Kamis, 06 Maret 2008

MUSLIMAH DAN KEWAJIBAN MEMBELADIRI



:Muthia Esfand

Apa yang terlintas pertama kali di benak Anda ketika tiba-tiba saja seseorang dengan maksud jahat menyergap Anda di tengah jalan? Lari, memberikan perlawanan, atau pasrah saja? Semakin meningkatnya angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, barangkali bisa menjadi salah satu jawaban bahwa sebagian besar perempuan yang menjadi korban ternyata memilih untuk pasrah dan bungkam.

Menurut data yang dilansir oleh LBH APIK, pada tahun 2006, DKI Jakarta menempati urutan pertama jumlah kasus kekerasan pada perempuan, yaitu sebanyak 7.020 kasus. Angka kekerasan terhadap perempuan di Jakarta itu meliputi kekerasan dalam rumah tangga sebanyak 3.682 kasus, dan kekerasan dalam komunitas sebanyak 1.787 kasus dalam bentuk pencabulan sebanyak 12 kasus, pemerkosaan (343 kasus), pelecehan seksual (7 kasus), kekerasan seksual (548 kasus), perdagangan perempuan (15 kasus), buruh migran (712 kasus), penganiayaan (74 kasus), dan lain-lain (76 kasus). Sedangkan secara nasional, (menurut data Komnas Perempuan) ada peningkatan jumlah kasus yang signifikan dalam kurun waktu tahun 2003-Maret 2007. Tahun 2003 total kasus yang terjadi adalah 7.787, tahun 2004 sebanyak 14.020 kasus (naik 80 %), tahun 2005 sebanyak 20.391 kasus (naik 69 %), dan tahun 2006-Maret 2007 sebanyak 22.512 kasus. Data tersebut adalah data jumlah kasus yang ditangani oleh 257 lembaga di 32 propinsi di Indonesia.

Seseorang sahabat pernah datang kepada Nabi saw, kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika ada orang hendak merampas hartaku?“ Beliau bersabda, “Jangan berikan hartamu.” Dia bertanya lagi, “Bagaimana jika dia hendak membunuhku?” Beliau menjawab, “Bunuh dia.” Dia bertanya lagi, “Bagaimana bila ia berhasil membunuhku?” Beliau menjawab, “Maka, kamu syahid.” Dia bertanya lagi, “Bagaimana bila aku berhasil membunuhnya?” Jawab Beliau, “Dia masuk neraka” (HR Muslim). Hadits tersebut mengajarkan kita untuk tidak pernah berdiam diri saat seseorang bermaksud mendzalimi harta bahkan jiwa kita. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi seorang muslimah untuk tidak berjuang mempertahankan harta, agama, dan kehormatannya. Permasalahan yang sering terjadi, muslimah tersebut tidak mempunyai cukup keberanian dan pengetahuan sebagai persiapan untuk menghadapi situasi yang tidak diinginkan itu. Padahal, hanya dua hal itu saja yang dibutuhkan.

Keberanian dinisbahkan pada sikap mental yang kuat. Sikap mental apa yang secara mendasar harus dimiliki oleh seorang muslim? Tentunya keimanan. Iman yang kuat akan melahirkan kepercayaan dan keyakinan yang mendalam pada Allah beserta seluruh kuasa-Nya. Keyakinan bahwa Allah akan senantiasa melindungi hambanya. Keyakinan bahwa Allah akan menolong hambanya yang mau berjuang keras mempertahankan segala hal yang diberikan dan dititipkan pada hamba-Nya itu. Percaya atau tidak, keyakinan inilah yang biasanya menguap pertama kali saat kejahatan tiba-tiba muncul di hadapan para korban kriminalitas dan tindak kekerasan tersebut. Padahal, justru keyakinan inilah modal dasar yang dibutuhkan untuk lepas dari situasi kritis itu.

Ketika korban tersebut mampu menghimpun segenap keyakinan dan keimanan yang ada dalam dirinya, ia akan bisa berpikir lebih jernih untuk segera membuat keputusan hal apakah yang harus ia lakukan agar bisa lepas dari situasi itu. Konsep ini disebut dengan konsep sikap mental.

Pengetahuan adalah ilmu dan referensi yang dibutuhkan sebagai kuncian kedua. Pengetahuan yang dibutuhkan antara lain jurus beladiri praktis, pengetahuan tentang titik-titik lemah dalam tubuh manusia, alat-alat yang bisa digunakan sebagai senjata melawan tindak kejahatan, dan tempat yang harus dituju ketika bermaksud melarikan diri. Terlihat sederhana memang, namun akan bernilai lebih jika semua pengetahuan itu mulai kita cari saat ini juga. Bukankah Islam mengajarkan kita untuk senantiasa bersiap-siaga dan bersiap diri?

Dewasa ini, di Amerika mulai menjamur kelompok-kelompok Women Self Defense (WSD) sebagai sarana mendapatkan bekal beladiri praktis yang efektif digunakan saat kejahatan menimpa kita. Hal itu barangkali dilatarbelakangi oleh semakin tingginya tingkat kekerasan dan kriminalitas terhadap para perempuan di Negara itu. Pelatihan yang mereka dapatkan di WSD bukanlah ilmu atau jurus beladiri murni semisal karate, takwondo, atau ju jit su. Melainkan tips dan jurus beladiri praktis yang dirancang khusus untuk menghadapi model kejahatan yang biasa dialami oleh para perempuan, seperti perkosaan; pelecehan seksual; penodongan; perampokan; dan lain sebagainya. Kelompok-kelompok WSD dirasa cukup bisa memberikan wawasan dan tips praktis yang kontekstual bagi para perempuan Amerika yang notabene sibuk dan terbatas waktu luang.

Bagaimana dengan di Indonesia? Kelompok semacam WSD itu amat jarang kita temukan. Jikalau ada, hanya terbatas di beberapa kota besar saja. Antusiasme dan kepedulian untuk menuntut ilmu pertahanan dan pembelaan diri ini terasa sangat rendah di kalangan perempuan Indonesia. Bagaimana dengan para muslimahnya? Sepertinya tidak jauh beda.

Jika kita sejenak kembali ke zaman Rasulullah saw, akan kita dapati bahwa para muslimah ketika itu juga sering mengalami tindak kriminalitas. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa Wail al-Kindi mengatakan,
“Seorang muslimah telah diperkosa oleh seorang laki-laki pada kegelapan subuh ketika ia hendak ke mesjid. Muslimah itu meminta tolong kepada seorang laki-laki yang kebetulan lewat. Karena takut ketahuan, lelaki pemerkosa itu kabur melarikan diri. Sesaat kemudian, lewat pula sekelompok orang, Muslimah itu pun meminta tolong kepada mereka. Orang-orang itu memergoki laki-laki penolong di tempat kejadian, sementara pelaku yang sebenarnya telah melarikan diri. Mereka menghadapkan lelaki penolong itu kepada Muslimah yang diperkosa. Penolong itu berkata, ‘Aku hanya menolongmu, pelaku yang sebenarnya sudah melarikan diri.’ Lalu mereka menghadapkan pelaku sebenarnya (setelah dilakukan pengejaran) kepada Rasulllah.” (HR Ahmad)

Dalam riwayat yang lain juga dikisahkan tentang hal penganiayaan dan pelecehan yang pernah dialami oleh muslimah pada zaman Rasulullah saw.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, “Sesungguhnya ada dua orang muslimah dari Bani Huzail. Salah satu dari mereka memukul yang lain sehingga menyebabkan janinnya keguguran. Maka, Nabi saw memutuskan kepada muslimah yang memukul itu untuk membayar diyat berupa seorang hamba sahaya lelaki atau perempuan.” (HR Bukhari)

Ibnu Mas’ud berkata, “Seorang laki-laki telah mencium seorang muslimah. Lalu ia datang kepada Rasulullah memberitahukan kejadiannya.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Kisah-kisah pada zaman Rasulullah saw tersebut harusnya menjadi stimulan dan motivator bagi setiap muslimah agar mau mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum kejahatan itu benar-benar terjadi. Bukankah mempersiapkan diri sejak dini itu bagian dari keseriusan ikhtiar?

Jika kita mempunyai waktu luang, bergabunglah dengan kelompok beladiri praktis khusus perempuan yang mungkin ada di kota tempat kita tinggal. Atau, minimal berolahragalah secara rutin untuk agar fisik kita selalu bugar dan terjaga. Kita juga bisa menambah pengetahuan dan referensi dengan membaca buku-buku bertema practical self defense yang banyak terdapat di toko-toko buku (meski sebagian besar buku bertema ini adalah buku terejmahan dari bahasa asing). Satu hal yang tak kalah penting untuk kita jaga adalah keyakinan dan keimanan kita kepada Allah SWT, agar semakin merasuk dalam hati kita, sehingga dalam situasi apa pun kita akan selalu yakin dan beriman. Anyway, selamat Hari Perempuan Internasional ya tanggal 8 Maret 2008 ini... .

5 komentar:

bank al mengatakan...

cieeee.... yg jagoan bela diri memang komentarnya beda deh.

Kalau aku sih yg dirampok, aku lihat dulu siapa musuhnya. Kalau ndak bisa ngelawan, kasih aja duitnya daripada mati konyol. :D

biaca mengatakan...

Aslkm...benar sekali mbak, muslimah juga harus mempersiapkan kepandaian beladiri, walau udah bersuami, seandainya suaminya lagi nggak dirumah misalnya. dia harus sigap d bisa membela diri.

Fenrisar mengatakan...

See Here or Here

Hatma mengatakan...

Ada DVD turorial bela diri praktis berbasis aikido dan systema (dua buah bela diri yang lembut dan memanfaatkan tenaga lawan) yang dibuat dan dijual oleh teman-teman Muslimah di Sleman, DIY. Mereka mengelola Toshi Self Defense Class di Sleman DIY. DVD itu sangat praktis. Dan bela diri yang diajarkan di dalamnya adalah berbasis kelembutan, naturalis dan tidak menggunakan latihan2 spt push up, sit up, dll. Cukup apa adanya.
Silakan hubungi Mbak Esti di 08522.811.72.97 atau di nozomi_daiji07@yahoo.com
Harga DVD tersebut kali tidak salah Rp15.000,-
Edisi pertama berjudul : Applicable Self Defense for Muslimah. Dan sebentar lagi insya Allah akan diluncurkan DVD kedua yang berjudul :Defense against knife for muslimah.
Semoga bermanfaat.
Ws wrb

Hatma mengatakan...

Semoga menggugah. Terima kasih mas Akmal.

Kalau saya boleh berfatwa, maka bela diri akan saya wajibkan untuk setiap Muslim dan Muslimah. Tapi berhubung derajat saya masih bagaikan bumi dan langit dengan ulama-ulama sekaliber Yusuf al-Qaradhawi, misalnya, maka biarkanlah hal ini tetap menjadi sebuah saran pribadi. Tapi ini adalah sebuah saran yang amat serius. Tidak main-main.
Paling tidak ada dua alasan kenapa saya 'berfatwa' demikian :

1. Kenyataannya, bela diri adalah sunnah Rasulullah saw. Banyak orang bilang bahwa Rasulullah saw. tidak pernah belajar bela diri. Kalau dikatakan beliau tidak pernah berguru pada seorang guru silat, mungkin memang benar. Namun rasanya terlalu gegabah kalau mengatakan bahwa beliau tidak bisa bela diri, mengingat track record beliau yang sangat mengagumkan di medan perang. Tidak seperti jenderal jaman sekarang, beliau selalu berada di garis terdepan. Memang beliau pun bisa terluka, tapi kehebatan tempurnya tidak bisa diragukan lagi. Menurut saya, mereka yang bilang bahwa Rasulullah saw. tidak bisa bela diri harus rajin-rajin menelaah sirah nabawiyah kembali. Faktanya sudah sangat jelas, kok!

2. Bela diri adalah kebutuhan dakwah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa dakwah Islamiyah sekarang ini dimusuhi habis-habisan. Musuh-musuh Islam tidak akan segan-segan melakukan kekerasan pada para kader dakwah. Di Mesir, Ikhwanul Muslimin menjadi oposisi terbesar, sekaligus menjadi golongan penghuni penjara yang paling banyak. Di Aljazair, partai Islam dikudeta oleh militer meskipun memenangkan pemilu secara adil. Di Indonesia, para preman tidak jarang dikerahkan untuk mengintimidasi kegiatan-kegiatan partai dakwah. Ini adalah kenyataan, bung! Kita harus survive. Bela diri adalah salah satu solusi yang baik.


Di samping itu, ada beberapa pelajaran bagus yang dapat kita ambil dari bela diri. Pelajaran-pelajaran itu sifatnya bukan hanya teori, melainkan empiris juga. Anda harus merasakannya dahulu baru bisa mengerti. Membaca uraian ini tidak akan banyak membantu jika Anda tidak pernah merasakan 'sensasinya'. Paling tidak ada lima pelajaran yang dapat kita petik dari ilmu bela diri.

Apa adanya. Bela diri itu memang apa adanya. Jujur pada kenyataan. Bela diri akan segera hancur binasa kalau sudah mulai tidak jujur pada kenyataan. Bela diri adalah ilmu yang mengajarkan cara untuk menyelamatkan diri. Karena itu, ia haruslah bertolak dari kenyataan di lapangan. Kalau tidak mau bersikap apa adanya, maka bukan bela diri lagi namanya, melainkan sekedar olah raga atau tari-tarian.

Contoh gampangnya begini. Dalam pertarungan sebenarnya, peraturan apakah yang dipakai? Tentu tidak ada! Kita tidak bisa memaksa lawan untuk menggunakan tangan kosong, atau menyuruh mereka untuk tidak menggunakan senjata. Kita juga tidak bisa protes kalau mereka mengeroyok kita. Kita pun tidak mungkin meminta body protector demi keselamatan bersama. Kita tidak bisa mencegah mereka untuk menusuk mata atau menendang kemaluan. Itulah kenyataan di jalanan. Kalau bela diri sudah mengabaikan kenyataan itu, maka hancurlah esensi bela diri itu sendiri. Mungkin ia akan tetap banyak diminati, namun esensinya akan hilang.

Saya ambil contoh perbandingan antara Judo dan Gracie Jujitsu. Sebenarnya, kedua bela diri ini nenek moyangnya sama. Sama-sama Jujitsu. Akan tetapi, dalam pertarungan di UFC dan Pride, misalnya, yang menang selalu Gracie Jujitsu, bukan Judo. Apa bedanya? Bedanya, Gracie Jujitsu berlatih dengan mempertimbangkan semua jenis lawan. Lawan yang gemar memukul, gemar menendang, gemar kuncian, semuanya dipelajari. Gracie Jujitsu juga mengembangkan teknik-teknik yang memungkinkannya menaklukkan lawan yang tidak mengenakan gi (seragam bela diri ala Jepang, misalnya seragam Judo atau Karate). Di sisi lain, Judo selalu berkutat dengan aturan ini-itu. Tidak boleh memukul, tidak boleh menendang, dan sebagainya. Hal ini tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Akan tetapi, saya sangat menghargai kejujuran Jigoro Kano, sang pendiri Judo, yang menegaskan bahwa Judo bukanlah untuk bertarung, melainkan untuk sportifitas.

Bela diri mengajarkan kita untuk bersikap apa adanya. Bruce Lee mengabaikan aliran kung fu yang dipelajarinya sebelumnya dan kemudian menciptakan sebuah aliran baru, yaitu Jeet Kune Do. Menurutnya, kung fu klasik itu keblinger. Anatomi manusia jelas beda dengan binatang. Karena itu, gerakan yang efektif bagi manusia jelas beda dengan gerakan yang efektif untuk hewan. Lalu apa gunanya mempelajari gerakan-gerakan belalang sembah, harimau, bangau, dan sebagainya? Mengapa kita tidak menghadapi kenyataan bahwa anatomi manusia memang begini adanya, lalu merumuskan teknik-teknik yang sesuai dengannya?

Masutatsu Oyama, seorang pemilik nama besar di dunia Karate, juga melakukan 'revolusi' yang sama dalam bela diri. Beliau tidak dikenal karena penguasaan rangkaian jurusnya (kata). Oyama dikenal karena kekuatannya. Latihannya sederhana. Pergi ke hutan, cari apa pun yang bisa dipatahkan dengan tangan dan kaki. Alhasil, ia menjadi salah seorang petarung yang paling ditakuti di Jepang. Inilah realita lapangan. Setuju atau tidak, ya terserah!

Bela diri bukanlah seni yang berindah-indah. Bela diri adalah segala cara yang bisa digunakan untuk menjamin keselamatan pribadi dan orang lain (tidak termasuk keselamatan lawan). Mungkin terdengar kasar dan kejam, tapi dunia ini memang kejam, kawan!

Semua ada tahapannya. Belajar bela diri tidak mungkin tanpa tahapan. Kita tidak mungkin langsung berlatih ke tahap advance tanpa melalui tahap-tahap basic terlebih dahulu. Ini juga merupakan sunnatullaah. Tidak ada manusia yang langsung bisa. Kalau berhasil, maka kita tidak perlu bangga, karena masih ada tahapan lain yang lebih tinggi dan lebih susah. Kalau gagal, kita pun tidak perlu kecewa, karena semuanya pernah gagal. Bruce Lee dan Masutatsu Oyama juga pasti pernah gagal. Kesadaran akan 'tahapan' ini memberikan banyak konsekuensi dan memberikan banyak pelajaran bagi kita.

Jam terbang adalah segalanya. Percayalah, meskipun sama-sama latihan memukul, orang yang baru belajar sehari jelas beda dengan orang yang sudah berlatih setahun. Dalam bela diri, tidak ada jalan pintas atau calo. Kalau mau lebih hebat, ya berlatihlah lebih giat! Tidak ada tempat untuk orang manja yang mau enaknya saja. Dengan repetisi ratusan atau ribuan kali, jurus yang sulit pun akan terkuasai. Cepat atau lambatnya itu urusan belakangan (lebih tepatnya lagi : itu urusan Allah). Yang penting ikhtiar saja dulu habis-habisan. Inilah cara berpikir yang harus digunakan oleh setiap Muslim, apalagi mereka yang membaktikan dirinya dalam dakwah.

Selalu ada pilihan. Dalam hidup, manusia selalu punya pilihan. Udara dingin tidak mesti menjadikan kita kedinginan. Keadaan sulit tidak harus membuat kita putus asa. Semuanya adalah pilihan yang dapat kita ambil. Bahkan tidak memilih pun merupakan sebuah pilihan. Anda dapat berlatih malas-malasan dan seperlunya, namun akhirnya kemampuan Anda akan tumpul dengan sendirinya. Atau, Anda dapat berlatih dengan giat, dengan imbalan mendapatkan peningkatan kemampuan yang signifikan.

The choice is all yours !

Tidak ada jalan selain sabar. Sabar adalah suatu fungsi kekuatan. Sabar sama sekali tidak identik dengan kelemahan dan ketidakberdayaan. Orang yang mampu sabar adalah orang yang ditakdirkan untuk jadi kuat. Mereka yang ingin jadi ahli bela diri harus berlatih dan berlatih, tidak kenal hari libur dan tidak peduli musim. Kalau mau lebih hebat lagi, mau tidak mau ya harus lebih sabar lagi. Ini adalah sunnatullaah yang sangat penting untuk disadari dan berlaku umum dalam segala persoalan.

Jadi, marilah kita belajar bela diri! Bela diri yang mana, nih? Saya rasa kriteria 'apa adanya' bisa membantu Anda untuk memilih bela diri yang sesuai dengan kenyataan di lapangan.