Senin, 01 Desember 2008

MAKASSAR, PADA SUATU KETIKA

(bagian 1: budaya dan masyarakat)


Akhirnya, saya berkesempatan juga menjejakkan kaki di bumi para karaeng dan puang ini. Teriknya mentari, adalah hal pertama yang menyapa kedatangan saya disana (selain bandara baru yang entah mengapa dibuat penuh dominasi bahan kaca, sebentuk arsitektur urban yang serasa mengkontra tradisi). And, the journey began.

Makassar merupakan sebuah kota di ujung selatan Sulawesi, di bagian kaki dari pulau yang memang berbentuk seperti huruf “K”. Dalam kenyataannya, Makassar (dan Sulsel pada umumnya) memang merupakan salah satu nadi dan tumpuan utama di wilayah Sulawesi. Beruntung, saya mempunyai banyak kawan dan sahabat di kota ini sehingga akomodasi tidaklah menjadi masalah yang berarti. Rumah kontrakan sahabat dekat saya di daerah Bontobila 5 menjadi pilihan utama. Rumah kontrakannya bergaya panggung, dengan dominasi bahan kayu pada tangga, lantai, dan temboknya (lengkap dengan rawa penuh kangkung tepat di sisi kanannya).

Sebagai mantan mahasiswa jebolan fakultas sastra, hal selanjutnya yang menarik perhatian saya adalah bahasa lisan masyarakat Makassar yang dipenuhi berbagai partikel tambahan di akhir hampir setiap kata yang mereka ucapkan, mulai dari ji; pi; pa; mi; ma; ka; ki; bella; palle; bede; dst. Jangan bertanya apa beda dan bagaimana penggunaannya, karena sampai hari terakhir di kota itu saya tak juga paham bagaimana cara memakai partikel-partikel itu. Beberapa kawan yang saya tanya pun tak juga bisa member penjelasan yang sistematis (bahkan cenderung membuat saya semakin bingung, hehe..). Bisa jadi ini merupakan gejala kebahasaan yang sifatnya given karena ternyata anak-anak kecil yang masih berseragam TK saja sudah pandai menggunakan partikel tersebut. Barangkali seperti partikel ta; se; wes dalam bahasa Surabayaan, atau partikel je dalam bahasa jawa Yogyakarta. Yang jelas ini bahasa dengan jumlah partikel terbanyak, sepanjang yang saya pernah jumpai.

Berbicara dengan intonasi tinggi adalah hal yang biasa dalam masyarakat Makassar. Hal ini tentunya sesuai dengan karakter mereka yang dikenal keras. Sesuai pula dengan keberadaan kota sebagai Bandar pelabuhan utama di Sulawesi. Namun, karakter bahasa yang digunakan (saya tidak membedakan jenis bahasa yang mereka gunakan, apakah bugis atau makassar atau lainnya) mengesankan tingkat tata-krama khas daerah kerajaan (meski ada pula daerah bekas kerajaan yang tidak memiliki karakter bahasa serupa ini), salah satunya dengan penggunaan bentuk sapaan yang bertingkat.

Karena saya pernah tinggal cukup lama di Pulau Lombok, saya pun merasakan bahwa bahasa yang digunakan oleh masyarakat Makassar dan sekitarnya banyak yang mirip dengan bahasa Suku Sasak yang menjadi bahasa penduduk asli Pulau Lombok. Sepulang dari Makassar (ketika singgah di pedalaman Jawa Timur tempat orangtua saya bermukim) saya baru mendapatkan jawaban ketika menceritakan hal ini kepada ibu saya. Ternyata di masa lampau, banyak pelarian dari kerajaan bugis yang menjadikan Pulau Lombok sebagai tujuan pelarian mereka. Dan bisa jadi, akhirnya budaya dan bahasa mereka bercampur dengan budaya dan masyarakat Lombok.

Pengaturan Kota Makassar (terutama di daerah menjelang Pantai Losari) mengingatkan saya pada pola pengaturan daerah di Denpasar (terutama di daerah menjelang pantai-pantainya) semasa saya masih tinggal di Denpasar, dahulu (entah sekarang, apakah masih serupa itu ataukah telah ditumpuki paksa dengan bangunan-bangunan baru demi cita rasa modernitas). Pete-pete (sebutan untuk angkot) menjadi angkutan umum utama di kota ini dan sekitarnya.

Yang jelas, saya suka kota ini. Meski teriknya begitu memanggang, dan dinginnya begitu merasuk, tetap saja kota ini menguarkan aroma antara barat dan timur (yang bergulat mengukuhkan eksistensinya masing-masing) bercampur dengan semangat masa lampau yang seolah enggan digeser penuh.

0 komentar: