Minggu, 06 Januari 2008

POINTLESS NOSTALGIC

`the esfand`


If world ain’t got nobody inside,
I may be still here
If world doesn’t exixts any longer,
I may be still, stay here
Cause I’m in the other side
Pluto, maybe



Namaku Ra, diambil dari tokoh Dian Bara dalam sebuah novel karya Bubin Lantang, favorit Mama. Sampai sekarang aku tak berhasil juga hunting novel itu dari berbagai relasi toko buku bekas kenalanku. Mama sepertinya memang begitu menggemari novel itu. Bagaimana tidak, jika nama anak semata wayangnya saja dinamai dengan salah satu nama tokoh dalam cerita itu. Anak-anak Mama Alin, begitu judulnya. Menurut cerita Mama, Dian Bara adalah tokoh favoritnya. Tipikal seorang anak muda yang mandiri dan dinamis, meski dibesarkan tanpa kasih sayang seorang ibu yang meninggal ketika melahirkannya. Sayangnya, novel milik Mama itu hangus terbakar bersama ratusan koleksi buku kesayangannya, saat rumah Eyang dilahap api berpuluh tahun silam.

Sejak saat itu, Mama begitu terobsesi untuk mencari buku yang serupa. Berbagai komplek penjualan buku-buku bekas di berbagai kota telah didatanginya. Kwitang di Jakarta, Shopping dan Alun-alun Kidul di Yogyakarta, lapak buku bekas dekat stasiun Bogor, berbagai tempat di kota Bandung, bahkan Surabaya. Tak cukup itu saja, Mama juga aktif mengikuti berbagai mailing list perbukuan serta rajin blog walking ke bermacam-macam situs dan blog toko buku online. Awesome!

Aku tak pernah berkomentar. Pun tak pernah bertanya-tanya apa sebenarnya yang membuat Mama begitu ngotot dan terobsesi untuk mendapatkan buku itu lagi. Yang pasti, aku yakin buku itu memang worth enough buat Mama. Kalau tidak, mana mungkin Mama rela menghabiskan seluruh week end-nya untuk jalan-jalan dan mencari buku itu. Namun, aku cukup kagum dengan usaha Mama itu. Kalau kubanding-bandingkan, usaha rajinku membeli dan mengoleksi serial Detektif Conan serta berbagai figur anime favoritku kalah jauh dengan Mama.

Kami memang cuma tinggal berdua di rumah ini. Rumah dengan desain Jawa tradisional, yang dipenuhi dengan perabot bergaya etnik di pinggiran kota Bogor. Tak jauh dari hutan CIFOR. Menurut cerita Mama, Papa meninggal saat aku masih kecil dalam sebuah kecelakaan mobil menuju Jakarta. Segalanya berjalan dengan sempurna. Tanpa konflik dan masalah pelik yang berarti. Sampai pagi hari itu.
----------------

Hemm, udara pagi di daerah ini memang selalu sejuk dan menyegarkan. Menyamankan paru-paru dan pikiran. Perlahan kuhirup udara yang sangat berharga itu dalam-dalam, smabil tetap bertumpu pada pinggiran jendela kamarku yang tepat mengarah ke danau CIFOR. Ini adalah salah satu sudut favoritku. Papa begitu apik mendesain rumah ini, terutama kamarku. Pada malam hari, pemandangannya lebih dahsyat lagi dengan pantulan perak rembulan yang membiaskan cahayanya di hamparan air danau yang sehitam pekat. Jangan memalingkan pandangan ke sudut-sudut kamarku yang lain, karena hanya deretan rak buku yang akan didapati.

Itu belum seberapa dibandingkan dengan ruangan-ruangan lain dalam rumah ini yang juga dipenuhi dengan koleksi buku-buku Mama dan Papa yang jumlahnya entah berapa ribu. Pada hari-hari tertentu kami membuka rumah ini untuk umum, bagi mereka para pecinta buku tentunya. Papa adalah penggemar buku detektif dan petualangan. Koleksi Sherlock Holmes, Hercule Poirot, STOP, Lima Sekawan, Trio Detektif, Karl May adalah koleksi yang kata Mama paling disukai Papa. Berbeda dengan Mama yang lebih suka mengoleksi karya-karya Pramoedya, Kuntowijoyo, Iwan Simatupang, John Grisham, dan Milan Kundera.

”Pagi, Ma. Masak apa nih buat sarapan?”
”Pagi, Ra. Mama dah buatin omelet jamur buat kamu. Lengkap dengan daging goreng dan susu kedelai.”
”Wah, tumben menunya lain dari biasanya, menang undian bank ya, Ma?”
”Kamu ini, Ra. Lagi kepingin aja sarapan omelet dan daging goreng. Tau gak, semalam Mama mimpi aneh.”
”Mimpi apa memang?”
”Tiba-tiba saja ada kiriman paket buat Mama, tanpa nama dan alamat pengirim. Dibungkus dengan kertas kado hitam polos mengilat, dengan pita merah di sudutnya.”
”Isinya?”
”Nah, isinya ini yang paling mengejutkan sekaligus menggembirakan. Buku Anak-anak Mama Alin karangan Bubin Lantang yang favorit Mama, yang dulu ikut terbakar bersama buku-buku Mama yang lain. Bedanya, buku itu seratus persen gress, baru! Dengan wrapping plastik yang masih melekat. Sayangnya, begitu buku itu Mama pegang untuk dibaca, tiba-tiba saja ia menghilang! Berubah wujud menjadi buku tulis polos bersampul hitam.”
”Iya, aneh juga mimpi Mama. Tapi, gak usah terlalu dipikir lah, Ma. Anggap saja seperti mimpi biasanya.”
”Harusnya memang begitu, Ra. Tapi, entah. Masih terbayang saja sampai sekarang.”
---------------

Sejak saat itulah Mama begitu bersemangat, obsesif malah, untuk mencari dan mendapatkan buku idaman dalam mimpinya itu. Sudah lima hari Mama tidak pulang. Obsesi huntingnya semakin menajdi-jadi belakangan ini. Barusan ia menelponku, Mama sedang ada di Denpasar. Apa lagi kalau bukan mengubek-ubek tempat buku bekas disana. Mama selalu bungkam bila kutanya apa sebenarnya alasan utama melakukan semua itu. Apa sekedar karena mimpi itu, ataukah ada alasan lain. Saking penasarannya, sempat terbersit pikiran aneh dalam otakku, jangan-jangan Bubin Lantang itu ayahku yang sebenarnya. Tapi, cepat-cepat kutepis anggapan itu. Terlalu tidak beralasan.
-------------

Sudah dua tahun sejak Mama meninggal. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di Mataram, saat tengah melanjutkan keinginan kuatnya mencari buku itu. Sebelum meninggal, Mama menggenggam tanganku erat-erat sambil menggumamkan judul buku itu berkali-kali. Mama pergi. Dan, aku sendiri. Sampai akhir tak juga kutemukan jawab mengapa buku itu begitu berharga untuknya.

”Buku Lama”, begitu nama toko buku yang sudah dua tahun ini kujalankan. Yang dijual tujuh puluh persennya buku-buku bekas alias used book, sisanya baru buku-buku baru. Aku juga menjalankan versi toko buku online-nya dengan alamat situs yang sama. Perkembangan toko buku ini lumayan pesat, terlebih lagi dengan pesanan buku-buku lama dari mereka yang ingin bernostalgia kembali dengan buku-buku lama yang mereka baca di masa kecil. Di setiap perjalanannku mengumpulkan buku-buku bekas di seluruh kota di Nusantara, di setiap hubungan dengan para relasi toko buku bekas, tak lupa pula kutanyakan buku kesayangan Mama itu. Cuma itu alasan utamaku membangun toko ini.



Ciganjur, 6#01#07
for all, with their own fav book

4 komentar:

Roel Lee mengatakan...

Ass..

sukses aye doain selalu..
moga ttp tegar menghadapinya.
seorang ibu/mama pasti bangga anaknya meneruskan apa yang diinginkan. walaupun dalam "tanda tanya", mksd dr semua perjalann hidupmu itu.

Keep komitmen n tawakkal..

Santi mengatakan...

assalamu'alaikum,

saya dapat link nya dari teman saya, saudara agus purwanto. saya boleh tau emailnya mbak? ada yang mau saya tanyain..

email saya: santi.widyarini@gmail.com

jazakallah..

wassalam

Anonim mengatakan...

Ass..

Ini kisah nyata kah?
Klo ya, sy bisa bantuin Insya Allah...

Wass

fay mengatakan...

Ass. wr. wb.
Saya pernah punya kumpulan cerpen bubin lantang (3 novel) yg pernah diterbitkan oleh majalah 'hai' dan 2 novel bubin lantang (satu diantaranya ditulis bareng dengan Dian Bara).

Karena sesuatu hal, novel itu saya serahkan kepada seseorang yg insyaallah sampai sekarang 'dia' masih menyimpannya...

Sbenernya, novel2 itu harta berharga saya...

Saya ingin memilikinya lagi.Sampai sekarang, saya tak pernah lelah untuk kembali mencari buku2 itu di pasar buku bekas disetiap kota yang saya singgahi.
Selain itu, saya mencari buku tersebut lewat surat pembaca di surat kabar, memasang iklan murah di radio,
juga pernah mengirimkan surat kepada PT GRAMEDIA (penerbit buku tersebut) untuk mencetak ulang novel2 itu. Tapi, usaha saya belum membuahkan hasil.

wass.

umaku_2002@yahoo.com