Selasa, 02 Juni 2009

JEJAK DRAKULA DALAM KARYA SASTRA

:muthia esfand

Salah satu cara menyenangkan untuk mengemari sejarah adalah dengan menikmatinya dari lembar-lembar buku fiksi. Sebuah karya fiksi pada dasarnya menyimpan nafas jamannya. Baik jaman ketika karya itu tercipta, maupun jaman yang menjadi inspirasi sang penulis dalam membawakan ceritanya pada pembaca. Meski, memang, pembaca harus pintar menelisik dan memilah mana saja bagian yang benar-benar warisan sejarah, dan mana saja bagian yang merupakan buah imajinasi kreatif sang penulis.

Salah satu tokoh setengah fiksi setengah nyata yang sering menjadi materi utama sebuah karya fiksi (dan bahkan karya film) adalah sosok manusia immortal bernama Drakula. Ada banyak perbedaan versi tentang nama dari sosok legendaris ini. Jejak dari sosok ini terdapat di berbagai wilayah, dari masa ke masa. Persia kuno, Babylonia, China, Suku Aztec kuno, Rumania, kawasan Slavia, dan berbagai wilayah lain. Setiap wilayah memiliki sebutan tersendiri terhadap sosok ini. Penggambaran tentang Drakula pun bermacam-macam. Ada yang menggambarkan ia sebagai sosok abadi yang gemar menjadikan darah sebagai asupan energi utamanya, ada yang menyebutkan ia sebagai sosok yang anti terhadap bawang putih dan simbol agama, bahkan sosok yang takut pada cahaya mentari.

Yang akan ditelisik dalam catatan ini adalah beberapa penggambaran sosok Drakula dalam karya-karya fiksi yang populer maupun yang memang sudah tersedia di sekitar kita. Baik yang merupakan karya lokal maupun karya terjemahan.

The Historian, Elizabeth Kostova
Buku ini menampilkan sosok Drakula secara lengkap dan terperinci, karena memang sosok itulah yang menjadi ide utama cerita. Sang penulis mengambil perspektif sejarah yang didasarkan pada masa pemerintahan Dinasti Utsmani di Turki. Pada masa itu, ada sebuah kerajaan di daerah Wallachia (kini masuk dalam wilayah negara Rumania) yang diperintah oleh seorang raja muda bernama Vlad Tepes Dracula. “Dracula” dalam nama sang raja bermakna dragon atau naga. Nama ini diwarisi dari sang ayah yang menjadi anggota sebuah orde bernama orde naga. Dari nama raja inilah barangkali sosok Drakula bermula. Ketika kecil, ia pernah menjadi tawanan kerajaan turki karena wilayah yang dikuasai keluarganya tidak mau juga tunduk pada kekuasaan sang Khalifah. Daerah Wallachia memang dikenal sebagai salah satu wilayah yang sampai akhir masa pemerintahan Utsmani tidak pernah berhasil dikuasai. Saat menjalani masa penahanan tersebut, ia dipercaya melihat dan mempelajari berbagai teknik penyiksaan tawanan yang dilakukan oleh tentara Ustmani. Saat dilepaskan dan kembali ke kerajaannya, ia menjelma menjadi sosok yang kejam dan gemar menerapkan teknik penyiksaan yang kejam pada siapa saja. Bahkan istrinya pun menjadi korban. Karena darah tak terhingga yang ditumpahkannya itulah ia dipercaya memiliki kekuatan abadi lewat ritual-ritual tersebut.

Beberapa tinggalan sejarah itu kemudian diramu oleh Kostova untuk membuat sosok Drakula kontemporer sesuai imajinasinya. Penggambaran sosok tersebut tak beda jauh dengan mitos-mitos lain tentang mahluk ini. Meminum darah, tidur di siang hari dan keluar berburu di malam hari, serta hidup abadi dan hanya bisa ditumpas dengan tikaman benda tajam di jantungnya. Hal yang menarik dari buku ini adalah penggambaran kronik yang unik tentang keterlibatan Vlad Dracula yang hidup abadi dengan para knight templar yang dipercaya menjadi penjaga terakhir dari pusaka umat kristiani di masa itu. Pembaca juga bisa menemukan jejak-jejak Dracula di Amerika, Turki, Rumania, bahkan Bulgaria dalam buku ini, lengkap dengan refrensi tentang berbagai tempat dan perpustakaan tua yang menyimpan literature dari masa ke masa tentang keberadaan Drakula.

Dracula, Bram Stoker
Buku ini adalah cerita fiksi klasik, barangkali yang pertama kali, yang menceritakan kehidupan Count Dracula di sebuah puri di daerah pedalaman Transylvania, lengkap dengan kelelawarnya, yang akhirnya berkehendak mencari cinta. Sang Count digambarkan sebagai sosok mahluk immortal penghisap darah. Dalam edisi layar lebarnya, film ini menampilkan sosok Keanu Reave dan Wynona Rider.

Serial Twilight, Stephenie Meyer
Sosok Edward Cullen barangkali akan menjadi sosok vampire yang paling digandrungi oleh para pembaca muda jaman ini. Inti cerita dalam buku ini lebih memuat tentang masalah percintaan manusia, yang diramu menjadi sajian yang cukup menarik karena melibatkan sosok-sosok legendaries seperti vampire dan serigala jadi-jadian atau werewolf. Dalam kisah ini juga dituturkan tentang perseteruan berabad-abad antara kaum vampire dan werewolf. Tipikal vampire yang diambil dalam kisah ini dikonotasikan dengan mahluk immortal penghisap darah (dan yang ternyata juga bisa menjadi “vegetarian”) yang mewujud dalam sosok yang penuh pesona. Mereka juga memiliki kecepatan serta keahliah khusus sesuai dengan karakteristik khas yang dimiliki oleh setiap vampire itu ketika masih berwujud manusia biasa. Vampire dalam kisah ini tidak digambarkan tidur sepanjang siang, melainkan tetap terjaga tanpa butuh tidur. Hal yang menarik adalah penggambaran tentang “kekaisaran” dunia vampire yang terdapat di Italia, yang menjadi penguasa dan penjaga eksistensi dunia vampire. Pointer ini merujuk pada kondisi Italia sebelum revolusi gereja yang banyak menghabisi orang-orang yang dianggap berilmu hitam atau cendikiawan dengan ilmu yang membahayakan gereja.

Keluarga Drakuli, Hilman Hariwijaya
Cerita fiksi ini asli buatan anak negri. Penulisnya adalah sang penulis serial Lupus yang digemari semua kalangan sejak tahun ‘80an. Cerita komedi ini berkisah tentang tentang keluarga drakula kocak yang tinggal di sebuah kuburan kota. Tak perlu takut sedikit pun dalam mebaca kisah ini, karena hanya kelucuan, yang membuat pembaca tak henti tersenyum, yang tersaji. Buku ini barangkali untuk meniadakan kesan ganjil dan suram pada sosok drakula yang sudah umum dimengerti masyarakat.

The Alchemist dan The Magician, Michael Scott
Serial buku ini layak dibaca bagi para penggemar novel sejarah. Mengambil tema besar tentang kehidupan para ilmuwan masa lampau, buku ini juga mengupas tentang berbagai kejadian sejarah serta legenda dan mitos berbagai macam mahluk magis. Salah satu mahluk yang menjadi tokoh adalah Scathach dari klan vampire. Dalam buku ini, vampire ditampilkan sebagai sosok yang sudah mendiami bumi sebelum manusia ada. Klan vampir terdiri dari bermacam-macam kelas, dan hanya kelas paling rendahlah yang hidup dari menghisap darah. Usia dari klan vampir bisa sangat panjang, jika ia tidak dibunuh. Salah satu kelebihan klan ini adalah kemampuannya untuk bisa menghisap dan menyerap rasa dan emosi yang dialami oleh manusia.

Nah, itulah barangkali beberapa buku fiksi yang menjadikan sosok drakula atau vampir sebagai objek pembicaraan. Bagaimanapun juga, sosok ini tetaplah perpaduan antara kenyataan dan peninggalan. Tergantung dari cara pandang masing-masing orang. Salah satu kelemahan manusia modern bisa jadi adalah sikap abai terhadap sesuatu yang tak benar-benar pernah dan mampu ia lihat secara langsung, serta sikap yang seolah-olah menjadi penghuni tunggal semesta ini sejak pertama kali tercipta.

3 komentar:

humairamarby mengatakan...

yg the historian tu aq da baca mba'
bsa d jadiin bantal buku nya
tp kaya'nya pngetahuan kostova ttg shiroh Islam cm sa'iprit
mnurut ku sih

Anonim mengatakan...

drakula zaman sekarang mungkin lebih serem dari drakula dulu ... wujudnya sih macam2 bahkan keren2, borjuis, or maybe looks very polite and alim...tapi bisa jadi sang drakula lebih vegetarian dari si cullen heheheh...bukan darah yg diisap tapi alasan seseorang untuk hidup...

Auliya mengatakan...

ni tho, serial drakula sing arep anti terbitke?