Jumat, 05 Oktober 2007

DIA ADALAH MALAM



`the esfand`


Entah kemana bulan sabit yang biasanya menempel di langit, seperti buah pisang raja matang di atas bentangan kain hitam, pada tanggal-tanggal seperti ini. Mungkin ia sedang merajuk, atau barangkali malah berebut tempat dengan bulan separuh dan bulan penuh. Yang jelas malam ini benar-benar malam seperti siratan makna katanya. Gelap, kelam, pekat, suasana dimana semua bayangan serasa lenyap begitu saja.

” Menurutmu malam pekat seperti ini romantis tidak, Mas?”

Yang ditanya ternyata tetap ingin seperti tampilan malam itu, sunyi. Sembari sesekali menyesap kopi Lampung oleh-oleh tetangga sebelah rumah yang baru pulang kampung, ia tetap saja membatu seolah toleran dengan hilangnya bulan. Namun, kawan disebelahnya yang tadi meminta pendapat rupa-rupanya terlanjur terserang rasa gatal akibat penasaran. Maklum, kawan yang ditanya ini memang terkenal sebagai orang bijak di kampung situ.

”Mas Kamal, mbok ya dijawab sedikit. Apa enaknya diam-diaman begitu itu dari tadi. Wong yang ronda kan cuma kita berdua malam ini. Sampeyan tega membiarkan saya ngoceh sendiri tanpa teman? Lagipula apa ya ndak bosan sejak dari tadi diam dan minum terus? Nanti beser lho, Mas. Kamar mandinya kan jauh.
Rupanya ucapan terakhir dari kawan si pendiam itu cukup mujarab untuk memecahkan sunyi yang ada. Terbukti dengan senyuman diiringi tatapan geli yang dilemparkan si pendiam yang ternyata bernama Kamal itu pada temannya yang sejak tadi ia biarkan saja mengoceh sendiri.

” Maaf lho, Kang. Bukannya saya mau nyuekin, tetapi malam yang seperti ini memang selalu spesial buat saya. Beda dengan orang-orang kebanyakan yang malahan takut keluar rumah kalau malam pekat begini menjadi pengganti siang. Yang takut dedemitlah, yang takut kerampokanlah, malah ada juga yang takut kecelakaan karena gelapnya memang benar-benar gelap. Kalau dibuat perumpaan dengan gradasi warna, warna langit ini mungkin warna hitam tua, ya Kang?”
” Ah, mas Kamal ini bisa saja. Mana ada warna hitam tua. Hitam ya hitam. Btw ma...”
Lho, tiba-tiba Kamal memotong di tengah jalan ucapan kawannya itu, walau sebenarnya tinggal menyelesaikan satu huruf saja.
“ Sebentar, Kang. Btw itu apa? “
Oh, ternyata Kamal tidak mengerti arti singkatan BTW yang diucapkan temannya. Nampaknya si Kamal ini tidak begitu luas pergaulannya.
” Walah, Mas Kamal ini gimana...masa BTW aja tidak tahu. BTW itu singkatan dari : By The Way alias ngomong-ngomong dalam bahasa Indonesia. He..he..he saya juga cuma denger-denger waktu si Andi anak tetangga sebelah ngobrol sama teman-temannya.”
Sambil tertawa senang karena berhasil ngomong dengan bahasa yang lebih keren dibanding Kamal yang dikenal sebagai seorang pemuda bijak dan berbobot, kawan yang dipanggil Kang itu lantas memukul kentongan yang ada di depan pos ronda sebanyak satu kali. Sudah semakin larut nampaknya. Aneh, sekilas mata Kamal nampak sedikit membelalak sesaat setelah kentongan dipukul.
“ Ayo tho, Mas, dijawab pertanyaanku yang tadi itu. Romantis tidak?”
Hmm, agaknya kawan satu ini begitu penasaran dengan jawaban si Mas Kamal tentang romantis atau tidak malam yang gelap pekat itu.
“ Romantis bagaimana, wong gelap dan dingin begini. Mana nyamuknya juga banyak, ndak bisa dibiloang romantis yang begini ini. Romantis itu kan suasana yang bisa memberikan kedamaian, ketentraman jiwa dan ketenangan pikiran. Pokoknya suasana yang bisa melambungkan rasa dan akal, itu baru romantis. Memang kenapa sih, Kang, kok nanyanya seperti itu?” tukas Kamal panjang lebar yang berakhir dengan pertanyaan balasan.
“ Cuma kepingin tahu saja pendapat Mas Kamal, soalnya ehm..itu…si Ina pacarku yang anak desa sebelah itu selalu ngotot mengajak jalan-jalan keluar rumah jika malamnya seperti ini. Aku tidak tahu juga apa maksudnya, karena pikiranku sama seperti Mas Kamal tadi malam-malam gelap dan dingin ditambah gigitan nyamuk kelaparan kok ya bisa dianggap romantis. Keblinger film-film barat barangkali anak itu,” ujar kawan yang ditanya perihal alasannya bertanya seperti itu tadi.
Sesekali nampak kelebatan abu-abu kehitaman milik sayap Kalong yang tengah melintas di depan pos ronda yang menjadi tempat dua kawan itu berbincang. Dahsyatnya kemajuan dan perubahan di desa mereka ternyata tidak berpengaruh besar pada kawanan keluarga Kalong untuk tetap meramaikan desa itu. Namun nasib baik itu ternyata tidak menimpa semua kawanan binatang yang ada. Banyak dari jenis burung-burung pedesaan yang dahulu riuh mengitari pepohonan dan perumahan kini paling-paling tinggal burung Emprit saja.

Pos ronda itu terletak di batas jalan raya dan jalan masuk desa mereka. Biasanya tidak hanya dua orang yang berjaga, mungkin yang lain sedang sakit atau ada hajat. Arsitekturnya sederhana saja, khas desa-desa pinggiran, bangunan berpangung dari kayu beratap genting lengkap dengan sebuah kentongan yang barangkali memang wajib ada di setiap pos ronda desa manapun. Namun kentongan di desa ini lebih unik dan sedikit bercita-rasa etnis dibandingkan desa-desa tetangga. Berbentuk mirip bulan sabit dari kayu yang tidak pernah ditemukan di daerah sekitar situ, berlapis semacam kulit kerbau dan bersuara dung..dung..tok..tok..yang gemanya sampai sedikit mampir ke desa sebelah. Konon katanya kentongan bulan sabit itu sudah ada sejak pendatang pertama desa itu menetap.

Kamal kembali melayangkan pandangnya ke bentangan langit yang terlihat seolah tanpa batasan. Tiada yang tahu betapa langit serupa ini selalu mendenyut-denyutkan jantungnya. Campuran antara pilu, dendam, dan rindu. Tiada penduduk desa yang tahu sebenarnya darimana anak muda ini berasal. Semua hanya mengingat dua puluh tahun yang lalau Pak Harto, Lurah desa mereka, tiba-tiba mengangkat anak seorang bocah lelaki berusia lima tahun bernama Kamaludin. Pak lurah dan Bu lurah memang menutup rahasia masa lalunya dengan baik, bahkan dari dua anak kandungnya sendiri.

“ Oh ya, Mas, bulan depan insyaallah saya mau pergi merantau. Ada saudara yang menawari pekerjaan membantu-bantu di toko mebelnya yang sedang banyak orderan. Kebetulan aku ini kan keahliannya ya cuman yang berhubungan dengan mebel begitu itu,” ungkap kawan yang dipanggil Kang itu memecah kesunyianyang cukup lama melingkupi pos ronda itu.
“ Baguslah. Sayang juga kalau punya keahlian tetapi tidak dikembangkan terus. Siapa tahu nanti malah bisa mendirikan usaha mebel sendiri. Di kota mana memangnya, Kang? Setahu saya kalau usaha mebel yang terkenal ya dari kota Jepara, apa mau kesana?” Sahut Kamal sejurus kemudian.
“ Doain saja,Mas. Itu juga cita-citaku. Bukan Jepara, kebetulan saudaraku itu menikah dengan perempuan asli Jawa timur dan tinggal di sana membuka usahanya itu, “ Jawab kawan itu menanggapi.

Sesaat hati Kamal mencelos dingin begitu mendengar kata Jawa Timur disebutkan. Ingatannya sekejab menembus batas ruang dan waktu menuju masa dimana semua kehidupannya seolah berubah 180 derajat. Ingatannya dipaksa untuk kembali menampilkan rekaman kejadian yang menimpa keluarga yang begitu dirindukannya itu.
Malam saat kejadian yang telah lama berlalu itu persis sama pekat dan gelapnya. Kamal dan kakak perempuannya, Rodiyah, sudah lama terlelap di bale-bale kayu depan televisi hitam putih –satu-satunya barang yang paling berharga di rumah mereka- di ruang tengah. Sebenarnya Kamal belum benar-benar tidur, sesekali ia mencuri-curi pandang dari balik sarung hadiah sunatan ke arah Mak yang masih saja bergelung dengan anyaman tikar pandannya. Kamal ingin sekali membantu, tetapi ia tahu hal itu hanya akan membuat Mak marah dan kesal. Besok upacara bendera, jadi mereka harus bangun dan berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya. Sepertinya bapak belum pulang, mungkin dapat jatah ronda.

Orkes binatang malam sesaat diselingi dengan bunyi kentongan yang dipukul satu kali. Keriuhan kehidupan sudah lama berakhir, dihalau senyap yang perlahan merambat. Selain dingin yang menusuk, pekatnya malam yang seluruhnya tak berbintang menimbulkan keengganan jamak pada penduduk desa itu. Apalagi berita pembunuhan beberapa orang warga -yang diduga keras menjadi juru santet- di daerah Kabupaten tempat desa itu berada masih hangat-hangatnya menjadi headline Koran-koran lokal maupun nasional. Sudah menjadi rahasia bersama, memang, jika kota-kota di daerah Jawa Timur adalah surganya pemburu ilmu hitam dan berbagai jimat kesaktian, termasuk juga jasa para dukun santet yang tersedia dari harga teman hingga super deluxe. Tergantung resiko dan hasil yang diinginkan.
Kamal masih sesekali mengintip dari celah atas sarungnya, dan Mak masih terus menganyam tikar. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu, mungkin bapak. Setelah meletakkan anyaman tikar yang baru setengah jadi, Mak melangkah ke pintu depan. Bunyi derit menjadi pertanda pintu telah dibuka. Benar, bapak yang datang.
“ Anak-anak sudah tidur?” Tanya bapak sambil duduk di kursi depan televisi.
“ Sudah dari tadi “ jawab Mak sejurus kemudian sambil menyeduh teh panas untuk bapak.
“ Gentong besar di dapur ada isinya tidak, Mak?” tanya bapak lagi.
“ Kosong, pisang yang kemarin kuperam disitu sudah kujual tadi pagi. Mau dipakai ?” ujar Mak menjelaskan.
“ Tidak, cuma ingin tahu “ sahut bapak sambil menyalakan televisi yang hanya menampilkan sekumpulan semut.
Itulah kali terakhir Kamal mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Setelah itu tiba-tiba pintu menjeblak paksa, serombongan orang masuk mengacung-acungkan sabit dan parang sambil berteriak marah.
“ Tukang santet! hajar saja! bunuh!”
“ Bakar rumahnya! biar hangus semua jimatnya!”
“ Habisi saja, sebelum satu desa ini disantetnya!”
Teriakan dan geraman terus bertalu. Kamal hanya ingat tubuh kecilnya di gendong Mak dengan kasar menuju dapur. Disana tubuh mungilnya itu dimasukkan ke dalam gentong besar seukuran tubuhnya tempat biasanya Mak memeram pisang.
“ Diam disini, jangan bergerak dan bersuara! “ pesan terakhir Mak sebelum menutup gentong dengan tumpukan kayu bakar.

Pogung Lor, 21/08/06

0 komentar: