Kamis, 11 April 2013

Selamat Senja, Rumah Lama




Ah, rasanya sudah lama tak menyapa rumah maya ini, juga tak menjejalinya dengan postingan baru. Sibukkah saya? Atau barangkali tersilap jalan? Sebenarnya, tidak. Saya hanya berperilaku layaknya pengunjung asing, sekadar blogwalking dan kembali melanjutkan perjalanan. Saya belum menemukan nyali itu lagi, nyali untuk angkuh menulis apa saja di sini, nyali untuk abai dengan pendapat orang lain, layaknya blogger pada masa awal dahulu, ingatkah kita?

Membongkari arsip lama ternyata seru juga. Menerbitkan senyum dan gelak tawa. Delapan tahun lalu, saat terseret kawan-kawan blogger dan mulai membuka akun, euforia perempuan muda yang baru lulus dari perguruan tinggi penuh nilai filosofis, bergaya layaknya penantang dunia dan penebar teori-teori yang nyaris absurd. Anehnya, masa itu membahagiakan! Rata-rata kita tidak disibukkan dengan akun-akun yang bertebaran dan kerap salah kata kunci, kita cuma punya rumah ini saja. Kita bertaruh malam dengan mengukir sebanyak mungkin jejak perjalanan ke rumah-rumah maya lainnya. Kita membeli waktu untuk mempercantik rumah dengan segala perabot cuma-cuma. Kita seolah menjadi pemilik dunia kita sendiri. Barangkali, ada pula yang terpapar degup-degup dunia maya, bertemu pasangan hati yang berujung benang merah.

Saya aquarian yang sangat pisces, saya terlalu angkuh untuk menjadi kembar. Perlahan, rumah maya ini pun saya tinggalkan. Iming-iming traffic dan segala rupa pundi-pundi entah mengapa tak juga membuat saya tergerak pulang. Sampai pada suatu ketika, saya menyadari bahwa jemari saya berkali memintas jalan kembali.

Dan, di sinilah saya, menata kalimat demi kalimat, di ruang yang sama. Segala sesuatunya mungkin tak lagi sama seperti bertahun lalu. Saya merajah titik umur dengan angka tiga di hadapan. Saya tak lagi pandai mengobral teori, menghasut kata dengan segala akal konspirasi,merangkai fiksi yang penuh misteri entah apa. Kata-kata saya beroleh usia. Semoga saja rumah lama saya ini tetap bisa mengenali. Saya masih absurd, saya masih perenjana mimpi, saya masih penebar kata-kata. Saya hanya tak lagi sanggup mengepalkan tangan ke angkasa dengan orasi-orasi masa muda lampau. Saya memilih mengepalkan hati untuk diri saya sendiri.

Senja sudah turun, bintang tak sabar untuk mengerjapi kedua mata saya. Mari, menikmati malam.



~esfand

Kamis, 23 Februari 2012

(Almost) 30 Somethings Note

“No more drama, please.” (Anonim)

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengevolusi sebuah roda? Last time I cheked, more than decade. Dulu, ketika saya masih gemar mengoleksi tutup botol (kira-kira kelas empat SD), fase usia yang saya nanti-nanti dengan penuh tanda tanya adalah momen ketika saya berseragam abu-abu, kuliah, bekerja, menikah. Seingat saya, tidak pernah terpikir sekali pun, akan seperti saya kelak ketika berusia (ehm) 29 tahun. Seperti apa rasanya? Setengah cemas setengah mantap, ternyata.

Setahun kemarin, saya begitu tergila-gila dengan angka 29, tanpa ingat bahwa setahun kemudian saya benar-benar akan berstempel angka itu. Angka 29 saya tahun kemarin adalah angka keberuntungan, angka yang membuat saya bertahan di tengah gulungan ombak empat samudra. Angka yang diperkenalkan oleh sebuah buku terjemahan yang nyaris diretur di toko buku karena tidak laris, tapi cetak ulang berkali-kali di hati saya. Buku tentang seorang perempuan yang menerapkan program 29 hari memberi dan menjadi seseorang yang “baru” setelah melakukannya.

Angka yang datang kepada saya pada saat yang tepat. Melakukan 29 gifts itu yang sederhana itu ternyata seperti memiliki malaikat seribu sayap yang selalu menyorongkan kepaknya ketika saya terpeleset, menyodorkan rengkuhnya ketika saya sesak oleh kelu, mengibaskan sayapnya ketika saya butuh hawa dingin penawar panas hati.

Tanpa terasa, 29 chalenge itu menjadi semacam turnamen pramusim bagi saya. Untuk menghadapi ke-29-an yang sebenarnya tahun ini.

Saya nyaris cemas nyaris deg-degan, seperti traveler yang sebelah kakinya sudah menapak di tangga pesawat, tapi pikirannya mengingat-ingat apakah semua perlengkapan sudah dibawa? Apakah persiapannya sudah oke? Apakah uangnya cukup?

Detik-detik menjelang 29 sepenuhnya drama. Dari setumpuk tanda tanya tentang seberapa siap saya menjadi that-hot-damn-single-woman. Kenyataan bahwa keluguan saya dalam berteman ternyata berujung kepada satu demi satu nama terhapus dalam daftar panjang orang-orang yang saya sebut dengan satu nama: teman. Membuat saya meluangkan waktu khusus untuk duduk terpekur dan mencoba mencerna ulang apa yang sebenarnya terjadi. Sampai bendera setengah tiang yang harus saya kibarkan tepat di pergantian 29 ini karena saya kehilangan lagi. Rasanya seperti jantung, ginjal, dan hati saya adalah tiket masuk fase baru ini.

Namun, saya tahu, saya masih harus bernapas panjang dengan organ yang tersisa. Untuk Tuhan dan sesama yang juga adalah bagian diri saya.

Happy birthday, myself, fly away..

Kamis, 16 Februari 2012

Salanderian


image from


Misteri waktu itu bernama kejutan tak disangka, sedetik sebelumnya kamu mungkin merasa punya sekumpulan teman baik yang saking karibnya akan memasang badan untukmu tanpa pikir panjang, tetapi sedetik berikutnya kamu sadar jika itu semua cuma keyakinanmu seorang diri.

Dan, detik berikutnya akan kamu habiskan untuk terpekur lama, memegangi daftar panjang nama-nama yang selama ini kamu panggil teman, sahabat, kawan, karib. Daftar yang barang kali semakin menyusut dengan cepatnya.
It happened.

Saya jadi teringat Lisbeth Salander, perempuan bertato naga yang beberapa minggu ini menemani malam-malam saya, dengan sikap dinginnya yang kadang kala serasa menyusup ke luar dari lembar-lembar triloginya, mengepulkan asap beku tanah baltik. Salander sering bersikap apatis pada segala yang mengatasnamakan hubungan pertemanan, skeptik malah, yang tentunya beralasan jika melihat lembar-lembar sejarah hidupnya yang melulu hasil intervensi pihak luar.

Baru kali ini, saya merasa butuh waktu, untuk menatap daftar panjang nama-nama, yang sebelumnya saya panggil dengan satu nama yang sama: teman.

Senin, 25 Februari 2008

SOMETHING BOUT 25







:Muthia Esfand

Yup, 23 Februari kemarin genap 25 sudah usiaku. Still young, eh? Tak pernah kurasa peringatan milad tahunan ini terlalu special. Yah, barangkali sekedar sebagai peringatan betapa belum maksimalnya semua anugerah Ilahi ini kugunakan.

Terimakasih ya buat semua orang dekat dan kawan yang menebarkan harapan dan doanya lewat ruang-ruang mukjizat jaman baru bertajuk teknologi ini. Terimakasih juga buat David, desainerku yang Jappan abiiss, yang rela ke kantor pagi-pagi demi mensukseskan program pemberantakan mejaku! (padahal aku dah berangkat pagi, tetep aja deh kena…. Coba saja kamu lihat, mejaku terlihat seperti tempat sampah dadakan! ada kertas2 bekas berserakan, kursi, plus peralatan "ngeband" anak2 kantor di saat senggang n stress. Thx juga buat sobat-sobatku yang bersusah payah mengirimkan dan memberikan sekedar bingkisan, semoga doanya terwujud nyata.



:Muthia Esfand


Tulisan ini bukan apa-apa, hanya semacam reaksi (bergaya) akademik sesaat setelah menyaksikan highlight di Metro TV. Tentang konser grup musik bergenre underground di Bandung, yang berujung meninggalnya 11 penonton yang kebanyakan remaja tanggung.

Sekilas dikupas bahwa genre musik ini berasal dari negeri Barat, sebagai bentuk perlawanan kaum Gypsi terhadap dominansi dan doktrinasi negara pada tatanan masyarakat. Barangkali hampir mirip dengan kemunculan genre musik blues yang juga menjadi semacam alat perjuangan kaum Negro atas segala diskriminasi RAS yang mereka dapatkan. Underground lantas berkembang semakin pesat di tengah kondisi dunia kala itu yang penuh dengan konflik, peperangan, dan perebutan kekuasaan antar negara. Aliran ini menjadi frontline gerakan antikemapanan, antiborjuis, antikomunis, antikapitalis, antireligi, yang mencoba mencari bentuk kehidupan yang bebas dari tekanan dan intimidasi.

Yang pasti, genre musik ini berideologi, berprinsip. Bukan seperti genre musik pop yang murni produk kapitalis semu semata. Lama-kelamaan, underground menurunkan beberapa aliran musik lain seperti punk, ska, heavy metal, dll. Masih dalam “cita rasa” yang sama: antikemapanan.

Underground sebagai produk musik mulai marak di Indonesia pada tahun 1990-an. Dimulai dari suksesnya distribusi dan konser-konser grup musik underground Sucker Head. Selepas itu, mulai bertaburanlah kelompok-kelompok musik beraliran serupa. Secara subtansial, ada dua hal besar yang diadopsi kelompok musik underground Indonesia tersebut.

Pertama, ideologi antikemapanan. Sayangnya, antikemapanan ditafsirkan minus nilai positif. Bukan lagi semangat kemadirian atau semangat melawan dominansi penguasa lewat label-label pembelaan rakyat. Akan tetapi, semangat tampil beda dan keluar mainstream. Di negeri asalnya, kelompok underground memang kebanyakan bercitra negatif, bahkan memuja kekerasan layaknya dewa. Namun, ada pula yang masih bercita rasa positif seperti mengampanyekan penjagaan lingkungan dan sebagainya. Di Indonesia, semua nilai positif itu hilang tak berbekas. Tak ubahnya jenis musik lain yang muncul karena pasar menghendaki. Menjadi penikmat dan penggemar musik ini tak lebih dari sekedar mengikuti tren semata. Tak penting mengerti sejarah dan nilai ideologisnya. Cukuplah tau, sok-sok ber-head bangger menikmati, dan fasih menirukan suara serak sang vokalis.

Kedua, fashion style. Barangkali inilah yang sebenarnya paling digandrungi para remaja tanggung penggila musik aliran ini. Gaya rambut spike, celana yang sangat skinny, jaket kulit penuh badge, piercing, moshing, pogo, dan beragam aksesoris blink-blink lain. Selain kedua hal itu tampaknya cuma adopsi kekerasan yang diimpor mentah-mentah. Beberapa waktu yang lalu, saat berlibur dan berjalan-jalan di pusat kota Palembang, saya mendapati bahwa sebagian besar anak muda di sana bergerombol di pusat-pusat perbelanjaan dengan style pakaian jenis ini. Kadang saya tergelitik untuk iseng bertanya kepada mereka tentang maksud dan sejarah mode pakaian yang mereka kenakan. Saya yakin, 100 % dari mereka hanya mengikuti tren. That’s it.

Inilah barangkali potret remaja Indonesia paling dominan saat ini. Bergerak statis, mengikuti apa kata arus pasar. Robot kapitalis. Cita-cita bagi mereka hanyalah orientasi mendapat pekerjaan layak dan penghasilan. Itu saja. Pantaslah jika mereka tak peduli dengan segala kekacauan identitas yang mereka buat.

Ironisnya, berbagai kelompok masyarakat baik yang berorientasi sosial, politik, dan agama kebanyakan cenderung tidak memperhatikan hal ini dengan serius. Padahal mereka inilah yang akan menjadi aktor-aktor pengelola bangsa di kemudian hari. Produk-produk budaya pop yang minim orientasi positif terus saja mendapat kemudahan regulasi untuk diproduksi. Barangkali pemerintah kita perlu belajar pada Cina. Baru-baru ini, pemerintah Cina mengeluarkan larangan pemutaran dan produksi film dan segala hal yang bertema horror, penggambaran roh dan dunia spiritual lain yang disinyalir menyumbang dampak negatif yang cukup besar bagi perkembangan kejiwaan remaja dan pemuda.

Barangkali benar kata Pramoedya Ananta Toer bahwa bangsa ini sudah kehilangan wibawa dan kepercayaan dirinya secara total pascakeruntuhan Kerajaan Majapahit.

16/02/2008
come on guys, be part of us! Rockin de world from the left side

Selasa, 05 Februari 2008

Soekarno - Sejarah yang tak memihak



Baru kali ini aku posting artikel yang bukan tulisanku sendiri. Dengan alasan ingin membuka perspektif baru tentang mantan penguasa negeri kita ini. Miris rasanya, mendengar dan melihat beberapa saat kemarin media di negeri ini memberitakan besar-besaran tentang detik-detik kematian mantan presiden kedua Indonesia. Berita yang bagiku sungguh terkesan tidak cover both side. Terlebih pula seolah tidak menghargai para korban tidak kekerasan dan penghisapan yang dilakukannya selama berkuasa. Kita memang harus menghargai jejak pembangunan fisik yang dilakukannya semasa berkuasa. Akan tetapi, haruslah pula dipahami secara adil beserta seluruh tindakan tiran yang dilakukannya.

Muthia Esfand
-------------------------------------------------------------------------------------


Soekarno - Sejarah yang tak memihak
WS Rendra

Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak
berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain
rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga
ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua
mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat
berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar
penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua
saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat
secara langsung jenasah Soekarno.

Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja,
mendapatkan Bapak (almarhum) sedang menangis sesenggukan.

" Pak Karno seda " ( meninggal )

Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di
Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari
kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu
KKO ). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat
loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono - Panglima
KKO - pernah berkata ,

" Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung
Karno, merah kata KKO "

Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno
menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa
dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh
KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti
Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend
Ibrahim Ajie.

Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini.
Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah
sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia
memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi
tumbal sejarah.

The winner takes it all. Begitulah sang
pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka
yang kalah. Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke
istana Bogor . Tak berapa lama datang surat dari Panglima
Kodam Jaya - Mayjend Amir Mahmud - disampaikan jam 8 pagi
yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam
11 siang.

Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian
dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan
kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan.

" Het is niet meer mijn huis " - sudahlah, ini bukan rumah
saya lagi ,

demikian Bung Karno menenangkan istrinya.

Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu
Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma
Yaso.

Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim
Adjie diasingkan menjadi dubes di London . Jendral KKO
Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya.

Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu
belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno
sendiri. Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya.
Jenasah dibawa ke Wisma Yaso.

Di ruangan kamar yang suram,
terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan
di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan
mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta! dan Ali Sadikin -
Gubernur Jakarta - yang juga berasal dari KKO Marinir.
Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna
merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan
rambutnya sudah botak.

Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan
penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang
ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah
pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti
nyamuk. Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada
gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang
ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !.

Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke
atas karpet di lantai di ruang tengah

Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem
kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra
datang, dan juga orang orang lain.

Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak
dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno
berkeingan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor
. Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang
Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota.

Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir.

Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.

Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan
Cakrabirawa,

" Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa
Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara
yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan
jawaban".

"Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno,
penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan
pengobatan yang seharusnya diberikan. "

( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 )

dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga
perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970
serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah
terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B,
B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah.
Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal.

Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.
( Kompas 11 Mei 2006 )

Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut, " Bung
Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana
Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi
dari Kowad
"

( Kompas 13 Januari 2008 )

Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan
Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter
dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan
masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih
membela kejahatan yang dituduhkan.

Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan
ketika tim
kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus
menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden !

Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin
bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang
menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah
mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa
meniupkan roh roh kebenaran ?

Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah
menjadi hakiki
karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu.

Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah.

Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.

Kesadaran adalah Matahari Kesabaran adalah Bumi

Keberanian menjadi cakrawala Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata

( * WS Rendra )

Foto:http://bumisegoro.files.wordpress.com

Kamis, 27 Desember 2007

CAMPUR KODE: NEW STYLE TALKIN

`the esfand`

“Please deh, aku udah nungguin dari tadi…”
“Meeting tadi alhamdulillah lancar ya. At least banyak ide baru yang muncul.”
“Sulit gimane maksudnya?”

Akui saja, kamu semua pasti pernah menjadi subyek percakapan dengan menggunakan gaya tutur yang seperti itu. Campur kode alias menggunakan beragam bahasa dalam sebuah percakapan. Entah Indonesia dicampur Inggris, Indonesia dicampur Arab, Indonesia dicampur bahasa daerah, atau malah campur aduk tidak jelas bak gado-gado. Hal ini, mungkin, dikarenakan setiap kita terbiasa menggunakan sedikitnya dua macam bahasa sejak kecil. Bahasa nasional dan bahasa daerah orang tua kita atau tempat kita tinggal. Kebiasaan campur kode ini juga yang barangkali memunculkan style-style baru bahasa pergaulan yang yang tidak berasal dari akar bahasa manapun.

Campur kode, ternyata, juga mengenal klasifikasi kasta. Kebiasaan campur kode bahasa Indonesia dengan Inggris menjadi campur kode kelas atas. Penggunanya akan tercitrakan sebagai insan modern, intelek, dan bercita rasa tinggi. Sementara campur kode Indonesia-daerah dianggap sebagai citra masyarakat rendahan dan anti-globalisasi. Anehnya, pengguna campur kode Indonesia-Arab ternyata bernasib tak jauh beda dengan Indonesia-daerah. Yah, apalagi kalau bukan karena anggapan bahwa Barat adalah Dewa Kemajuan yang tak bersaing.

Sayangnya, campur kode lambat laun menjadi salah satu faktor penggerus autentisitas bahasa yang sepatutnya. Maka, muncullah penggunaan kata “secara” dengan esensi baru ala anak gaul metropolis.

Bagi sebagian anak muda: its not a big deal galz…tapi bagi sebagian orang tua: whatta serious problem. Well?


Ciganjur/26/12/07

Selasa, 20 November 2007

A LETTER THAT NEVER SEND OVER



`the esfand`

Dear Lusy Riu,
Sudah bertahun-tahun sejak terakhir aku melihatmu di bangku putih itu. Duduk saja. Dengan jaket oranye terang dan sedekap di dada. Bagaimana kabarmu sekarang? Kita memang tidak saling mengenal. Namamu pun baru kuketahui setelah lama engkau menghilang dari bangku putih kesayanganmu itu. Aku sudah lama juga meninggalkan tempat itu. Tempat di mana bangku kesayanganmu itu berada. Kabarnya, bangku itu masih ada disana. Menjadi tempat favorit para mahasiswa berbagi jawaban tugas kuliah.

Kata beberapa kawan, kampus kita kian padat dan sesak. Parkirannya apalagi. Jarang sekali yang berlari-lari mengejar bus kota atau memeras keringat mengayuh sepeda seperti aku dan kawan-kawan dulu, alih-alih berjalan kaki. Ingat ruas jalan sempit di samping kampus itu? Sekarang sudah penuh berjejalan mobil-mobil “city car” model terbaru. Penjual siomay (yang piringnya lupa pernah tidak kukembalikan) itu entah tergusur kemana kini.

Apakah modernitas memang sebuah keniscayaan yang akan lumat menguarkan semua kesahajaan dan kesederhanaan? Apakah moernitas memang sebuah ruang tanpa batas waktu dan ujung pangkal? Mengapa tak hidup begitu saja, just like that, tanpa harus menghadapi sekian perulangan dan eskalasi zaman baru?

Bagaimana denganmu? Masihkan jaket oranye itu setia kau kenakan? Karena kalau tidak, wajar jika aku tidak akan mengenalimu jika barangkali bertemu di jalanan. Masih ingat ceritaku tentang Cakrawala? Kami sudah tersebar kini. Arsyad sibuk di Kalimantan dengan usaha konveksinya. Ariani masih setia di Jogja, mungkin membuka klinik. Ivan kabarnya ada di Jakarta. Fajar? Entah dimana ia gerangan. Kata beberapa kawan, ia tak lagi mau melanjutkan studinya. Semua penjaja dan pengejar mimpi. Mimpi akan cakarawala yang menyibakkan rembulan penuh itu. Impian kami tak pernah terwujud memang, secara bersama-sama. Namun, ia akhirnya bisa kumunculkan saat sang purnama itu ada dalam genggamanku. Purnama yang memerah, semerah garis cakrawala yang kami guratkan bersama.

Riu,
Seperti halnya malam dan siang yang berbatas, begitu pula barangkali isi hati dan otak manusia. Seolah mengikuti garis alamnya. Setiap manusia pasti menelusuri dunia ini dengan bersandar pada hukum alamnya, gravitasi. Maka, seharusnya pula ia berbuat serupa demi menjaga kestabilan hidupnya. Berselaras dengan semesta. Jangan mengkontra, karena itu berarti membalikkan hakikat kemanusiaan yang sejati.

Riu,
Cakarawala sudah lama bubar, lazuardi juga. Masih ingat kan? Lazuardi yang terlambat kutemukan itu. Ia hidup nyaman damai kini. Aku selalu berharap ia adalah engkau. Namun tentu berbeda. Lazuardi yang selalu nampak cerah meski dunianya begitu biru. Aku senang sudah ada yang mendampinginya kini. Membuat birunya benar-benar biru langit sore.

Dimanapun engkau kini, telah kutangkap jelas pertanda-pertanda yang kau kirimkan dulu, tanpa sengaja. Jangan lupa, selalu kenakan jaket oranye itu. Sekarang musim hujan. Kenakan juga tudungnya jika gerimis mulai menghias. Sampai jumpa di bangku putih kenangan. Entah kapan.

Ciganjur,2007
Tribute to Cakrawala, Fa, and Lusy Riu that never exist in fact

Senin, 05 November 2007

LEMPOK DUREN, TIMPHAN, DAN KACANG DISCO

`the esfand`

Selemah – lemah manusia adalah orang yang tak bisa menemukan sahabat. Lebih lemah dari itu adalah orang yang menyia-nyiakan sahabatnya. (Ali Bin Abi Thalib)

Berkawan barangkali memang sudah jadi tabiat asli setiap kita. Seperti halnya tabiat untuk juga saling mengkontra. Materi versus anti materi. Dulu sekali, aku punya seorang sahabat kecil, Ruri namanya. Entah bagaimana kabarnya kini. Setelah keluargaku pindah ke lain pulau, aku tak pernah lagi berjumpa dengannya. Sejak itu, berkawan dan bersahabat menjadi suatu keasyikan dan pelipur tersendiri bagiku.

Luar biasa, memang, arti seorang sahabat dalam hidup ini. Ia bisa menjadi motivator utama dalam setiap jejak langkah kita. Meski, terkadang sahabat juga bisa berbalik ulang menjadi sosok utama yang menghancurkan kita. Maka, wajar jika Muhammad Sang Pembebas mengisyaratkan dalam petuahnya bahwa sosok sahabat kita adalah cerminan diri kita. Memiliki sahabat pasti berjuta rasanya. Manis pahitnya percis miniatur kehidupan.

Ramadhan dan Lebaran kali ini cukup istimewa bagiku. Selain karena baru kali ini Lebaran kunikmati jauh dari kampung halaman, ada banyak tanda cinta dari sahabat jauh yang menyapa dan menemani hari-hari bahagia itu. Menjelang Ramadhan, datang kiriman tak terduga dari Makassar. Beragam pernak-pernik khas Negeri Anging Mamiri untukku dan suamiku, serta dua bungkus kacang disco. Tak seberapa, namun pasti dipenuhi doa dan ketulusan. Padahal belum lama aku mengenal kawan ini. Lebaran tiba, datang lagi dua paket dari sahabat di seberang. Paket pertama adalah dua bungkus lempok duren dan sekaleng penganan lebaran dari kawan di Pontianak. Ia amat tahu kalau aku termasuk pecinta durian yang akut! Aku pun belum lama akrab dengan kawan ini. Tak lama kemudian, datang lagi satu paket kue timphan dari kawan di Aceh. Sungguh, begitu membuatku membiru syahdu. Kue timphan adalah penganan lebaran khas masyarakat Aceh yang tepung beras bahan pembuatnya harus ditumbuk sendiri agar terasa nikmat. Paket dari “Sang Jendral” Kamaruzzaman. Kue buatan emaknya itu terasa amat nikmat. Berbungkus daun, dan yang pasti berbungkus persaudaraan.

Di tengah berbagai situasi yang melingkupi masing-masing kawanku itu mereka masih meluangkan waktu dan materi untuk mengirm paket-paket cinta itu. Padahal aku mengenal mereka lewat chating di YM saja. Persamaan diantara kami cuma satu, kecintaan pada Islam yang mendalam. Jarak dan perbedaan kultur terasa lenyap ketika kami sama-sama meneguhkan hati untuk berusaha menjadi pribadi yang senantiasa berbuat kebaikan bagi sekitarnya.

Hemm..nikmatnya penganan itu masih terasa hingga kini, sebab bukan sekedar lidah yang merasa, namun juga hati.

Ciganjur#04#2007

PS: Na, Uwie, Maruth, thx a lot guys. Its really mean to me…

Senin, 29 Oktober 2007

MELODISME: IDEOLOGI SIKAP OTAK

`the esfand`

Jaman baru barangkali memang menghadirkan beragam pilihan prinsip hidup. Ideologi. Bukan lagi sekedar yang biasa kita jumpai di buku-buku sejarah atau pun siaran berita di televise. Serpihan ideologi-ideologi baru ini menyusup dengan licinnya ke setiap ruang hidup kita. Sampai-sampai tidak ada satupun sikap manusia yang tanpa ideologi.

Ini cuma salah satunya saja.

Kalau dilihat di KBBI edisi ke tiga, kata “melo” merupakan ucapan singkat dari melodrama atau melodramatis yang berarti bersifat menggetarkan perasaan hati yang sentimental. Lets say, melodisme. Sebagai salah satu ideologi jaman baru, melodisme cukup laris di pasaran. Beragam produk yang berakar melodisme dijamin laku keras, cetak ulang bahkan. Sebut saja industri sinema, musik, fashion, perbukuan, semua mengedepankan gurat-gurat melodisme dalam sentuhannya.

Melodramatikal ini akhirnya merasuk pula pada sikap-sikap para konsumennya di realita hidup yang sebenarnya. Maka, mulailah cinta berbalut melodisme semu menjadi seolah-olah penguasa jagad. Alih-alih cinta hakiki yang humanis, hanya sekedar cinta anti sexist berlapis egoisme. Melodramatikal ini pun menjadikan anak bangsanya semakin lemah jiwa.

Melodisme akhirnya mulai menjadi egosentris baru. Setiap individu hidup untuk dirinya sendiri. Selebrasi dikejar untuk kepuasan sendiri. Hidup seolah hanya butuh entertain-entertain yang tiada habisnya. Lingkungan sekitar dianggap hanya pelengkap kepuasan pribadi semata.

Ciganjur, 27#10#2007

Kamis, 18 Oktober 2007

DIGLOSIA AMNESIATIC



foto: doc pribadi
`the esfand`

Pernah gak kamu dengar celetukan seperti ini, ”Yah, cantik-cantik kok logatnya ngapak ya?” untuk mengomentari seorang gadis yang cantik tampilan fisiknya, namun dialek yang digunakan dalam berbicara adalah dialek khas masyarakat Tegal, Kebumen, Cilacap, Banyumas, dan sekitarnya yang sering disebut dialek ”ngapak”. Gadis tersebut biasanya akan dipersepsikan sebagai seorang yang ndeso, sederhana, tidak luas wawasannya, serta segla persepsi minor lain yang biasa dilekatkan pada gadis-gadis desa lainnya.

Bandingkan dengan seorang gadis dengan tampilan fisik yang sama, berbicara hal yang sama, ragam bahasa Indonesia yang sama, namun menggunakan dialek ala Jakarta. Maka, subyek tutur tersebut pastilah akan dipersepsikan sebagai seorang gadis yang modern, gaul, dan dianmis.

Gak adil banget emang kesannya, tetapi hal semacam ini emang masih sering dan biasa terjadi di masyarakat kita. Dalam istilah kebahasaan, peristiwa bahasa seperti ini disebut ”Diglosia” yang artinya sebuah situasi yang menempatkan variasi bahasa tertentu dalam peran yang lebih tinggi dibanding variasi bahasa yang lain.

Pada mulanya, aku yakin kalau sebenarnya bahasa tercipta semata-mata sebagai alat berkomunikasi, agar para manusia bisa saling memahami maksud hati secara riil. Lambat laun bahasa mulai mengenal pakem dan teori, bahkan mulai mengenal kelas dan strata. Verbalitas maksud hati tidak lagi dianggap sempurna ketika inti tersampaikan dengan baik, namun juga harus disertai cita rasa yang tidak kalah tinggi kualifikasinya.

Kejujuran dan kedalaman maksud hati tidak lagi dihargai mentah-mentah saat ia diverbalkan. Ia haruslah bersalut sekian tingkatan cita rasa bahasa sehingga dipandang elok dan rupawan.

Di sekitar kita banyak dijumpai bahasa-bahasa yang mempunyai berlapis tingkatan subyek tutur, ataupun dialek bahasa yang melejit menjadi ordinat dari dialek bahasa yang lain. Komunikasi menjadi hal yang tidak semudah awalnya. Kini ia adalah bagian dari produk ”etika” yang mengenal kelas, seperti halnya produk-produk lain dalam pola interaksi masyarakat kebanyakan. Manusia tidak lagi dihargai secara subtansial, namun juga dari kemasan artifisialnya.


Ciganjur, 18#10#07 ditemani J-Rock dan Internasionale

Senin, 08 Oktober 2007

TENTANG TRADISI BACA DI KELUARGAKU



`the esfand`

Siapa yang menjejakkan kedua kakinya
Di tanah, akan berdiri tegak
(Tor Ǻge Bringsvǽrd)


Buku pertama yang kubaca adalah buku-buku seri belajar membaca di bangku Taman Kanak-kanak. Aku sudah lupa judul dan bentuknya. Selepas TK aku sudah lancar membaca, dan mulai menjadi bagian dari “book monster” di rumahku. Wildan dan Nia, kedua kakakku yang telah lebih dahulu menggilai buku. Bobo, Donald Bebek, Kawanku adalah beberapa majalah yang rutin menyambangi kami setiap bulannya. Aku paling suka kisah “Petualangan Pak Janggut” di majalah Bobo. Kisahnya tentang petualangan seorang kakek dengan buntalan ajaibnya yang berisi segala benda yang ia butuhkan. Membaca adalah bagian dari keseharian kami bertiga, dan buku adalah salah satu benda yang akan selalu kami bawa kemana-mana. Pulang sekolah, sebelum tidur siang, kami membaca. Bangun tidur, sambil nonton TV, kami membaca.Ketika makan, kami pun makan sambil membaca. Saat bepergian jauh ke tempat Nenek di Jawa, kami pun tak lupa menyelipkan beragam buku atau majalah favorit kami dalam tas yang dibawa Bunda. Bahkan, kadang kami pun membawa buku saat beraktivitas di kamar mandi!

Masuk Sekolah Dasar aku semakin keranjingan membaca. Apalgi di sekolah ada perpustakaan yang cukup bergam koleksi bukunya. Aku dan kedua kakakku, yang besekolah di SD yang sama, menjadi pengunjung dan peminjam setia perpustakaan sekolah. Saking terobsesinya dengan buku dan majalah, pernah suatu saat aku berkeinginan sekali untuk membuat majalah sendiri. Kuambil beberapa kertas bekas yang salah satu sisinya masih kosong, kugunting-gunting dan kulipat-lipat berbentuk majalah, lalu aku mulai memikirkan rubrik apa saja yang akan dimuat di majalahku itu. Majalah mungil tak berbentuk itu kuberi nama “Cembel” kepanjangan dari Cermat Belajar. Mulai dari kata pengantar sampai rubrik-rubrik sederhana lain kutulis dengan pensil. Yah, amat sangat sederhana tentu saja. Namanya juga tulisan tangan anak kelas dua SD. Setelah selesai, dengan bangga “majalah” itu kuperlihatkan pada kakak dan Bunda. Mereka hanya tertawa lucu melihat hasil karyaku yang acak-acakan itu. Esokknya, Bunda membelikannku dia buku catatan kecil agar aku bisa menuliskan apa yang ada dalam pikiranku disana.

Buku yang kami sukai di masa-masa itu adalah kisah Oliver Twist, Gullifer, Winnetou, petualangan Lima Sekawan, Trio Detektif, kisah Tono dan Tini, STOP. Kami bertiga memang sangat suka kisah-kisah petualangan. Buku-buku cerita berlatar lokal juga kami gemari. Saat itu buku semacam itu sangat mudah ditemui. Ceritanya sederhana, kental dengan nuansa etnik dan sarat akan pesan moral yang mendidik. Cerita yang kami suka adalah kisah petualangan “Si Alui” yang begitu membekas padaku sampai sekarang. Maka, semakin sesaklah lemari buku di rumah kami.

Terkadang, Bapak membawa kami ke perpustakaan daerah di kota Mataram. Di sana ada ruangan khusus untuk bacaan anak. Ruangannya cangat cozy, dengan karpet bersih yang menjadi alasnya serta dekor ruangan yang dibuat colorfull. Bunda selalu membekali kami dengan berbagai makanan ringan dan minuman yang boleh kami makan sambil membaca di perpustakaan itu. Biasanya kami ditinggal saja disitu, sembari Orangtua kami berbelanja keperluan lain di Mataram. Siang hari kami dijemput kembali. Sungguh sebuah konsep perpustakaan anak yang sangat menyenangkan. Anak-nak yang berkunjung tentu saja menjadi semakin betah untuk berlama-lama membaca disana.

Beranjak remaja, bacaan kegemaran kami mulai berlainan. Wildan mulai berlangganan Hi, sedang Nia mulai keranjingan Kawanku. Aku masih setia dengan Bobo dan Donald Bebek. Wajar saja, kedua kakakku sudah SMP sedang aku masih di bangku SD. Selanjutnya, buku memang akhirnya menjadi bagian dari kehidupan kami. Bukan sekdar hobi, namun sudah berubah menjadi kebutuhan.

Menginjak dewasa, tradisi itu sama sekali tidak berubah. Semakin mengakar malah. Kami sudah bisa membeli sendiri buku-buku yang kami sukai dari hasil kerja kami masing-masing. Wildan lebih masih suka buku-buku petualangan, komik-komik lucu, serta sejarah tempo dulu. Nia lebih suka novel, baik luar maupun dalam negeri. Belakangan ia mulai membaca dalam bahasa asing. Aku lebih suka membaca novel-novel sastra, kisah petualangan, buku-buku keislaman yang mencerahkan serta buku-buku bertema sosial-budaya.

Saat pulang kerumah, seperti Lebaran, biasanya adalah saat saling mengintip buku bawaan. Dari sana kami saling menakar perkembangan pemikiran satu sama lain. Sayangnya, Lebaran kali ini aku tidak pulang. Jadi penasaran, buku apa gerangan yang dibawa mereka berdua kali ini…


Ciganjur, 7#09#07

PS:
- Wildan, Lima Sekawanku balikinnnnn……hehehe. Kalau nemu STOP lama di Alun-alun Kidul, beliin buat aku ya
- Nia, colat Belgianya di paketin dunk buat aku….

Jumat, 21 September 2007

E-MAIL AJAIB



`the esfand`


Masih adakah yang rajin berkirim surat lewat pos? Bisa jadi masih, namun aku yakin lebih banyak yang menggelengkan kepala. Era internet dan telepon genggam memang telah lama menjadikan pengiriman pesan atau surat lewat pos tidak up to date lagi. Aku jadi ingat ketika baru saja pindah sekolah dari sebuah sekolah dasar di kota Denpasar ke sebuah sekolah dasar di pelosok desa di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Di Denpasar, aku punya sahabat dekat cowok, namanya Yogi. Hampir setiap pulang sekolah aku bermain dengannya. Main apa saja. Kadang kami berdua membuat boneka wol di rumahnya. Lain waktu kami mengendap-endap mencuri buah coklat masak di kebun eksperimen sebuah balai perkebunan pemerintah yang ada di dekat sekolah kami. Sering pula kami nongkrong di Matahari dan Gramedia untuk membaca buku cerita gratis atau memancing boneka di mesin otomat yang ada disana. Atau sekedar duduk mengobrol berdua di gerai Mc Donald sambil menjilati es krim cone yang kala itu harganya masih 500 rupiah.

Selayaknya gadis kecil yang kehilangan teman bermain, aku sedih ketika harus berpisah dengan Yogi. Pindah ke desa kecil yang jauh dari hingar-bingar perkotaan, alih-alih Mall. Namun, kami berdua berjanji untuk saling berkirim surat. Maka, jadilah kami sahabat pena sejak itu. Hampir setiap bulan surat-suratnya datang menyapaku. Isinya? Jangan ditanya, cuman seputar obrolan khas anak kelas 6 SD yang penuh kisah dan keceriaan. Aku tak tahu pasti kapan akhirnya aktivitas korespondensi itu berhenti tanpa sebab, seingatku sih sekitar kelas 2 SMP. Mungkin Karena masing-masing kami telah beranjak menjadi ABG tanggung yang mulai menemukan keasyikan-keasyikan khas dunia remaja. Setelah itu praktis tak pernah lagi aku memiliki sahabat pena serupa Yogi.

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya 23 Mei 2007, aku menemukan novel yang cukup unik di Gramedia. Judulnya “Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken” karangan Jostein Gaarder&Klauss Hagerup. Aku suka buku itu, selain karena berisi kisah dua bocah kecil yang bersahabat pena yang mencoba memecahkan sebuah kasus konspirasi dalam dunia perbukuan, buku itu banyak mengupas tentang berbagai teori penulisan, sastra, dan perbukuan yang menjadi dunia kerja dan hobiku.

Sampai akhirnya suatu hari, tercetus keinginan untuk melakukan hal yang sama yang dilakukan dua bocah kecil itu. Besahabat pena. Namun, aku memilih e-mail sebagai pengganti surat pos. Lebih cepat dan murah. Daftar contac id di Yahoo Messengerku segera kuteliti satu persatu, siapa kira-kira yang asyik dijadikan teman berkirim-kirim email ini. Akhirnya kupilih dia. Gadis. Usianya dua tahun dibawahku, masih kuliah. Chating-chating kami biasanya selalu dipenuhi keceriaan dan hal-hal lucu. Ketika akhirnya dia on line, langsung saja kuceritakan tentang buku itu dan keinginanku untuk menjadikannya kawan email. Dia menyatakan kesediaannya, karena menurutnya ini gal baru yang mengasyikkan. Maka, berawallah semua itu.

Banyak yang unik yang aku temukan pada diri adek kecil itu. Ia tinggal di kota Pontianak, Kalimantan Barat, sebuah pulau yang belum pernah kukunjungi hingga kini. berbagai lukisan kondisi sosial dan adat kutemukan dari cerita-cerita di emailnya. Pun geliat aktivitas keislaman yang menkadi aktivitasnya sehari-hari. Kerap kutemukan perbedaan pemikiran dan prinsip hidup yang mencolok diantara kami. Hal yang kemudian kuyakini sebagai praktik yang terbentuk dari habitus masing-masing yang pastilah diwaranai oleh berbagai faktor seperti keluarga, lingkungan sosial, adat, dsb. Namun, tak jarang pula kutemukan kenakalan dan keisengan yang sama diantara kami. Yang jelas, banyak warna dan hal baru yang kudapat dalam setiap emailnya.

Sebulan ini semua berubah. Menurutnya, yang akhirnya juga kuamini, ada nuansa yang berbeda di email-email terakhir kami. Nuansa kehambaran yang amat sangat, kehambaran karena manis sarinya telah berpindah kelain hati. Bagiku, inilah hidup. Perputaran rodanya kadang harus diterima tanpa syarat. Meski rasa-rasanya berat untuk tidak berendevouz lagi dengan keasyikan-keasyikan yang pernah singgah.

Bukankah hidup itu memang absurd konkret, kawan?

mutia esfand wrote:
23 Mei 2007

Ra yang baik,
Hehehe….ide yang aneh memang berbalas-balasan surat begini. Jadi berasa seperti jaman dahulu githu, ketika surat pos masih jadi primadona. Teknologi memang benar-benar menjadi mukjizat jaman modern ya? Di satu sisi kerjaan Pak Pos jadi lebih ringan, di sisi lain kesakralan surat sudah tidak lagi ada. Tidak ada lagi ibu yang rela menanti di depan rumah dengan penuh rindu menanti surat dari anaknya yang jauh merantau.
Tapi karena kesannya asyik aja…Ya seperti udah kujelasin pas chatting tadi siang. Gara-gara habis baca buku yang judulnya “Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken” karangan Jostein Gaarder&Klauss Hagerup. Ceritanya unik banget! Tentang konspirasi dalam dunia perbukuan yang berhasil dibongkar oleh dua orang saudara sepupu. Tar deh kalau dah selesai baca bukunya insyaallah kukirim ke Kalimantan .
Bagaimana rasanya tinggal di Jakarta ? Tidak ada yang special bagiku. Setiap kota pasti punya rasanya tersendiri. Bagiku kesannya masih datar saja, tidak semenarik kota-kota yang pernah kujadikan tempat tinggal sejak masih kecil. Tidak seeksotis Lombok , tidak sevariatif Denpasar, tidak seajaib Nganjuk, dan tidak seromantis Jogja. Yah, mungkin karena belum begitu lama tinggal disini. Sebenarnya Jakarta kota yang cukup menarik, cuman karena aura wibawanya tertutupi oleh kemacetan yang begitu menyebalkan, egosentris yang terkadang menyesakkan, dan polusi udara yang membuat wajahku jadi berbintang-bintang…hahahaha…..
Kita belum kenal lama ya?hehe…gak masalah. Dunia juga tidak lama, apa salahnya berkenalan belum lama tetapi sudah berasa lama? Kok jadi serius ya? Padahal yang namanya muthia esfand itu jarang banget bisa serius!
Nah, aku sudah mulai goyang nih….ngantuk! habis pulang shoping sama menik di Plasa Depok, beli sepatu. Dalam sebulan ini aku beli sepatu baru dua kali, kenapa coba? Ceritanya begini, sore-sore lagi jalan ke daerah Sawangan, Depok, sama menik. Aku duduk di belakang, diboncengin. Karena jauh aku duduk cowok. Ternyata pas nyampe tempat, sol sepatuku di bagian tumit meleleh kena knalpot! Hahaha…..padahal dah sengaja beli sepatu yg harganya 100 ribuan biar awet. Yah, terpaksa beli sepatu baru deh…….harganya 150 ribuan, biar lebih awet juga. Nah, dua hari yang lalu aku jalan lagi sama menik, diboncengin lagi, duduk cowok lagi. Kejadian lagi! Sol sepatu baru itu melelh lagi. Jadi mikir, apa harus pake sepatu kayu or sepatu kaca ya biar gak leleh…hehehe…yaudah tadi beli sepatu baru lagi, harganya 40 ribuan aja yg sekarang.
Sebegitu aja dulu, Ra (kuambil dari id-mu Bara, gak apa-apa kan ………). Sudah benar-benar goyang karena ngantuk. Semoga esok adalah kesempatan untuk sekali lagi mencoba menjadi lebih baik.
Au revoir!


NB: jangan lupa, balasnya langsung dilanjutin dibawah sini, jadinya bakalan kesambung terus.

NBB: ada puisi singkat karya penyair dari eropa utara, Tor Ǻge Bringsvǽrd
Siapa yang menjejakkan kedua kakinya
Di tanah, akan berdiri tegak


Salam Damai,
Lusy Riu/Muthia Esfand/Muthia Esfandiari

Bara menulis:

He3 juga deh, Mb Thia yang gedubrakan. emang kedengaran konyol kali ya, surat2an begini. Tapi seru juga, biar tau kayak apa sih,mb thia.
O ya mb, tau gak kenapa aku kasi nama bara shafiyyah, sebenarnya bara shafiyyah itu kan nama tokoh kartun di majalah Annida. Trus, aku fans juga sama ummu shafiyyah, salah satu istri baginda Rasulullah. Temen2 pada latah jadinya, pada manggil, Bara, Shafi, Fiya..he2..padahal dah kujelasin, just call me “bani”. Begitu , Mb Thia.
Seperti aku tulis di fs, aku sejujurnya bosen juga di pontianak . Dari lahir juga disini. Keluarga juga di pontianak rata2, kalaupun ada kerabat di jawa n pulau lain, itu mah dah jauh banget silsilah keluarganya, istilah kasar pontianak nya:”keluarga sepuluh kali terajang”.ha3, kasar banget kan , o ya, aku jg suka liat orang jawa, jogja, solo, n sunda kalo mereka ngomong tuh, lembut banget. Gak kayak orang Pontianak . Meski gitu, toh gak semua begitu kan . Seperti kata Jalaluddin Rakhmat yg menulis ttg intelektual kuldesak(kesalahan 2 berpikir)salah satunya, meng-generalkan kesalahan. Kalo di bilang orang madura itu galak2, tapi gak semua orang madura galak. Intinya sih, begitu lah karakter masing2 suku beda.
Selain itu, yg buat aku iri dgn daerah” jawa adalah, sentralisasi pendidikan di jawa. Nyadar kan , kalo daerah2 berpotensi SDA, dananya juga selalu ngalir ke kota melulu, itu juga yg buat daerah luar jawa tertinggal dari segi pembangunan dan pendidikan. Mungkin Kalimantan yg kaya dengan kelapa sawitnya, emasnya, buah jeruknya dan banyak lagi, cuma dapet 10% nya kali!Makanya,kalo ada orang lulusan jawa datang ke Pontianak , kesannya gimana gitu. Bisa dipastikan gampang cari kerja n prestasi nya bisa di acungin jempol dah. Apa sih yang di hasilkan oleh kota Jakarta , bandung , semarang , depok, tangerang, bekasi(jadebotabek dunks..he).
Dari bincang-bincang dengan anak kammi, emang di akui, kalo ngomongin masalah siyasi, kalbar jauh deh. Apalagi kalo baca milis kammi, jarang kan anak kalbar ikutan ngisi diskusi di milis. Merasa rendah diri?mungkin iya kali ya.
Ah, kok jadi ngomong ngelantur begitu ya..hihi3. asik juga, bicara dengan seorang penulis di dunia virtual begini. Minimal, aku jadi nambah kosakata bahasaku.
Ngomongin ttg sepatu, aku juga mengalami hal yg sama. 2 bulan yg lalu beli sepatu seharga 99rb perak!aslinya sih 198rb, krn diskon 50%, jd bisa beli dgn harga setengahnya. Sekarang mah, lagi kanker alias kantong kering. Maklum, kantong mahasiswa. Jadi nya sekarang pake sepatu kets terus. Sepatu lama tuh, tp dah 1 tahun masih tahan, belinya juga mahal dulu, 70 rb.he:D
Sekarang jadi jarang banget pake baju yg nge-akhwat gitu, lebih sering tampil tomboy, rok ala tentara, gak pernah pake bahan kain lagi, baju juga begitu, yang kaos, kemeja.
Dah ya, mb, bukan karena ngantuk sih, tapi asik baca milis2 kammi. Dulu2 mah, aku anti sm politik, senengnya baca dunia pendidikan. Jadi, kalo browsing ,bukanya ttg isu2 pendidikan terbaru gitu
Masih banyak cerita dari kota Borneo ! Salah satu kota di negri yang terkoyak. Indonesia !
Salam,
BaraShafiyyah
Manusiayangjatuhbangundalamberjuang

cieeeeee...jd serius juga jadinya Mb





---sory dek, inilah dunia....---