:Muthia Esfand

Tiba-tiba, kata “dodol” menjadi pilihan kata yang rame-rame digunakan oleh beberapa penulis muda Indonesia. Bukan, ini bukan tulisan bertema kulineri atau tips meracik penganan dodok, melainkan buku nonfiksi atau fiksi berjenis komedi yang menceritakan tentang pengalaman hidup sehari-hari anak muda zaman sekarang. Sebagian besar bernuansa kehidupan anak muda pada umumnya, namun ada pula yang menebarkan nuansa religi di dalamnya, meski tidak kental.

Kisah-kisah dalam buku tersebut biasanya merupakan pengalaman keseharian sang penulis dan lingkungan sekitarnya, terutama kisah-kisah yang mengeksploitasi kelucuan-kelucuan kecil yang pernah dialami olehnya. Titik tolak kemunculan model penulisan jenis ini di era pascareformasi barangkali sejak booming buku “Kambing Jantan” karya Raditya Dika beberapa waktu lampau. Buku tersebut merupakan kumpulan catatan kesehariannya yang ia publikasikan di blog pribadinya. Setelah itu, mulai bermunculanlah buku-buku sejenis yang memotret berbagai aktivitas pergaulan anak muda. Ada yang tentang mahasiswa “dodol”, pelajar “kedodolan”, anak kos “dodol”, bahkan kisah “kedodolan” seorang dokter muda.

Tema semacam ini sebenarnya bukan hal yang baru. Di era 80-an ikon remaja yang kehidupannya penuh dengan hal-hal lucu dan konyol ditampilkan dalam sosok “Lupus” yang identik dengan rambut jambul dan permen karetnya. Lupus menjadi bacaan yang sangat digandrungi para muda era itu.

Sebuah karya tulis adalah representasi dari degup dan hentak zamannya. Ketika membaca sebuah karya, para pembaca pasti disuguhkan dengan berbagai background yang dipungut mentah-mentah dari realita masyarakat tempat sang penulis bersosial. Karena itulah, sebuah karya sastra bisa menjadi media perekam sejarah lengkap dengan segala polah-tingkah manusia di setiap masanya.

Lantas, apa sebenarnya yang menjadikan buku-buku bertema serupa ini begitu digandrungi bahkan menjamur di berbagai toko buku saat ini?
Music-film-fashion adalah tiga hal yang menjadi simbol generasi muda saat ini. Bukan hal yang baru sebenarnya, karena sejak dahulu pun tiga hal ini dikenal akrab oleh setiap generasi mudanya. Kondisi saat ini menjadi sedikit berbeda karena industri lokal yang melingkupi tiga hal tadi semakin eksis dan kompetitif dalam beberapa tahun terakhir. Menjamurnya clothing co, grup musik lokal, dan film-film buatan anak negeri adalah indikasi dari kondisi tersebut. Hal itu juga berpengaruh secara signifikan terhadap industri-industri lain, seperti telepon seluler; aneka jenis alat pemutar musik; penyelenggara konser musik; dan berbagai jenis industri lain di bidang entertainment.

Mengenakan pakaian banderol distro, tak pernah lepas dari berbagai gadget pemutar musik, menyempatkan diri pergi ke bioskop di akhir pekan (atau kadang diganti dengan hunting DVD film terbaru di lapak-lapak kaki lima) adalah aktivitas “wajib” yang tak boleh terlewatkan. Tak cukup dengan itu, masih ada aktivitas pelengkap lain seperti nongkrong bareng di café-cafe yang dilengkapi fasilitas hotspot; bertukar alamat situs pertemanan dan blog yang dimiliki; pergi ke konser-konser musik; dan aktivitas lain yang bertema satu: having fun.

Sisi kehidupan kebanyakan para muda akhirnya sebagian besar diisi dengan aktivitas having fun tersebut. Salah satu celah akhirnya diisi dengan bacaan-bacaan bertema komedi tersebut, yang membacanya tak perlu membuat kening berkerut atau mulut menguap. Segala kelucuan yang ada didalamnya pun bisa digunakan sebagai bahan cerita dalam komunitas pertemanan mereka. Itulah yang kemudian membuat buku-buku semacam ini begitu disukai.

Pada suatu kesempatan, seorang tokoh perbukuan nasional mengungkapkan pendapatnya bahwa tren buku tidak jauh beda dengan tren fashion dan musik, akan senantiasa berputar berulang. Di era 80-an, ketika Lupus begitu memengaruhi aktivitas para muda saat itu, muncul beberapa tokoh tandingan yang mampu memberikan alternatif bacaan: Gola Gong dengan Roy dalam seri Balada si Roy-nya, dan Bubin Lantang dengan tokoh Dian Bara bersaudara dalam seri Anak-anak Mama Alin.
Lupus mewakili kelompok anak muda yang mengalir, penuh canda tawa dan hura-hura khas anak muda. Membaca Lupus membuat pembaca tak henti tersenyum dan tertawa dengan berbagai kelucuan dan kekonyolannya. Sedangkan Roy dan Dian Bara mewakili kelompok anak muda dengan kehidupan yang keras, idealis, dan penuh dengan perjuangan hidup. Membaca Balada si Roy dan Anak-anak Mama Alin membuat pembaca mengerti sisi lain dunia muda yang terkadang tidak melulu dengan hura-hura semata. Tiga tokoh tersebut mendapat tempat di hati para pembaca ketika itu. Mereka mendapatkan bacaan yang seimbang karena tidak melulu dunia muda hura-hura yang ditampilkan. Hingga kini, buku-buku bekasnya masih terus dicari dan digemari.

Jika tren dunia buku memang selalu berulang, maka bisa jadi buku-buku bertema komedi ini akan mendapatkan pesaing yang mampu mengimbanginya, dengan tema-tema yang menggambarkan sisi lain dunia muda yang penuh dengan lika-liku dan perjuangan hidup. Bukan hal yang mudah, memang, menciptakan tokoh utama yang mampu menginspirasi pembacanya. Oleh karena itulah, kebanyakan buku bertema komedi saat ini lebih memilih model penulisan nonfiksi dengan pengalaman pribadi sang penulis sebagai nilai jualnya. Dan, inilah tantangan bagi para penulis yang tertarik mencicipi kesuksesan Bubin Lantang dan Gila Gong di era lampau.

4 komentar:

Donz Juan mengatakan...

Ya itu berarti tantangan bwt penulis, novelis Indonesia. Ingin skedar mengikuti trend yg ada skrang ato m'ciptakan hal baru yg bnr2 lain shngg menjadi tred yg baru

DeJevo mengatakan...

mudahan akan lahir lagi pengarang yg punya gaya nulis rock n' roll!
mudahan aja.
semoga!

DeJevo mengatakan...

oya...Gola Gong, mbak...bukan Gila Gong.
ntar yg punya nama liat, ngamuk loh...hehe

Anonim mengatakan...

bisa ndak ya penulis buku "menjadi muslimah tangguh" jadi center of trend?