Selasa, 15 Januari 2008

CEMARA DALAM LEMARI

“Ara, dimana kamu!! kalau tidak bergegas kita bisa terlambat menghadiri resepsi pernikahan Om Romi.”

Gelegar suara Mami terdengar membahana memanggil namaku. Heran, bagaimana bisa mami bersuara sekeras itu seakan tebalnya dinding rumah megah ini tak mampu sedikitpun meredam lengkingannya. Aku tetap diam tak bergeming. Membatu bisu dalam sarang persembunyian yang hanya kuketahui seorang diri. Perlahan kudengar suara sepatu Mami ritmis mengetuk-ngetuk tangga berlantai marmer yang konon dipesan langsung dari Italia. Sungguh pemborosan yang tak masuk akal. Seperti biasa, selanjutnya pasti bunyi pintu kamarku yang dibuka kasar diiringi hujam teriakan Mami yang seperti sambaran petir.

“Anak nakal, dimana kamu! Kali ini kamu harus mau ikut Mami! Kalau tidak wanita tua sialan itu pasti takkan henti-hentinya berkomentar miring tentangku. Apa dia kira hanya dia satu-satunya wanita yang bisa mendidik anak?! Ayolah, sayang…dimana kamu, Nak? please, bantu mami kali ini saja.”

Suara Mami terdengar semakin manis merayu, namun aku takkan tertipu lagi. Terakhir kali aku mau menunjukkan batang hidungku dari tempat persembunyiannku, hanya dera sapu lidi yang ternyata menjadi imbalannya.

“ Ara! Dasar anak tak tahu diuntung! Kamu sama saja dengan Ayahmu, tak pernah sedikitpun berterimakasih pada orang yang berjasa padanya. Baiklah, jangan harap bisa melihat dunia sampai besok pagi! Brakk..!”

Omelan panjang itu berakhir seperti biasanya, pintu yang dibanting keras dan kamar tidurku yang dikunci dari luar selama 24 jam. Entah untuk yang keberapa kalinya. Saking seringnya, aku sampai mempersiapkan secara khusus jika sewaktu-waktu aku kembali dikunci sehari semalam dalam kamar tidurku ini. Diam-diam kuletakkan sebuah kardus mie instant bekas di kolong tempat tidurku sebagai tempat menimbun berbagai biscuit dan permen yang secara sembunyi-sembunyi kucuri dari kantin sekolah.
Setelah yakin mendengar deru Volvo hitam Mami yang beranjak menjauh, aku keluar dari sarangku. Lemari besar dari jati berukir yang diletakkan di pojok kamarku, persis disebelah jendela yang juga dari kayu berukir dan besarnya hampir setinggi daun pintu lemari kayu tadi. Sebenarnya, bagiku tempat ini adalah semacam pintu gerbang. Pintu gerbang menuju dunia dan rumahku yang sebenarnya.

Aku memang tak pernah berminat ikut menghadiri pesta-pesta yang sering diadakan dan dikunjungi mami. Selain karena sebenarnya Mami memang enggan mengajakku, semua pesta mewah meriah itu seluruhnya penuh kepalsuan. Perempuan-perempuan yang memaksa diri berdandan anggun, para lelaki yang mati-matian bergaya bak eksekutif muda, pasangan suami-istri yang tak kalah keras berusaha tampil seakan rumah tangganya berjalan ibarat kisah romantis dalam dongeng: Dan mereka berdua akhirnya hidup bahagia selama-lamanya.

Mami terpaksa akan merayu mengajakku jika pesta itu berlangsung di rumah megah ini atau diadakan oleh salah satu anggota keluarga besarnya yang menurut cerita Ayah dulu masih keturunan semacam bangsawan kerajaan. Entah kerajaan mana, aku tak pernah berusaha mengingat-ingatnya. Selama pesta berlangsung, Mami tak henti-hentinya melempar senyum kesemua orang sambil tak lepas menggandeng tanganku kesana-kemari. Anehnya, Mami selalu menceritakan kebohongan demi kebohongan tentang diriku.
Anak saya ini IQ-nya melebihi rata-rata lho atau Seperti anak saya Cemara ini dong sekolahnya di sekolah internasional bahkan kadang-kadang Dia ini anak yang manis sekali sama sekali tidak nakal apalagi merepotkan.

Aku hanya diam sembari tak henti tersenyum, karena cuma dua hal itulah yang kata Mami boleh kulakukan jika diajak ke pesta. Namun diam-diam aku tak henti memuji, betapa hebat dan terdengar begitu original buaian kebohongan yang Mami hembuskan. Bahkan aku mulai berprasangka jangan-jangan sebenarnya ia seorang penulis naskah sinetron-sineteron bergaya picisan yang begitu menjamur di televisi, begitu picisannya sampai-sampai sulit untuk diketahui apakah sebenarnya sinetron itu visualisasi dari kenyataan hidup ataukah hidup itu sendiri adalah kisah sinetron yang digelar nyata? Mungkin salah satunya, atau kedua-duanya, bahkan tidak yang manapun.
Lemari besar dari jati berukir ini adalah tempat persembunyian yang sampai detik ini selalau menyelamatkan diriku dari incaran buas amarah dan perintah Mami. Kadang aku sampai tertawa sendiri, begitu ditutupi amarahkah mamiku sampai-sampai setiap kali ia mengacak-acak isi kamar sempit ini tak juga pernah ia berhasil menemukanku. Namun kurasa bukan karena itu, tetapi sebenarnya lemari ini adalah lemari ajaib semacam kantong ajaib milik Doraemon barangkali.

Entah sejak kapan semua keajaiban itu bermula, yang jelas pada suatu hari setelah kepergian Ayah tiba-tiba Mami marah besar karena aku menolak untuk makan malam satu meja dengan seorang pria yang entah siapa namun seolah begitu berarti bagi Mami. Itulah kali pertama aku bersembunyi dalam tumpukan baju tak beraturan di dalam lemari jati itu. Ketika suara bariton mami tak lagi meneriakkan makian dan hentakan, aku masih belum berani untuk keluar.

Saat itulah tiba-tiba kudengar suara-suara manis merayu dalam lemari itu. Awalnya suara-suara itu hanya mendongengkan kisah-kisah pangeran dan putri raja seperti yag biasa Ayah dongengkan untukku sebelum tidur, lama kelamaan di waktu yang lain suara-suara itu mulai mengajakku mengobrol, malah kadangkala juga membisikkan strategi baru untuk menghindari lemparan dan pukulan Mami. Pernah juga sih suara-suara itu mengajakku untuk tinggal selama-lamanya dalam lemari, dengan tambahan janji bahwa mereka akan selalu menjadi kawan baikku serta mengajakku ke dunia yang lebih indah tempat Ayah sekarang berada. Hampir saja aku mengangguk setuju, apalagi setelah tahu bahwa Ayah juga tinggal disana. Tetapi karena aku masih suka melihat matahari terbenam yang tampak jelas dari balik terali jendela kamarku maka kuputuskan untuk menolak tawaran mereka sementara waktu.

Matahari sudah lama terbenam. Rumah ini masih terdengar seolah tak berpenghuni, mungkin Mami dan lelaki itu belum pulang dari pesta Om Romi. Dingin mulai menusuk perlahan, padahal kamar ini satu-satunya ruang yang tidak dilengkapi mesin pendingin akan tetapi terasa lebih menyebarkan nuansa kebekuan.

Oh ya, sejak suara itu muncul untuk pertama kalinya aku juga memiliki kemahiran baru yang tak kalah dengan anak-anak klub drama di sekolahku yang baru, yang tidak pernah kusukai karena kesombongannya. Aku mulai pintar bermain sandiwara!
Kadangkala selepas mendapat konsekuensi – begitu istilah Mami untuk berbagai hukuman yang kuterima- berupa deraan atau cubitan, aku akan menangis tersedu-sedu di dalam kamarku namun sejurus kemudian tertawa terbahak-bahak bila mengingat ekspresi puas wajah Mami yang seolah mampu membuatku jera, kemudian menangis lagi bila rasa perih kembali menjalari. Dan biasanya diakhiri dengan endapan kemarahan yang menggigit dalam dadaku atau kadang cibiran sedikit menghina karena Mami tak mampu juga mengalahkanku yang masih kecil ini.

Volvo hitam milik Mami belum juga terdengar memasuki halaman rumah. Ah, ini kan malam minggu, pasti mereka tidak akan pulang sampai esok hari seperti malam minggu yang kemarin, dan kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi. Apakah perasaannku saja ataukah memang benar bahwa langit malam ini terlihat berbeda dibandingkan biasanya. Terlihat lebih pekat, lebih gelap, sama sekali nihil cahaya.
Sambil duduk menjulur kaki di pinggi tempat tidur, kupandangi lemari kayu jati itu yang tepat berada di depanku. Kehangatan mulai merasuki.

” Ara rindu Ayah...”

Tanpa sadar ucap kerinduan keluar dari mulut kecilku. Kegelapan hamparan langit di luar sana sedikit demi sedikit mulai menggantikan warna cat tembok kamarku yang semula berwarna biru laut. Kaki kecilku perlahan berjalan menghampiri pintu lemari kayu itu. Sembari menggapai pintunya, aku teringat dongengan Ayah, teringat kelembutan Mami yang dahulu sering membuatkan puding coklat kesukaanku, teringat acara piknik ketempat wisata yang dahulu sering kami lakukan bertiga, teringat mobil kodok milik Ayah yang selalu sedia mengantarkan dan menjemputku dari sekolah.
Pintu lemari kubuka lebar, dengan mantab dan penuh keyakinan aku masuk ke dalamnya dan menutup kembali. Dengan posisi duduk memeluk lutut di sudut lemari perlahan mulai kutajamkan telingaku. Hanya kesunyian, tetapi tunggu dulu...ah, dengungan itu mulai terdengar semakin menguat ! Itulah tanda suara-suara itu mulai berdatangan. Aku ingin menagih janji mereka, yang dahulu sempat kutolak sementara. Kini aku telah siap, siap dibawa serta ke dunia tempat Ayah berada. Aku yakin akan janji mereka untuk selalu menjadi kawan baikku.

” Ayah, Ara datang. Sebentar lagi Ayah bisa mendongengkan kisah putri salju kesukaannku itu lagi...”

Yogyakarta,10/08/06

0 komentar: