:Esfand

Kalau ada yang merasa produktivitas menulisnya jadi menurun karena lebih keranjingan merancang status atau bertukar komentar di akun facebook tetangga, atau merasa berkhianat pada blog pribadinya yang terlantar sejak gandrung saling follow di twitter, tulisan ini sekadar ingin melegakan rasa bersalah itu.

Berbagai pendapat dan penelitian terkait dampak penggunaan situs jejaring sosial pada tradisi menulis seseorang, bisa kita temukan dengan mudah saat berselancar di dunia maya. Rata-rata bernuansa negatif dan cenderung mengkambing hitamkan situ jejaring sosial tersebut sebagai penyebab terbesar tumbangnya para blogger setia yang biasanya rajin memenuhi rumah-rumah mayanya dengan tulisan-tulisan panjang yang rutin berganti judul beberapa hari sekali. Tampilan facebook yang penuh aplikasi memang membuat penggunanya jadi lebih punya banyak pilihan aktivitas saat menggunakannya. Berbeda dengan blog yang memang secara umum untuk menampilkan tulisan-tulisan yang tak terbatas pada jumlah karakter tertentu.

Mungkin, ada yang beranggapan sebaliknya bahwa menulis status di situs jejaring sosial pun sebenarnya adalah juga proses menulis seperti halnya menulis untuk diposting di blog. Toh sama-sama berbentuk tulisan dan bisa jadi tak kalah berisinya dibandingkan tulisan di blog. Sekadar informasi, seorang Ernest Hemingway pernah menulis sebuah novel yang panjangnya seperti rata-rata status yang di-publish para facebookers.

For sale: baby shoes, never worn.

Hanya enam kata itu saja, 33 karakter, dan itulah novel tersingkat yang pernah dibuat Hemingway. Novel itu dibuatnya tahun 1920 saat bertaruh dengan rekannya bahwa ia bisa menulis sebuah novel lengkap hanya dalam enam kata. Model tulisan fiksi semacam itu biasa dikategorikan dalam bentuk fiksi mini. Seorang penulis Indonesia, Agus Noor mengatakan bahwa fiksi mini adalah fiksi dengan penggunaan kata tidak lebih dari 50 kata, meski ada juga yang masih toleran bila jumlahnya 100 kata. Ia mendeskripsikan bahwa prasarat utama fiksi mini adalah ringkas, tangkas, tapi cerdas dan seperti hamparan imajinasi yang luas.

Ada banyak sebutan untuk model penulisan seperti ini. Di Prancis, fiksi mini dikenal dengan nama nouvelles sedangkan di Jepang kisah pendek semacam ini disebut dengan nama ''cerita setelapak tangan'' karena bentuknya yang pendek dan seolah-olah cukup untuk ditulis di telapak tangan kita. Ada juga yang menyebutnya dengan ''cerita kartu pos'' (postcard fiction) karena tulisan serupa ini juga sesuai untuk ditulis di atas selembar kartu pos. Di Amerika Serikat, fiksi mini sering disebut fiksi kilat (flash fiction), bahkan ada pula yang menyebutnya sebagai sudden fiction atau micro fiction.

Ada banyak ide yang melintas dan menunggu antrian untuk diekspresikan, namun waktu semakin terasa tidak bersahabat. Padahal cita-cita untuk menjadi penulis fiksi tetap tak bisa lepas dari angan-angan. Fiksi mini memang menjadi pilihan gaya yang tepat bagi para penulis fiksi yang terhambat pada kendala-kendala waktu dan kesibukan. Fiksi jenis ini juga sangat bersahabat dengan tradisi baru para manusia urban yang selalu menyempatkan diri untuk berselancar di dunia maya melaui telepon seluler yang dikantonginya. Fiksi mini memang diakui keberadaannya secara teori, namun selama ini tak mendapat tempat yang sejajar dengan fiksi jenis lain dalam proses publikasinya. Satu-satunya tempat yang bisa menerima dengan tangan terbuka adalah dunia maya beserta segala judul dan model rumah mayanya.

Akan tetapi, bukan berarti fiksi mini adalah karya yang instan dan asal cepat jadi. Kepadatan isi dari karya semacam ini justru akan semakin membuat pembacanya terpancing untuk memperpanjang cerita dengan imajinasinya masing-masing. Fiksi mini ibarat cinta pada pandangan pertama, yang membuat seseorang terkesiap dan tak bisa lepas dari efek yang ditimbulkannya selama berhari-hari berikutnya. Kesan yang ditinggalkan oleh fiksi jenis ini bisa jadi sama dengan kesan selepas membaca beratus-ratus halaman novel tebal. Tak ada alur yang berbelit, tak ada pula dialog yang berbaris-baris. Semua terangkum menjadi satu sentakan yang menggigit dan meninggalkan rasa penasaran di akhirnya. Ada sebuah fiksi mini yang ditulis oleh penyair Joko Pinurbo, yang sangat menggelitik imajinasi dan membuat pembacanya menajdi terprovokasi untuk mengangankan sendiri alur ceritanya:

Penjahat Berdasi
Ia mati dicekik dasinya sendiri.

Jadi, tak ada alasan sebenarnya untuk tidak terus menulis fiksi, meski blogging tak lagi jadi pilihan utama. Fiksi mini bisa dipublikasikan dalam bentuk status di facebook atau twitter. Batasan maksimal penulisan status di facebook yang sejumlah 420 karakter, dan 140 karakter untuk twitter, sepertinya sesuai pula dengan batasan penulisan fiksi mini. Para penulis fiksi atau yang sedang berusaha untuk menjadi penulis fiksi yang baik, tak perlu lagi merasa khawatir dianggap tak produktif karena melulu sibuk menulis status terbaru alih-alih berkutat dengan layar word kosong demi menulis postingan baru penghias blog yang dimilikinya.

Apa pun produk jaman baru, sebenarnya tergantung pada sang pemakai. Apakah akan digunakan untuk melejitkan diri, ataukah akan dipakainya sebagai batu loncatan yang membuatnya terjun bebas dan semakin kehilangan kecemerlangan bakat dan ide-ide segar. Selamat berselancar, selamat berfiksi mini!

7 komentar:

mbah jiwo mengatakan...

saya pernah membaca ulasan ini di sebuah koran, tapi saya lupa...

Zool mengatakan...

Good Point..

yons achmad mengatakan...

bagiku fiksi mini adalah pelarian karena gak bisa nulis cerpen (alias nulis crita yg panjang) ^_^

tp dalam bereksperimen, daku lebih suka membuat "Haiku", dan baiku "Haiku" itu juga fiksi mini juga. gak tahu kalao mnrtmu he he

esfand mengatakan...

@mbah jiwo: pernah dikupas di kompas kalau ga salah, kalau tulisanku ini pernah dimuat di sabili.
@zool: keep writin bro
@yons: "haiku" itu apa mksdnya? btw mas, kelas menulisnya dah mau mulai niy, gmana caraku bisa ngsh penjlsan job ke dikau?

yons achmad mengatakan...

haiku adalah puisi tradisional jepan yang berisi tiga baris. yang awalnya menggambarkan musim, selanjutnya tentang persaan-perasaan penulisnya.

btw kelas menulis yg mana neh. belum ngeh gw. oh ya, skrg aye gak mainan facebook ato twitter. kembali ke email dan blog. kalau ada sesuatu kirim aja info ke kolumnis@gmail.com

esfand mengatakan...

@yons: kelas menulis onlinenya Coin, dikau jd fasilitator utk materi menulis resensi, atapi mau bantuin aku juga di materi fiksi? mau mulai april nanti, ya deh tar gw kirim descrip nya via email. ah, gaya lu mas ga pake fb lagi ;p trauma yah haha

yons achmad mengatakan...

resensi ya ya. bantuin lo ok, ape sih yang nggak buat lu he he. sep kirim aje ke imel biar COIN ntar semakin moncer aja di dunia persilatan. untuk FB, ntar bulan depat gw buka. ini bener bener lagi crowded projek buku euy :-)