teh yang menjadi sajian khas kafe ini, melainkan juga ingin curi-curi menikmati indahnya. Al. Sama sepertiku.

“Lu, ada pengunjung yang sedang muram dan lesu harinya. Ia ingin segelas teh yang bisa membuatnya lebih relaks dan sedikit bersemangat kembali.”

“Hemm, oke. Akan kubuatkan. Sebentar.”


Inilah salah satu hal yang kusuka dari bekerja di kafe ini. Tak perlu menghapal resep dan rutin tertentu. Setiap orang datang dengan suasana hati dan pikiran yang berbeda. Dengan impian dan angan yang berbeda. Dengan maksud dan tujuan yang berbeda. Menjadi sempurna bukan ketika segelas minuman dibanderol tinggi, atau dilabel nama prestisius. Melainkan ketika setiap tetesnya punya makna tersendiri bagi yang meminum. Tidak sekadar melegakan haus, tapi juga menerbitkan kesadaran. Aku sendiri bukan sahabat kopi. Karenanya hanya bilik teh yang menjadi wilayah kekuasaanku.


“Al, ini teh yang kau pesan tadi.”

“Teh apa jadinya, Lu?”

“Basicly, ini spicy tea. Teh hitam Jawa yang diseduh ringan, dicampur sedikit sereh, lemon, dan madu kapuk randu. Kalau ia mau gula, kasih yang gula batu, ya.”

“You’re the best, Lu.”


Al? Ia coffeeholic. Setahuku, ia jarang menyesap teh. Pun ketika kami semua sedang menikmati jamuan bersama karyawan yang lain. Kopinya kuat, entah jenis apa. Campurannya dedaunan rempah kuno. Aku tak mengerti kopi. Terlalu berkesan gelap dan keras. Meninggalkan jejak yang seolah memang ingin nampak. Namun, sejak kemarin aku menjadi terobsesi dengan kopi. Tepat setelah Al mengungkapkan hadiah ulang tahun yang diinginkannya.

***

“Sebentar lagi aku ulang tahun, nih, Lu. Kasih kado dong.”

“Memangnya kamu mau kado apa, Al?”

“Racikan kopi yang bisa bikin El menerima cintaku. Buatin dong, Lu.. .”

“Aku kan ga ngerti tentang kopi, Al.”

“Ayolah, Lu.. .”

“Hemm, kucoba dulu, ya.”

“You’re the best, Lu!”

Dus. Segelas kopi. Untuk El. Seperti memaksaku menelan biji kopi mentah-mentah. Detik itu juga aku butuh secangkir teh. Kujerang setengah ketel air. Memilih teko porselen coklat tua bermotif huruf arya purba. Sesaat sebelum ketel berbunyi, kutuang sedikit air panas ke dalam teko, agar suhu teko siap menerima kejutan limpahan air berikutnya, dan membuangnya. Aku memilih early grey yang kental dan kuat. Cukup kuat untuk menampar dan menyadarkanku. Tanpa gula. Gula hanya candu yang mengelabuhi kenyataan.

Seteko tandas. Tak juga bisa kuhilangkan ia dari benak nyalangku. Kuseduh lagi segelas besar teh tubruk dari puncak Guci yang pahitnya terasa lebih menggigit. Kuteguk tanpa merasai. Seperti manipulasi diri yang coba kulakukan serapi mungkin berbulan-bulan ini. Membatu-bisu seolah pandangku padanya tak ada beda. Padahal nanar kerap kulayangkan tiap ia berkelebatan dari satu meja ke meja yang lain. Mengurai sendu seolah imajiku semu, padahal mimpi demi mimpi kerap merajai meski sekedipan. Aku tak lagi mampu bersirobok tatap. Bahkan lensa baru ini pun kupilih agar ia tak tahu bahwa aku tak pernah jenak di sekitarannya.

***

“Selamat ulang tahun, Al, semoga bahagia adalah hari-harimu.”

“Terima kasih, Lu, kadonya mana?”

“Tenang, itu sudah kusiapkan. Tinggal dibawa dan dituang saja untuk El.”

“Dijamin?”

“Dijamin.”

***

Diam-diam kutuang kopi ramuan itu ke gelas kopi pagi Al. Diam-diam kutuang kopi biasa saja ke termos kecil untuk El. Seperti Al yang diam-diam memimpikannya. Aku pun sama. Diam-diam bermimpikannya.

Namun, kami berbeda. Biarlah ia tetap menjadi bintang yang terlihat gemerlapnya saat malam, dan bukan saat matahari berjaya. Agar bisa selalu membuatku tersenyum syahdu setiap menatapnya di kegelapan. Maka, tentu saja tak kulakukan hal itu. Kopi ramuanku tetap kuberikan untuk dianya. Agar senyumnya kan selalu terbit. Agar bahagianya menjadi nyata. Dan biarlah aku tetap bermandi mantra cinta, diam-diam.

Melakukan pemberian ini ternyata cukup sulit jika jadwal kegiatan hari itu hanyalah duduk di depan notebook dan melanjutkan pekerjaan yang sudah panjang daftarnya. Seperti halnya hari ini. tak ada jadwal keluar membuatku berpikir, pemberian apa yang bisa kulakukan. Aku teringat beberapa quote menarik yang kubaca di sebuah majalah kemarin sore. Segera saja kuambil majalah itu kemudian menulis dan mengirimkannya ke dua orang kawan yang lama tak kusapa.

“Cara terbaik untuk mengetahui lebih banyak tentang kehidupan ini adalah dengan mencintai banyak hal.” (Vincent van Gogh)

Tak beberapa lama, kulihat salah satunya menulis ulang quote itu sebagai status facebook-nya. Yah, semoga saja quote itu bisa menjadi jeda bagi keduanya, untuk sebentar saja menarik nafas dan merelakskan pikiran. The more you love, the more you get.

Tak banyak yang dilakukan hari ini. Standar saja. Lazy time. Kepala puyeng sisa begadang semalam belum juga reda. Bad mood sepertinya. Tiba-tiba saja seorang kawan mengirim pesan singkat. Ada teman yang sedang butuh bantuanku, katanya. Ia memintaku untuk online sebentar saja. Meski sedikit enggan, kunyalakan juga notebook yang sejak malam tak kusentuh sedikit pun. Langsung saja kusapa teman yang butuh bantuan itu.

Ternyata ia butuh beberapa referensi buku terbaru yang sedang hits di pasaran, sebagai bahan resensi untuk media yang sedang ia kerjakan. Sebenarnya aku tahu beberapa judul, tapi agar lebih “berkualitas” dalam membantunya segera saja kubuka beberapa situs toko buku online langgananku. Selesai meriset kecil-kecilan, kuberikan satu judul buku yang sepertinya cocok. Sederhana sih, tapi semoga bantuan kecil itu ada artinya.

Di malam harinya, tiba-tiba saja ada tawaran pekerjaan freelance yang kutrima dari sebuah penerbit. Nilai pekerjaannya lumayanlah, cukup untuk modal traveling selanjutnya hehe. Well, serius, aku tak pernah meniatkan semua pemberian ini semata untuk mendapatkan cash back. Diberi kesempatan untuk tersenyum dan sedikit bahagia saja sudah luar biasa. Namun, yah, siapa yang mau menolak jika tuhan sudah melimpahkan berkahnya.

Ternyata, beda rasanya melakukan pemberian dengan aturan harus dilakukan setiap hari seperti sekarang ini, dibanding dengan pemberian yang spontan saja tanpa terpikirkan harus setiap hari atau tidak. Apa yah, rasanya seperti memasukkan sepiring salad dan sebutir vitamin dalam menu makanan kita setiap hari. Pemberian yang dilakukan setiap hari ternyata juga memberi jeda bagi otak dan hati untuk sejenak saja rehat dari memikirkan permasalahan dan ego diri.

Sebagian besar dari hari ini kuhabiskan dengan mengerjakan pekerjaan yang tertunda. Sore tadi baru akhirnya aku keluar rumah karena kebetulan setiap Rabu sore ada kelas kajian tasawuf di Paramadina Pondok Indah. Biasanya, di rute perjalanan yang akan kulalui sering kujumpai keluarga gerobak yang hidup di sebuah gerobak kumuh yang juga menjadi tempat mereka mengumpulkan aneka barang bekas untuk dijual. Di malam hari, mereka tidur di gerobak itu pula. Gerobak itu juga yang membawa mereka berkeliling Jakarta setiap harinya. Aku ingin membeli beberapa bahan makanan untuk kuberikan pada keluarga gerobak yang kujumpai nanti.

Selepas kajian, aku mampir ke sebuah toserba dan mulai memilih bahan makanan apa saja yang akan kuberikan. Berhubung, ikat pinggangku sedang dikencangkan hehe, jadi aku tak bisa membeli banyak. Hanya dua buah mie instan, sarden, abon, dan sekotak kopi instan yang kubeli. Kupacu motor maticku menyusuri rute Pondok Indah-Fatmawat-Pondok Labu-Cinere dan tak kutemukan satu pun keluarga gerobak. Sepertinya aku harus mengganti rencana. Mungkin pemberian ini tak harus kuberikan pada keluarga gerobak, tapi bisa saja untuk siapa saja yang sepertinya membutuhkan. Benar saja, di sebuah tikungan di daerah Cinere, kujumpai sebuah becak yang kecil di pinggir jalan. Kuhentikan segera motorku, dan kuhampiri becak itu. Ternyata, tukang becaknya adalah seorang kakek tua yang terlihat kurus dan letih. Plastik berisi bahan makanan tadi langsung kuhulurkan padanya, dan aku pun segera berlalu. Ada sedikit rasa penyesalan karena jumlah bahan makanan yang kuberi tak terlalu banyak. Namun aku pun membuang jauh pikiran itu. Pemberian yang sederhana bukan berarti kita orang yang pelit, melainkan menyisakan energi bahkan melakukan pemberian bagi diri kita sendiri agar selalu bisa memberi untuk sesama.

Aku bersyukur, tuhan memberiku kesempatan untuk bisa merasakan kebahagiaan pemberian beberapa hari berturut-turut. Dan, semoga begitu selanjutnya di setiap hari-hariku.

Well, I believe in my God, totally. Di hari pertama terapi 29 hari ini kujalani, seorang guru sekolah di Tasik ketika itu ikut berbagi pikiran tentang sedekah, yang menjadi tema talk show yang kubawakan saat itu. Ia menekankan betapa niat akhir dari segala pemberian yang kita lakukan pada intinya adalah ekspresi kecintaan kita pada Tuhan. Cinta yang membuat kita selalu membuka diri untuk berbagi pada sesama dan semesta. Kita dan semesta tak pernah bisa dipisahkan. Meski masing-masing hidup dengan logikanya sendiri-sendiri, tapi tetap saja saling terikat dan membutuhkan. Keengganan kita memperhatikan semesta, sama saja enggan memperhatikan diri kita sendiri. Jadi, jangan hanya memberi dengan harap mendapat cash back yang setara. Bukankah rasa damai dan bahagia yang muncul dari diri kita setelah melakukan pemberian jauh lebih tak ternilai, ketimbang nominal pemberian yang kita lakukan?

Targetku hari ini: menghabiskan recehan yang sudah kusiapkan sejak hari Minggu kemarin. Kebetulan hari ini rencananya mau ketemu beberapa teman lama di Plaza Semanggi. Salah satu diantaranya ingin meminjam buku 29 Gifts milikku. Jadilah aku berangkat dengan angkutan favoritku: kereta api. Setelah duduk di dalam kereta, aku mulai berpikir sebaiknya turun di stasiun mana ya untuk menghindari kemacetan. Akhirnya kuputuskan untuk turun di stasiun Gondangdia saja karena aku ingin melakukan pemberian berupa tambahan rezeki bagi supir bajaj. Sebenarnya lebih cepat naik ojek, tapi kalau kupikir-pikir sepertinya tukang bajaj mulai kalah bersaing dengan tukang ojek. Karena itulah aku memilih naik bajaj saja nanti. Kalau ingin berhemat, rute Stasiun Gondangdia-Sarinah-Semanggi sebenarnya memakan ongkos yag lebih mahal dbandingkan rute Stasiun Kota-Semanggi. Tapi, karena pemberian pada supir bajaj itu yang kuinginkan maka biarlah rute pertama yang kuambil.

Bajaj membawaku dari Stasiun Gondangdia menuju halte bus Trans Sarinah. Aku teringat recehan yang sudah kusiapkan beberapa hari ini. Biasanya di jembatan menuju halte ini selalu ada pengemis yang stand by dengan gelas plastiknya. Benar saja, ekor mataku langsung menangkap beberapa pengemis yang berdiri di setiap tikungan jembatan. Senang rasanya bisa menuntaskan misi recehan ini.

Sesampainya di Semanggi ternyata teman-temanku sudah ada juga. Jadilah kami bertukar cerita tentang pekerjaan dan kabar masing-masing. Setelah makanan tandas dan malam semakin menjelang larut, kami pun berpamitan pulang. Tak kusangka, salah satu teman berbaik hati membayari makanan dan minuman yang kupesan tadi. Uniknya lagi, jumlah harga pesananku tak jauh beda dengan total pengeluaranku untuk transport dan pemberian hari ini. itu pun baru kusadari ketika menulis catatan ini.

Satu hal yang pasti, pikiran tentang pemberian apa lagi yang akan kulakukan ternyata membuat pikiranku malah jadi lebih relaks dan tenang. Bisa jadi, masalah yang kita hadapi terasa berat dan tak terpecahkan karena kita terlalu fokus memikirkan masalah kita sendiri, dan lupa untuk memperhatikan sesama dan semesta.

Berhubung recehan yang sudah kusiapkan kemarin batal menemukan penerimanya, hari ini kuputuskan untuk melanjutkan misi menghabiskan recehan itu. Kebetulan hari ini aku berencana melanjutkan menulis buku traveling yang sudah setengah jalan. Tapi tidak di rumah, aku ingin menulis di luar saja. Di JCO Mangga Dua Square, tempatku sering menyelsaikan beberapa tulisan. Namun, lagi-lagi aku tak menjumpai satu pun pengemis atau pengamen dalam perjalananku ke sana. Mungkin nanti saat pulang aku bisa menemukan mereka.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba aku teringat SMS ucapan tahun baru dari seorang kawan yang belum kubalas. Terpikir olehku untuk melakukan pemberian berupa tawaran untuk membantu skripsinya atau apa saja yang ia perlukan hari ini, segera saja aku mengirim pesan kepadanya. Ditemani segelas ice thai tea dan donat glazzy, aku mulai sibuk mengetik dan membaca refrensi. Ponselku berbunyi, ternyata ada balasan dari Kiki, kawan yang tadi kutawari pemberian berupa bantuan. Ia mengucapkan terimakasih atas penawaranku, namun hari ini ia sedang santai di kosnya dan sepertinya tidak memerlukan bantuan apa pun. Hemm, aku harus berpikir lagi sepertinya, pemberian apa yang akan kulakukan selanjutnya.

Kemunculan rasa bahagia dan semangat sepertinya sama tiba-tibanya dengan sebal dan kesal. Di tengah keasyikan mengetik, aku cukup terganggu dengan sebuah pesan yang masuk. Seseorang sepertinya sedang mulai menggali. Hilang sudah semangatku. Berganti dengan rasa kesal dan emosi yang tertahan. Energi positif seolah lari tanpa permisi. Sulit memang, mempertahankan diri untuk tetap berada dalam lingkaran nuansa positif tadi. Yang ada tinggal perasaan tak peduli lagi pada apa pun selain emosi yang ingin bertemu pemuasnya. Untungnya, di tengah itu semua terselip ingatan bahwa aku belum melakukan pemberian hari ini. Ingatan kecil yang sejenak bisa membuatku melupakan egosentris diri dan perasaan bahwa hanya aku satu-satunya orang yang bermasalah di dunia ini. Ditambah lagi dengan traktiran makan dari seorang kawan yang kebetulan sedang berada di tempat yang sama denganku. Senyum ceria dan berbagi canda bersama sahabat menjadi pendingin dan penyegarku.

Dalam perjalanan pulang, aku memutuskan untuk naik kereta ekonomi saja, agar bisa memberikan recehan yang sudah sejak kemarin begitu ingin kuberikan. Tak lama setelah duduk di bangku kereta, datang seorang penyapu lantai kereta ekonomi yang biasanya akan meminta sedekah selesai ia membersihkan sampah di sekitar kita. Kuambil beberapa keeping recehan dan kuberikan padanya dengan senang hati. Akhirnya recehan itu menemukan penerimanya. Tapi, ternyata malam ini hanya dia seorang peminta-minta di kereta.

Aneh ya, saat kita benar-benar ingin memberi mereka seperti sedang berlibur masal, tapi saat kita sedang tak ingin memberi mereka terus saja berdatangan silih berganti. Recehan yang masih tersisa akan kuberikan esok saja, semoga esok aku beruntung. Sebelum tidur, aku sempat mengobrol dengan seorang teman yang usianya jauh di bawahku. Ia seorang mahasiswa di sbuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Aku bercerita kepadanya tentang terapi 29 gifts ini dan tak kusangka ia begitu antusias dengan penjelasanku. Dan akhirnya ia memutuskan untuk ikut mencobanya! Senang rasanya mendengar ada satu lagi manusia di muka bumi ini yang antusias berbagi pada sesama dan semesta. Menguap sudah emosi yang sempat memadati otakku.

Kubuka pagi dengan sisa penat perjalanan Tasik-Jakarta yang belum hilang. Hari ini rencananya aku ingin pergi ke Gramedia Matraman, sekadar cuci mata dan mencari sebuah majalah computer yang sedang kubutuhkan. Kebetulan, seorang teman bersedia menemani. Saat sedang bersiap untuk berangkat, aku teringat kalau aku belum memutuskan akan melakukan pemberian apa hari ini. Tapi sudahlah, biar mengalir saja nanti sesuai kondisi yang akan kutemui hari ini.

Saat sedang menunggu bus trans Jakarta, aku terpikir untuk memberikan sebagian dari uang recehan yang ada dalam kantung merah kecil bermotif batik Bali yang selalu kubawa. Akhir-akhir ini kantung itu selalu penuh dengan recehan pecahan 500 rupiah. Bukan apa-apa, kebetulan aku memang sedang “miskin” maka jadilah recehan yang awalnya penuh sesak dalam celengan plastik bekas botol jungle juice, berpindah ke dalam kantung merah itu setiap harinya. Lumanyan untuk ongkos transport dan uang parkir hehe.

Recehan yang ada dalam kantung kubagi menjadi dua, yang ingin kuberikan sebagai pemberian kumasukkan di saku jaket merahku, sedangkan yang akan kugunakan sebagai uang transport hari ini tetap berada dalam kantung. Kebetulan hari ini rute bepergianku sebagian besar menggunakan bus trans, jadi rencananya uang itu akan kuberikan ke para peminta-minta yang biasanya banyak terdapat di setiap sudut jembatan koridor bus trans.

Sesampainya di halte bus Dukuh Atas, aku bergegas berjalan berjalan ke arah halte rute Blok M/Kota (yang sebenarnya tak perlu kulakukan karena bus tujuanku ternyata berada di sebelah tempatku turun untuk transit tadi). Jembatan yang menghubungkan dua halte ini memang cukup panjang, dan biasanya di setiap tikungan jembatan ada satu-dua peminta-minta yang stand by. Anehnya, hari tak kujumpai satu pun dari mereka. Apa mereka juga ikut liburan akhir tahun yah.. . Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan bus trans tujuan Matraman. Sampai di halte Matraman, tak jua kujumpai satu pun peminta-minta. Niat memberikan recehan yang sudah kusiapkan itu pun tak bisa kupenuhi.

Selesai urusan di Matraman, kami ingin mencoba mencicipi aneka kopi di Anomali Coffe yang ada di daerah Setiabudi. Saat berjalan di halte daerah Setiabudi pun lagi-lagi tak kutemui satu pun dari para peminta itu. Caffe latte dan Orange Honey Kiss menjadi pilihan minuman yang kami cicipi. Setelah duduk mengobrol beberapa lama, aku meninggalkan temanku sejenak untuk mencari toilet. Karena sudah kebelet, saat masuk ke dalam toilet aku lupa untuk melap dudukan toilet itu terlebih dahulu seperti yang biasa kulakukan. Setelah selesai melakukan apa yang harus dilakukan, aku sedikit menyesali diri karena tadi terburu-buru hingga lupa melap dudukan toilet itu. Terbayang olehku bahwa orang yang masuk setelahku bisa saja juga sedang terburu-buru sepertiku dan tak sempat meneteskan cairan sanitasi yang tersedia untuk melap dudukan itu. Akhirnya kuputuskan, pemberianku hari ini adalah dengan membersihkan dudukan itu dua kali agar orang yang masuk nanti bisa langsung menggunakannya dengan nyaman. Baru kali ini, aku keluar toilet dengan senyum dan rasa bahagia :).

Sesampainya di rumah, aku baru tahu kalau rekeningku sudah terisi kembali sejak beberapa hari yang lalu. Kalau saja itu kuketahui sebelum hari ini, mungkin aku tak akan menyiapkan setumpuk recehan sebagai niat pemberian, dan bisa jadi tak akan terpikir untuk melap dudukan toilet umum tadi.