Senin, 08 Oktober 2007

TENTANG TRADISI BACA DI KELUARGAKU



`the esfand`

Siapa yang menjejakkan kedua kakinya
Di tanah, akan berdiri tegak
(Tor Ǻge Bringsvǽrd)


Buku pertama yang kubaca adalah buku-buku seri belajar membaca di bangku Taman Kanak-kanak. Aku sudah lupa judul dan bentuknya. Selepas TK aku sudah lancar membaca, dan mulai menjadi bagian dari “book monster” di rumahku. Wildan dan Nia, kedua kakakku yang telah lebih dahulu menggilai buku. Bobo, Donald Bebek, Kawanku adalah beberapa majalah yang rutin menyambangi kami setiap bulannya. Aku paling suka kisah “Petualangan Pak Janggut” di majalah Bobo. Kisahnya tentang petualangan seorang kakek dengan buntalan ajaibnya yang berisi segala benda yang ia butuhkan. Membaca adalah bagian dari keseharian kami bertiga, dan buku adalah salah satu benda yang akan selalu kami bawa kemana-mana. Pulang sekolah, sebelum tidur siang, kami membaca. Bangun tidur, sambil nonton TV, kami membaca.Ketika makan, kami pun makan sambil membaca. Saat bepergian jauh ke tempat Nenek di Jawa, kami pun tak lupa menyelipkan beragam buku atau majalah favorit kami dalam tas yang dibawa Bunda. Bahkan, kadang kami pun membawa buku saat beraktivitas di kamar mandi!

Masuk Sekolah Dasar aku semakin keranjingan membaca. Apalgi di sekolah ada perpustakaan yang cukup bergam koleksi bukunya. Aku dan kedua kakakku, yang besekolah di SD yang sama, menjadi pengunjung dan peminjam setia perpustakaan sekolah. Saking terobsesinya dengan buku dan majalah, pernah suatu saat aku berkeinginan sekali untuk membuat majalah sendiri. Kuambil beberapa kertas bekas yang salah satu sisinya masih kosong, kugunting-gunting dan kulipat-lipat berbentuk majalah, lalu aku mulai memikirkan rubrik apa saja yang akan dimuat di majalahku itu. Majalah mungil tak berbentuk itu kuberi nama “Cembel” kepanjangan dari Cermat Belajar. Mulai dari kata pengantar sampai rubrik-rubrik sederhana lain kutulis dengan pensil. Yah, amat sangat sederhana tentu saja. Namanya juga tulisan tangan anak kelas dua SD. Setelah selesai, dengan bangga “majalah” itu kuperlihatkan pada kakak dan Bunda. Mereka hanya tertawa lucu melihat hasil karyaku yang acak-acakan itu. Esokknya, Bunda membelikannku dia buku catatan kecil agar aku bisa menuliskan apa yang ada dalam pikiranku disana.

Buku yang kami sukai di masa-masa itu adalah kisah Oliver Twist, Gullifer, Winnetou, petualangan Lima Sekawan, Trio Detektif, kisah Tono dan Tini, STOP. Kami bertiga memang sangat suka kisah-kisah petualangan. Buku-buku cerita berlatar lokal juga kami gemari. Saat itu buku semacam itu sangat mudah ditemui. Ceritanya sederhana, kental dengan nuansa etnik dan sarat akan pesan moral yang mendidik. Cerita yang kami suka adalah kisah petualangan “Si Alui” yang begitu membekas padaku sampai sekarang. Maka, semakin sesaklah lemari buku di rumah kami.

Terkadang, Bapak membawa kami ke perpustakaan daerah di kota Mataram. Di sana ada ruangan khusus untuk bacaan anak. Ruangannya cangat cozy, dengan karpet bersih yang menjadi alasnya serta dekor ruangan yang dibuat colorfull. Bunda selalu membekali kami dengan berbagai makanan ringan dan minuman yang boleh kami makan sambil membaca di perpustakaan itu. Biasanya kami ditinggal saja disitu, sembari Orangtua kami berbelanja keperluan lain di Mataram. Siang hari kami dijemput kembali. Sungguh sebuah konsep perpustakaan anak yang sangat menyenangkan. Anak-nak yang berkunjung tentu saja menjadi semakin betah untuk berlama-lama membaca disana.

Beranjak remaja, bacaan kegemaran kami mulai berlainan. Wildan mulai berlangganan Hi, sedang Nia mulai keranjingan Kawanku. Aku masih setia dengan Bobo dan Donald Bebek. Wajar saja, kedua kakakku sudah SMP sedang aku masih di bangku SD. Selanjutnya, buku memang akhirnya menjadi bagian dari kehidupan kami. Bukan sekdar hobi, namun sudah berubah menjadi kebutuhan.

Menginjak dewasa, tradisi itu sama sekali tidak berubah. Semakin mengakar malah. Kami sudah bisa membeli sendiri buku-buku yang kami sukai dari hasil kerja kami masing-masing. Wildan lebih masih suka buku-buku petualangan, komik-komik lucu, serta sejarah tempo dulu. Nia lebih suka novel, baik luar maupun dalam negeri. Belakangan ia mulai membaca dalam bahasa asing. Aku lebih suka membaca novel-novel sastra, kisah petualangan, buku-buku keislaman yang mencerahkan serta buku-buku bertema sosial-budaya.

Saat pulang kerumah, seperti Lebaran, biasanya adalah saat saling mengintip buku bawaan. Dari sana kami saling menakar perkembangan pemikiran satu sama lain. Sayangnya, Lebaran kali ini aku tidak pulang. Jadi penasaran, buku apa gerangan yang dibawa mereka berdua kali ini…


Ciganjur, 7#09#07

PS:
- Wildan, Lima Sekawanku balikinnnnn……hehehe. Kalau nemu STOP lama di Alun-alun Kidul, beliin buat aku ya
- Nia, colat Belgianya di paketin dunk buat aku….

3 komentar:

Yon's Revolta. mengatakan...

daku demen baca malah telat.

baru akhir kuliah aja. sebelumnya
cuman main and jalan-jalan mulu.

btw, ayo review dong buku yang udah dibaca bu. yang keren-keren yah. terutama novel bagus :-)

pande ™ mengatakan...

saya bayar buku si alui nya

Okthafia Puspitasari mengatakan...

mau donk buKu si ALui nya... saya bayar bwt anak saya....